ORINEWS.id, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku sedang mempertimbangkan kemungkinan meningkatkan eskalasi perang melawan Iran. Hal tersebut disampaikannya dalam wawancara dengan media AS, Fox News, pada Minggu.
“Pertanyaan saya adalah, jika dan kapan saya akan menghancurkan seluruh negara itu? Sebaiknya mereka bersikap tertib,” kata Trump, dikutip Reuters, Selasa (22/9/2026).
“Hal-hal yang sangat besar akan terjadi dalam perang tersebut,” tambahnya, seperti dilansir CNBC.
Meski demikian, Trump mengatakan dirinya tetap “terbuka” untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Pezeshkian rencananya akan hadir dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York pekan ini.
Pernyataan tersebut bukan ancaman pertama yang dilontarkan Trump. Ia berulang kali menyampaikan kemungkinan eskalasi militer besar-besaran selama konflik yang bermula dari serangan AS dan Israel pada 28 Februari, tetapi belum merealisasikan usulan-usulan tersebut.
Pada April, Trump juga pernah melontarkan ancaman serupa. Kala itu, ia mengatakan “seluruh peradaban (Iran) akan musnah malam ini, dan tidak akan pernah bisa dipulihkan kembali”.
Sebelumnya, Komando Pusat militer Iran menyatakan bahwa setiap serangan baru akan memicu pembalasan berkelanjutan terhadap pangkalan dan kepentingan AS. Dikatakan pula bahwa sekutu regional Washington akan dianggap sebagai pihak yang terlibat dalam konflik.
Militer Iran menambahkan bahwa mereka memiliki informasi mengenai persiapan serangan, tanpa merinci lebih lanjut mengenai informasi tersebut.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan Iran harus terus berjuang sekaligus bernegosiasi untuk memukul mundur musuh-musuhnya dan mengukuhkan setiap pencapaian melalui diplomasi.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan akhir pekan lalu bahwa Teheran telah menyampaikan tujuh syarat kepada Washington untuk memulai perundingan.
Ia kemudian mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa syarat-syarat tersebut mencakup penghentian perang di semua front, pencairan dana Iran yang dibekukan, serta penghentian blokade angkatan laut AS. Qatar telah bertindak sebagai pihak penengah.
“Ancaman Trump tidak akan membuahkan hasil apa pun. Kami siap menghadapi perang yang menentukan,” ujar Rezaei.
Di tengah situasi tersebut, misi diplomatik AS di seluruh Timur Tengah mengeluarkan peringatan keamanan pada akhir pekan lalu. Badan tersebut mengimbau warga Amerika untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah risiko eskalasi lebih lanjut.
Peringatan itu juga menyoroti kembali pecahnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.[]












































































