TERBARU

Entertainment

Puisi Esai L K Ara: Ketika Didong Mencatat Bencana

Arsip tidak selalu ditulis dengan tinta.

Di Gayo, sebagian sejarah ditulis dengan suara.

Malam 10 Oktober 2026, Banda Aceh akan mendengar Gayo.

Bukan dari buku.

Bukan dari laporan yang tersimpan di atas meja.

Tetapi dari suara Ceh yang menghidupkan kata di tengah malam.

Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, SE, yang akrab disapa Dek Fadh, dijadwalkan membuka perhelatan itu.

Ia membuka panggung.

Tetapi sesungguhnya, yang dibuka malam itu bukan hanya pertunjukan.

Ada ruang bagi suara masyarakat.

Ada ruang bagi ingatan.

Ada ruang bagi syair untuk berbicara tentang keadaan tanah Gayo.

—

Dua klop akan berhadapan:

Kebinet dari Aceh Tengah,

dan

Sriwijaya dari Bener Meriah.

Mereka membawa syair masing-masing.

Mereka akan berbalas kata dan irama, tetapi juga membawa cerita dari tanah tempat mereka berpijak.

Dan di balik semua itu, ada sebuah pertanyaan:

Apa yang terjadi setelah air bah pergi?

—

Banjir telah surut.

Lumpur mengering.

Rumah-rumah mulai dibersihkan.

Jalan diperbaiki.

Jembatan dibangun kembali.

Tetapi bencana tidak selalu selesai ketika air menghilang.

Ada kehilangan yang tinggal di dada.

Ada jalan yang belum pulih.

Ada jembatan yang masih menunggu.

Ada keluarga yang menghitung kembali apa yang tersisa.

Dan ada pertanyaan yang belum memperoleh jawaban.

—

Maka, Didong datang membawa ingatan.

Ceh tidak hanya merangkai bunyi.

Ia merangkai peristiwa.

Apa yang dilihat mata disimpan dalam kata.

Apa yang dirasakan masyarakat dititipkan kepada syair.

Apa yang mungkin hilang dari berita, dapat tinggal dalam Didong.

—

Di sinilah Didong menjadi arsip.

Bukan arsip yang diam di dalam lemari.

Bukan arsip yang berdebu di rak perpustakaan.

Tetapi arsip yang bernapas.

Arsip yang menyanyi.

Arsip yang bertanya.

Arsip yang kadang mengkritik.

Ketika pemerintah membangun, Didong mencatat.

Ketika pembangunan terlambat, Didong bertanya.

Ketika masyarakat bersyukur, Didong mengucap syukur.

Ketika masyarakat gelisah, Didong menyuarakan kegelisahan.

Di situlah seni bertemu kehidupan.

—

Dahulu, leluhur Gayo tidak memiliki kamera digital.

Tidak memiliki media sosial.

Tidak memiliki drone untuk merekam jejak banjir.

Tetapi mereka memiliki ingatan.

Dan ingatan mencari jalan untuk bertahan.

Maka lahirlah syair.

Maka bernyanyilah Didong.

—

Barangkali, seorang anak puluhan tahun lagi akan bertanya:

“Bagaimana bencana itu terjadi?”

Kita mungkin tidak lagi menemukan semua berita.

Foto bisa hilang.

Dokumen bisa rusak.

Tautan internet bisa mati.

Tetapi mungkin sebuah syair masih tersimpan di kepala seseorang.

Lalu dinyanyikan kembali.

Dan masa lalu kembali membuka pintunya.

—

Karena itu, Didong bukan sekadar pertunjukan.

Ia adalah ingatan kolektif.

Ia adalah catatan masyarakat.

Ia adalah suara yang berjalan dari mulut ke telinga, dari generasi ke generasi.

Dan selama masih ada Ceh yang mau bernyanyi, sebagian sejarah belum kehilangan rumahnya.

—

Malam 10 Oktober di Banda Aceh, ketika lampu panggung dinyalakan, jangan hanya mendengar irama.

Dengarkan apa yang disimpan di balik kata.

Dengarkan suara sungai.

Dengarkan suara tanah longsor.

Dengarkan suara rumah yang pernah diterjang air.

Dengarkan suara masyarakat yang menunggu jalan dan jembatan kembali tersambung.

Dengarkan suara Gayo yang sedang mencatat zamannya.

—

Sebab bencana boleh berlalu.

Air boleh surut.

Lumpur boleh kering.

Bangunan boleh kembali berdiri.

Tetapi ingatan jangan dibiarkan ikut hanyut.

Sebab ketika Didong menyimpan bencana, yang diselamatkan bukan hanya syair—

melainkan ingatan sebuah masyarakat.

—

CATATAN KAKI

[1] Didong Jalu Semalam Suntuk dijadwalkan berlangsung Sabtu, 10 Oktober 2026, mulai pukul 20.00 WIB di Gedung Tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh, Banda Aceh. Pertunjukan mempertemukan Klop Kebinet dari Aceh Tengah dan Klop Sriwijaya dari Bener Meriah.

[2] Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, SE, yang akrab disapa Dek Fadh, dijadwalkan menghadiri sekaligus membuka perhelatan tersebut. Bupati Bener Meriah juga dijadwalkan hadir, sementara sejumlah kepala daerah lainnya masih dalam tahap konfirmasi.

[3] Menurut keterangan panitia, kedua klop tidak hanya akan beradu kepiawaian dalam merangkai syair, tetapi juga menyampaikan informasi aktual mengenai kondisi daerah masing-masing, terutama persoalan penanganan pembangunan pascabencana banjir di kawasan Gayo.

[4] Didong merupakan kesenian tradisional Gayo yang memadukan sastra lisan, vokal, gerak, dan tepukan tangan. Dalam perkembangannya, Didong menjadi ruang ekspresi masyarakat untuk menyampaikan nasihat, nilai sosial, pengalaman, serta berbagai persoalan kehidupan.

[5] Istilah “Didong sebagai arsip” dalam tulisan ini digunakan dalam pengertian kultural, bukan arsip administratif. Yang dimaksud adalah kemampuan tradisi lisan menyimpan pengalaman, pengetahuan, nilai, peristiwa, dan ingatan kolektif masyarakat melalui syair.

[6] Karena itu, ketika persoalan pascabencana dibawa ke panggung Didong, syair dapat menjadi rekaman kesaksian masyarakat pada zamannya. Peristiwa yang dinyanyikan hari ini dapat menjadi ingatan bagi generasi yang belum mengalaminya.Strukturnya sekarang lebih mengalir dan tidak terlalu repetitif, sementara nuansa puitisnya tetap dipertahankan.[*]

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.