TERBARU

Internasional

Dua Tentara AS Tewas dalam Serangan Iran, Ternyata Pelajari Taktik Rudal dan Drone

ORINEWS.id – Dua dari tiga tentara Amerika Serikat (AS) yang tewas dalam serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Al-Muwaffaq Salti pada 17 Juli 2026 ternyata merupakan bagian dari unit pertahanan udara yang bertugas mempelajari pola serangan rudal dan drone.

Keduanya ditempatkan di Jerman dan terlibat dalam upaya militer AS mempelajari pengalaman perang Ukraina untuk menghadapi perubahan taktik Iran.

Temuan tersebut dimuat The New York Times dalam laporan yang diterbitkan pada Selasa dan dilansir Fars News Agency pada Rabu (12/8/2026).

Laporan itu mengulas bagaimana Iran mengembangkan taktik militernya selama perang, termasuk dengan memanfaatkan pengalaman dari perang Ukraina dan perang 12 hari pada 2025.

Serangan terhadap Pangkalan Udara Al-Muwaffaq Salti menjadi salah satu contoh perubahan taktik tersebut.

Menurut The New York Times, Iran mempelajari cara Rusia menghadapi sistem pertahanan udara dalam perang Ukraina dengan menggabungkan berbagai jenis serangan.

Dalam perang Ukraina, Rusia disebut lebih dulu menggunakan rudal balistik dan rudal jelajah untuk mengalihkan perhatian sistem pertahanan udara, kemudian mengerahkan drone menuju sasaran.

Pola serupa digunakan Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap sistem pertahanan udara AS.

“Dengan menggunakan rudal dan drone secara bersamaan, Iran membuat tugas pertahanan udara jauh lebih sulit,” kata Seth Jones, kepala bidang pertahanan dan keamanan di Center for Strategic and International Studies, kepada The New York Times.

Serangan ke Al-Muwaffaq Salti juga memperlihatkan persoalan yang dihadapi Pentagon dalam mengejar perubahan taktik tersebut.

CENTCOM selama beberapa bulan telah melibatkan para pakar militer yang mempelajari serangan rudal dan drone dalam perang Ukraina untuk membantu AS menghadapi pola serangan Iran.

Dua dari tiga tentara AS yang tewas dalam serangan pada 17 Juli tersebut merupakan anggota unit pertahanan udara yang berbasis di Jerman dan terlibat dalam program pertukaran pengalaman itu.

Bagi Pentagon, pengalaman perang Ukraina menjadi bahan untuk memahami cara menghadapi serangan gabungan yang semakin sulit ditangkal.

Namun, ketika dua personel yang menjalankan tugas tersebut justru tewas dalam serangan Iran, perkembangan itu sekaligus memperlihatkan betapa cepatnya perubahan medan perang.

The New York Times menilai perkembangan taktik Iran dalam perang terbaru turut menekan kemampuan pertahanan AS, termasuk persediaan rudal pencegat Pentagon.[]

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.