ORINEWS.id – Empat dekade setelah pembantaian tersebut, para aktivis dari Italia, Argentina, dan gerakan solidaritas internasional berkumpul di pemakaman Sabra dan Shatila. Mereka menghubungkan kenangan tentang orang-orang yang terbunuh dengan genosida yang masih berlangsung di Palestina, Lebanon, dan kawasan yang lebih luas.
Hujan turun di sekitar pintu masuk pemakaman Sabra dan Shatila ketika para pelayat dan aktivis berjalan menuju makam. Sebagian dari mereka menangis di bawah langit kelabu. Perjalanan memasuki pemakaman itu membawa beban kenangan selama 44 tahun, seolah-olah orang-orang yang dibantai di tempat tersebut tidak pernah benar-benar meninggalkan lokasi itu.
Nama-nama mereka, pembunuhan yang terjadi, serta kesedihan keluarga mereka masih melekat di tempat tersebut. Para aktivis internasional bergabung bersama warga Palestina dan Lebanon untuk memperingati 44 tahun pembantaian tersebut.
Kenangan yang Tak Terpisahkan dari Masa Kini
Namun, bagi mereka yang datang dari luar negeri, peringatan tersebut bukan sekadar tindakan untuk mengenang masa lalu.
Bagi mereka, kegiatan itu merupakan pernyataan bahwa kenangan tetap tidak dapat dipisahkan dari kondisi saat ini.
Aktivis Italia Caterina Mari mengatakan tanggung jawab untuk mengingat Sabra dan Shatila telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia mengenang jurnalis Italia Stefano Chiarini yang berulang kali mengunjungi Lebanon dan membantu menarik perhatian terhadap pemakaman tersebut serta para korbannya.
“Sekarang di Italia kami meneruskan kesaksian tersebut,” kata Mari kepada Al Mayadeen English. “Sebagai anak muda, kami memiliki kewajiban untuk melakukan itu.”
Ia mengatakan kewajiban tersebut juga berkaitan dengan keterlibatan pemerintah-pemerintah Barat dalam mendukung “Israel”.
Tangan Berdarah yang Sama
Mari berpendapat bahwa para aktivis internasional yang berkumpul di Sabra dan Shatila tidak datang untuk menentukan bagaimana rakyat Palestina harus menjalani hidup, melainkan untuk berdiri bersama mereka yang melawan penindasan.
“Rakyat Palestina dan semua orang yang tertindas di dunia harus memilih sendiri,” katanya kepada Al Mayadeen English. “Kami bukan orang-orang yang datang ke sini dan mengatakan bagaimana mereka harus hidup.”
Bagi Mari, hubungan antara Sabra dan Shatila dengan agresi Israel di Asia Barat saat ini bersifat langsung.
“Pelakunya selalu sama,” katanya, merujuk pada pemerintah-pemerintah Barat yang mendukung “Israel”.
“Dan pembantaian di sini adalah pembantaian yang sama yang terjadi hari ini. Karena tangannya sama.”
Ia menambahkan bahwa para aktivis harus melakukan lebih dari sekadar memperingati para korban.
“Kami, sebagai saksi, harus menghentikan semua ini,” kata Mari. “Bukan hanya melakukan aksi, tetapi menghentikan semua ini.”
“Lebih Penting dari Sebelumnya”
Eulalia Millaret, aktivis Italia dari organisasi Don’t Forget Sabra and Shatila, mengatakan berlalunya waktu justru membuat upaya mengenang menjadi semakin mendesak, bukan semakin tidak relevan.
“Ini lebih penting dari sebelumnya saat ini,” tegasnya.
Bagi Millaret, mengingat Sabra dan Shatila juga berarti mengingat para korban pembantaian-pembantaian berikutnya.
“Kami tidak akan pernah melupakan, bukan hanya Sabra dan Shatila, tetapi semua pembantaian yang telah terjadi selama bertahun-tahun,” katanya kepada Al Mayadeen English. Ia merujuk pada genosida Israel di Gaza serta agresi Israel di Lebanon, terutama di Lebanon selatan, Beirut, dan kawasan pinggiran selatan ibu kota.
“Dan kami tidak akan pernah melupakan satu pun dari pembantaian tersebut dan siapa pun yang kehilangan nyawa, siapa pun para martir,” tambahnya.
Seruan Bersama untuk Memutus Hubungan dengan “Israel”
Millaret mengatakan para aktivis internasional juga bekerja di negara masing-masing untuk menekan pemerintah agar memutus hubungan dengan “Israel”.
“Kami selalu berusaha berjuang dengan pesan yang sama, menekan pemerintah kami untuk menghentikan segala bentuk hubungan dengan negara Israel yang melakukan genosida,” katanya.
Ia mengaitkan berlanjutnya agresi dengan keberadaan pendudukan Israel.
“Karena Israel masih ada. Itulah masalah utamanya. Pendudukan masih berlangsung,” tegas Millaret.
Menurut Millaret, para aktivis akan terus mendukung perlawanan baik di Palestina maupun Lebanon.
Dari Gaza ke Sabra dan Shatila
Bagi Vincenzo Fullone, aktivis Italia dari Freedom Flotilla, kedatangannya ke Sabra dan Shatila merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk berdiri bersama rakyat Palestina.
Fullone mengatakan kepada Al Mayadeen English bahwa ia ikut dalam misi Freedom Flotilla terbaru menuju Gaza dengan kapal Conscience dan ditangkap oleh “Israel” selama lima hari di Ketziot.
