ORINEWS.id, NATUNA – Di balik kabar tewasnya Rendi Apriyanto, pemuda asal Kabupaten Natuna yang dikabarkan gugur sebagai tentara bayaran Rusia di medan perang Rusia-Ukraina, tersimpan kisah pilu yang diungkap langsung oleh keluarganya.
Bukan sekadar soal perang, kepergian Rendi ke Rusia dilatarbelakangi niat mulia, iming-iming gaji besar, hingga kesulitan mengirim uang ke kampung halaman.
Ruskamal, ayah Rendi, menuturkan bahwa anaknya pergi ke Rusia bukan tanpa alasan. Ada niat mulia yang ingin diwujudkan Rendi, yakni memberangkatkan kedua orang tuanya untuk umrah.
“Rendi kan anaknya hobi dan pandai otak-atik motor, jadi pernah kami minta dia balek saja dan buka bengkel kecil-kecilan, tapi jawabnya nanti saja, sekarang fokus untuk memberangkatkan umroh ayah dengan mak dulu,” kenang Eniyanti, ibu Rendi, dengan mata berkaca.
Namun, niat tersebut harus ditempuh melalui jalan yang tidak mudah. Menurut Ruskamal, saat proses perekrutan, dirinya sempat dihubungi pihak Rusia untuk menandatangani sejumlah berkas sebelum Rendi resmi direkrut menjadi tentara di Rusia.
Setelah penandatanganan tersebut, Rendi sempat menunjukkan saldo di rekeningnya yang langsung terisi lebih dari Rp600 juta.
“Uang itu langsung masuk di rekening Rendi, Pak, anaknya sendiri yang menunjukkan ke kami,” kenang Ruskamal saat dikunjungi pada 29 September 2026.
Gaji yang jauh lebih besar dibandingkan penghasilannya di Indonesia disebut menjadi salah satu alasan Rendi dan tujuh warga Indonesia lainnya berangkat ke Filipina, kemudian menuju Rusia, untuk menjadi tentara bayaran.
Kontrak selama enam bulan dengan bayaran ratusan juta rupiah seolah menjadi jalan untuk mewujudkan impian keluarga.
Namun, kenyataan di lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Ruskamal mengakui bahwa mengirim sebagian uang tersebut kepada keluarga bukan perkara mudah.
“Itulah, Pak, meskipun gajinya besar, tapi dari sana payah sekali ngirim uang ke sini. Beberapa kali Rendi kirim, tapi setelah itu rekeningnya terblokir, sementara tempat Rendi susah sinyal dan jauh dari bank, sehingga kadang kalau mau kirim uang itu terpaksa minta tolong komandanya yang punya mobil dan sering ke perkotaan. Namun Rendi harus memberi uang lebih ke komandanya tersebut hingga Rp30 juta,” ungkap Ruskamal.
Hingga saat ini, uang yang berhasil dikirimkan Rendi kepada keluarga telah digunakan untuk membayar pendaftaran umrah sebesar Rp60 juta. Hal itu menjadi salah satu wujud nyata dari mimpi yang ia perjuangkan di tengah medan perang.
Rendi diketahui saat ini telah menjalani kontrak keduanya sebagai tentara bayaran di Rusia, setelah kontrak pertama selama enam bulan berakhir. Namun, dalam beberapa kali percakapan melalui telepon, ia sering mengatakan bahwa pada April 2027 mendatang ingin pulang ke Indonesia dan tidak melanjutkan kontraknya lagi.
Harapan itu kini tinggal harapan. Kabar tewasnya Rendi meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus membuka sisi lain dari fenomena warga Indonesia yang tertarik menjadi tentara bayaran di luar negeri.[]














































































