TERBARU

Pendidikan

Cut Sitti Kamila, Lulus Kuliah di Dua Kampus dan Kuasai Bahasa Korea

ORINEWS.id, BANDA ACEH – Cut Sitti Kamila Muslim menjadi salah satu wisudawan UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan perjalanan pendidikan yang berbeda. Ia berhasil menyelesaikan studi di dua perguruan tinggi sekaligus, yakni Hukum Ekonomi Syariah di UIN Ar-Raniry dan Ilmu Komunikasi di Universitas Syiah Kuala (USK).

Kamila diwisuda pada Wisuda Gelombang III Tahun 2026 UIN Ar-Raniry yang berlangsung di Auditorium Prof. Ali Hasjmy, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Selasa (6/10/2026).

Tidak hanya meraih dua gelar sarjana, perempuan kelahiran 8 November 2003 itu juga mengembangkan kemampuan bahasa Korea selama menjalani perkuliahan. Di UIN Ar-Raniry, ia meraih IPK 3,80, sedangkan di USK memperoleh IPK 3,78.

Pada wisuda tersebut, Kamila dipercaya mewakili para wisudawan untuk menyampaikan kesan dan pesan.

Kamila merupakan putri Dr. Muslim Djuned, M.Ag dan Sitti Zahrah, S.Ag. Keputusan menjalani dua pendidikan tinggi bermula pada 2021, ketika pengumuman UTBK/SBMPTN dan UM-PTKIN hanya berselang sekitar dua hari.

Keluarganya saat itu menyarankan Kamila memilih bidang Syariah. Sebagian besar keluarga besarnya memiliki latar belakang pendidikan Syariah dan Hukum.

Namun, Kamila memilih menjalani keduanya.

Orangtuanya kemudian memberikan pilihan untuk mengambil dua pendidikan sekaligus selama ia merasa mampu menjalaninya. Kamila menyanggupi dan mulai membagi waktu antara dua kampus.

Jadwal kuliah yang bertabrakan menjadi bagian dari kesehariannya. Ketika menghadapi benturan jadwal, ia berdiskusi dengan program studi atau bagian akademik untuk mencari solusi, termasuk kemungkinan mengambil PKRS.

Jika tidak memungkinkan, Kamila berkomunikasi dengan dosen pengampu untuk mencari alternatif, termasuk mengikuti kelas lain yang diajarkan dosen tersebut.

Sejak awal perkuliahan, ia juga membuat perencanaan. Pada semester pertama hingga kelima, Kamila telah memperhitungkan waktu untuk mengikuti pertukaran mahasiswa, magang, hingga menyusun tugas akhir.

“Memang tidak semuanya berjalan sesuai rencana, tetapi dengan membuat perencanaan dari awal, saya menjadi lebih mudah menyesuaikan diri ketika ada perubahan,” kata Kamila.

Salah satu masa tersulit terjadi ketika jadwal ujian akhir dari dua kampus bertabrakan. Saat itu, Kamila masih tinggal di asrama atau ma’had UIN Ar-Raniry.

Ia harus berpindah dari UIN Ar-Raniry ke USK, kemudian kembali ke asrama dengan waktu yang terbatas.

“Tentu saya pernah merasa ingin menyerah. Saya sadar bahwa menjalani dua perkuliahan sekaligus bukanlah sesuatu yang mudah,” ujarnya.

Kondisi tersebut juga memengaruhi fisiknya. Menjelang akhir semester, kondisi fisik Kamila kerap menurun. Beberapa kali ia harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah menyelesaikan ujian akhir.

Sehari sebelum yudisium, ia bahkan sempat masuk rumah sakit. Setelah kondisinya membaik, Kamila kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

“Di balik proses menyelesaikan dua pendidikan ini, ada banyak perjuangan yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain,” katanya.

Menambah Pengalaman di Luar Kampus

Di tengah kesibukan menyelesaikan dua pendidikan, Kamila tetap mencari pengalaman di luar ruang kuliah.

