ORINEWS.id, BANDA ACEH — Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh bersama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh menggelar survei dan gotong royong atau meuseuraya di empat situs cagar budaya di Kota Banda Aceh.
Kegiatan yang berlangsung pada 4–5 Oktober 2026 tersebut merupakan bagian dari rangkaian Milad ke-63 UIN Ar-Raniry. Selain membersihkan kawasan situs, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa untuk mengamati secara langsung kondisi sejumlah tinggalan sejarah.
Ketua Prodi SKI UIN Ar-Raniry, Ruhamah, mengatakan kegiatan lapangan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa sekaligus upaya menumbuhkan kepedulian terhadap warisan sejarah Aceh.

“Sejarah tidak hanya dipelajari melalui buku dan ruang kelas, tetapi juga dapat dipahami melalui tinggalan sejarah yang ada di tengah masyarakat,” kata Ruhamah.
Empat situs yang dikunjungi yakni Situs Makam Syahbandar Mukhtabar Khan di Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Raja; Situs Makam Raja Reubah di Gampong Lamlagang, Kecamatan Banda Raya; Situs Makam Tuan Maqdum di Gampong Bitai, Kecamatan Jaya Baru; dan Situs Makam Jeurat Manyang di Gampong Blang Cut, Kecamatan Lueng Bata.
Di setiap lokasi, peserta melakukan pengamatan terhadap kondisi situs dan lingkungan sekitar. Mereka juga membersihkan kawasan situs dari material yang mengganggu kebersihan.
Menurut Ruhamah, kegiatan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk membersihkan situs. Prodi SKI juga ingin mendorong mahasiswa terlibat dalam pendataan, dokumentasi, penelitian, hingga edukasi kepada masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada kegiatan gotong royong dan pembersihan situs saja. Ke depan, kami ingin mendorong mahasiswa untuk lebih aktif melakukan pendataan, dokumentasi, penelitian, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga situs-situs sejarah yang ada di Aceh,” ujarnya.
Ruhamah mengatakan kolaborasi dengan BPK Aceh penting untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam pendidikan, penelitian, pelestarian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia berharap kegiatan serupa tidak hanya dilakukan dalam momentum milad kampus, tetapi dapat berlanjut melalui pendataan situs, penelitian bersama, edukasi masyarakat, serta kegiatan pelestarian lainnya.
“Ketika kita menjaga situs sejarah, sesungguhnya kita sedang menjaga memori kolektif dan identitas masyarakat Aceh,” kata Ruhamah.
Salah seorang mahasiswa Prodi SKI, Difa Adzkia, mengatakan kegiatan tersebut memberinya pengalaman untuk melihat secara langsung situs sejarah yang selama ini dipelajari melalui perkuliahan.
“Dengan turun langsung ke lapangan, kami bisa lebih memahami bagaimana kondisi sebenarnya sebuah situs sejarah dan mengapa situs tersebut perlu dijaga,” kata Difa.
Ia menilai tradisi meuseuraya juga mengajarkan mahasiswa tentang kerja sama dan tanggung jawab dalam menjaga warisan budaya.
“Sebagai mahasiswa sejarah, kami memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga dan memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda,” ujarnya.[]










































