Ia mengenang tuntutan untuk membebaskan dokter Palestina Hussam Abu Safiya dan menyerukan agar masyarakat tidak melupakan para tenaga medis Palestina.
“Tolong, jangan lupakan Hussam. Jangan lupakan para dokter yang merawat anak-anak,” pintanya.
Fullone menambahkan bahwa ketika para aktivis dicegah mencapai Gaza, solidaritas mereka tidak berhenti.
“Kami berada di Lebanon hari ini karena jika mereka menghalangi kami menuju Gaza, kami datang ke Sabra dan Shatila karena orang Palestina juga ada di sini,” katanya.
Baginya, keberadaan warga Palestina di Lebanon merupakan bagian dari kisah pengusiran paksa dan pendudukan yang terus berlangsung.
“Orang Palestina berada di kamp pengungsi,” katanya. “Orang Palestina berada di bawah genosida di Lebanon.”
“Free Palestine”
Ketika ditanya pesan apa yang ingin disampaikan para aktivis internasional dengan berkumpul di pemakaman tersebut, Fullone menjawab singkat, “Free Palestine!”
Ia mengatakan para aktivis seharusnya belajar dari perlawanan rakyat Palestina, bukan berbicara atas nama mereka.
“Kami belajar perlawanan dari rakyat Palestina,” katanya. “Belajar tentang perlawanan karena Barat melupakan perlawanan.”
Fullone juga menghubungkan secara langsung pembantaian yang diperingati di pemakaman tersebut dengan agresi Israel di kawasan Asia Barat saat ini.
“Pikirannya sama. Terorisnya sama,” tegasnya.
Ia menunjuk pada pendudukan dan serangan Israel yang terus berlangsung di kota-kota serta wilayah Palestina, maupun di Lebanon.
“Mereka menduduki Palestina di Ramallah. Mereka menduduki Palestina di Jenin. Mereka menduduki Palestina di Gaza. Mereka menduduki Palestina di Lebanon,” katanya.
Kenangan sebagai Bentuk Perlawanan
Bagi aktivis Argentina Lissandro Brusco, pertemuan tersebut berakar pada gagasan bahwa masyarakat mempertahankan ingatan tentang pembantaian dan mengubah ingatan tersebut menjadi tindakan politik.
“Karena rakyat memiliki ingatan, karena rakyat memilih untuk melawan,” kata Brusco kepada Al Mayadeen English ketika ditanya mengapa para aktivis terus berkumpul di Sabra dan Shatila 44 tahun setelah pembantaian tersebut.
Ia menggambarkan pertemuan warga Palestina, Lebanon, dan aktivis internasional di Beirut sebagai bentuk penolakan untuk melupakan pembantaian atau berdamai dengan pihak-pihak yang menurutnya bertanggung jawab.
“Kami tidak melupakan, kami tidak memaafkan, kami tidak berdamai,” kata Brusco.
Pesannya tidak berhenti pada peringatan.
“Pesan bagi kita semua adalah jangan menyerah, ikuti jalan perjuangan,” katanya, seraya menunjuk pada rakyat Palestina serta masyarakat di Yaman, Irak, dan Lebanon.
Perjuangan yang Melampaui Palestina
Brusco memandang perjuangan saat ini melampaui Palestina dan menggambarkannya sebagai konfrontasi yang melibatkan imperialisme Amerika Utara dan entitas kolonial Israel.
“Hari ini pesannya justru adalah untuk tidak melupakan dan terus melanjutkan perjuangan,” tegasnya.
Baginya, makna peringatan tersebut bukan hanya mengenang mereka yang dibantai pada 1982, tetapi membawa ingatan tersebut ke masa kini.
“Bukan hanya untuk menuntut dan melakukan tindakan peringatan, tetapi untuk melanjutkan perjuangan ini,” kata Brusco.
Empat Puluh Empat Tahun Berlalu
Ketika hujan terus turun di sekitar pemakaman, peringatan tersebut mempertemukan orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang dan wilayah di luar Beirut. Aktivis dari Italia, Argentina, dan gerakan solidaritas internasional berdiri bersama warga Palestina, Lebanon, Iran, Irak, dan Yaman.
Posisi politik mereka berbeda dalam bahasa dan penekanan, tetapi wawancara mereka bertemu pada satu hal: Sabra dan Shatila tetap menjadi kenangan yang hidup bagi mereka, bukan sekadar bab yang telah ditutup.
Pemakaman tersebut menjadi tempat bertemunya kenangan dan aktivisme, tempat para korban 1982 dikenang bersama mereka yang terbunuh dalam genosida-genosida berikutnya.
Empat puluh empat tahun berlalu, Sabra dan Shatila tetap lebih dari sekadar kenangan bagi mereka yang kembali setiap tahun. Suara para penyintas, ingatan tentang mereka yang terbunuh, serta kesaksian para aktivis terus menjaga pembantaian tersebut dalam catatan publik, sekaligus menarik garis antara tragedi yang dikenang dan genosida yang masih didokumentasikan hingga hari ini.
Bagi mereka yang berkumpul di pemakaman tersebut, mengenang bukanlah titik akhir. Peringatan menjadi tuntutan agar para korban tidak dilupakan dan sejarah tidak dibiarkan terulang kembali.[]










































