Pada 2022-2023, ia mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) 2 di Telkom University. Saat itu, usianya baru 18 tahun dan untuk pertama kalinya merantau sendiri ke Bandung.

Jauh dari keluarga, Kamila belajar mengurus diri, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta bertemu mahasiswa dari berbagai daerah. Dalam program tersebut, ia memperoleh IPK 3,83.

Kesempatan belajar di luar kampus kembali diperolehnya pada Juni-Juli 2026 melalui FASStrack Asia: The Summer School 2026 di National University of Singapore. Dalam program itu, ia meraih capaian akademik 4,00.

Kamila juga terlibat dalam Aceh Youth Action bersama UNICEF Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, ia ikut memberikan edukasi dan sosialisasi mengenai kesehatan mental kepada remaja di sejumlah TPQ, dayah, dan panti asuhan di Aceh Besar.

Pengalaman lainnya diperoleh ketika menjalani magang di Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Di sana, ia mengelola konten media sosial serta menulis berita dan siaran pers mengenai keberhasilan masyarakat dalam merehabilitasi lahan gambut dan mangrove.

Di luar dua bidang studinya, Kamila juga mengembangkan kemampuan bahasa asing. Ia menguasai bahasa Korea, yang menjadi bagian dari minatnya untuk terus belajar dan membuka diri terhadap pengalaman baru.

Bukan Sekadar Gelar

Pengalaman menjalani dua pendidikan sekaligus kemudian menjadi bagian dari pesan Kamila ketika dipercaya mewakili peserta wisuda.

Dalam sambutannya, ia tidak hanya berbicara tentang nilai dan gelar, tetapi juga tentang keraguan, kegagalan, dan jalan hidup yang tidak selalu sama.

“We fell, we doubted ourselves, we took different paths, but somehow, we made it,” kata Kamila.

Menurut dia, kelulusan bukan hanya tentang nilai dan gelar. Ada kesempatan untuk belajar, keberanian mencoba, pengalaman gagal, dan kemauan untuk mencoba kembali.

“Dan hari ini, kita berdiri di sini bukan hanya membawa gelar, tetapi juga membawa rasa syukur karena pernah diberikan kesempatan untuk belajar, mencoba, gagal, mencoba lagi, dan akhirnya sampai di titik ini,” ujarnya.

Ia mengatakan perjalanan tersebut tidak selalu mudah.

“It was not always easy to manage two academic journeys at the same time,” katanya.

Namun, pengalaman itu membuat Kamila memahami bahwa kemampuan seseorang terkadang lebih besar dari yang dibayangkan.

“Perjalanan ini mengajarkan kita bahwa terkadang, kita mampu melakukan jauh lebih banyak dari yang kita kira,” ujarnya.

Setelah lulus, Kamila ingin mencari peluang kerja yang sesuai dengan kemampuan dan bidang yang dimiliki. Ia juga membuka kemungkinan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Saat ini, Kamila mengikuti program MagangHub Kementerian Ketenagakerjaan di Biro Rektorat Humas Universitas Syiah Kuala.

Ia berharap dua bidang ilmu yang dipelajarinya tidak berhenti sebagai dua gelar di belakang nama.

“Dua bidang ilmu yang saya pelajari tidak hanya menjadi dua gelar di belakang nama saya, tetapi juga menjadi bekal untuk melihat suatu persoalan dari dua sudut pandang yang berbeda dan memberikan manfaat dalam pekerjaan maupun kehidupan saya ke depannya,” katanya.

Ketika toga dikenakan, Kamila membawa lebih dari dua gelar akademik. Ada perjalanan dari satu kampus ke kampus lain, jadwal yang bertabrakan, pengalaman merantau sejak usia 18 tahun, kemampuan bahasa Korea, kegiatan sosial, hingga perjuangan menyelesaikan pendidikan di tengah berbagai tantangan.

Kini, dua gelar tersebut menjadi bekal bagi perjalanan berikutnya.

“This is not the finish line, this is the beginning of another journey.”

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.