TERBARU

Pendidikan

UBBG Latih Warga Gampong Baet Olah Pangan Lokal Jadi Makanan Kering Tahan Lama

ORINEWS.id, ACEH BESAR – Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) mendorong masyarakat Gampong Baet, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, memperkuat ketahanan pangan dengan memanfaatkan potensi pangan lokal.

Upaya tersebut dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Penguatan Ketahanan Pangan Pascabencana melalui Pelatihan Produksi Makanan Kering Tahan Lama Berbasis Pangan Lokal Aceh”.

Program yang mulai dilaksanakan pada 15 Juni 2026 itu mendapat dukungan pendanaan BIMA dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Program tersebut mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah gampong, dan masyarakat untuk memperkuat kesiapan pangan warga, terutama dalam menghadapi kondisi pascabencana.

Kelompok PKK Gampong Baet menjadi mitra sasaran dalam program tersebut dengan jumlah anggota 10 orang. Kepala Gampong Baet, Azhari, A.Md., turut mendukung pelaksanaan kegiatan.

“Program ini sangat baik bagi masyarakat karena memberikan keterampilan yang bisa langsung diterapkan. Pangan yang tersedia di sekitar kita tidak hanya untuk dikonsumsi saat itu, tetapi juga dapat diolah dan disimpan sehingga menjadi cadangan pangan keluarga,” ujar Azhari.

Pelatihan dilakukan secara langsung, mulai dari pemilihan dan persiapan bahan, pengolahan, sanitasi dan keamanan pangan, pengeringan, hingga pengemasan dan penyimpanan.

Dengan pendekatan praktik, masyarakat tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung mencoba setiap tahapan pengolahan pangan.

Salah satu teknologi yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah alat pengering pangan berbasis tenaga surya atau solar dryer. Teknologi tepat guna ini diharapkan dapat membantu masyarakat melakukan proses pengeringan secara lebih higienis dan efisien tanpa sepenuhnya bergantung pada listrik.

Pengeringan menjadi salah satu metode untuk memperpanjang daya simpan pangan. Bahan pangan yang sebelumnya mudah rusak dapat diolah menjadi produk kering sehingga lebih mudah disimpan dan dimanfaatkan kembali.

Program tersebut menargetkan masyarakat mampu mengoperasikan solar dryer sederhana, rak pengering higienis, serta alat sealer kemasan. Selain itu, kegiatan diarahkan untuk membentuk kader pangan desa dan meningkatkan kemampuan kelompok dalam memproduksi pangan kering secara berkelanjutan.

Ketua tim pelaksana, Meriza Faradilla, M.Pd., bersama anggota tim Anggi Susilawati, S.Pd., M.Pd., dan Bd. Nelva Riza, SST., M.Kes., merancang kegiatan dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama.

Pendampingan dilakukan secara bertahap. Setelah pelatihan, masyarakat tetap diarahkan untuk menerapkan keterampilan yang telah diperoleh, termasuk menjaga keamanan pangan, melakukan pengemasan, mengelola stok, dan mengembangkan kegiatan kelompok.

“Tujuan akhirnya bukan hanya membuat masyarakat bisa menghasilkan makanan kering. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan mereka untuk mengelola pangan sendiri, sehingga ketika menghadapi kondisi darurat, mereka memiliki pilihan dan cadangan pangan yang dapat diandalkan,” kata Meriza.

Dukungan pendanaan BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memungkinkan pengetahuan, keterampilan, dan teknologi tepat guna yang dikembangkan perguruan tinggi diterapkan langsung di tengah masyarakat sesuai dengan potensi dan kebutuhan lokal.

Program tersebut juga mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber daya ekonomi dan sosial. Masyarakat tidak hanya diarahkan memiliki cadangan pangan, tetapi juga berpeluang mengembangkan produk pangan lokal yang memiliki nilai tambah.

Melalui kolaborasi antara UBBG, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Pemerintah Gampong Baet, serta kelompok masyarakat, program ini diharapkan dapat terus berjalan setelah rangkaian pendampingan selesai.

Ketahanan pangan di Gampong Baet diharapkan tidak hanya bergantung pada bantuan dari luar. Pemanfaatan pangan lokal, keterampilan masyarakat, dan teknologi tepat guna menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pangan, terutama ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat pascabencana.[]

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.