ORINEWS.id — Selama ini, para ilmuwan meyakini Bumi pada akhirnya akan hancur ketika Matahari mencapai akhir hidupnya. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kemungkinan yang berbeda. Bumi ternyata mungkin tidak langsung musnah ketika Matahari mati, meski planet ini diperkirakan sudah lama tidak layak dihuni.
Studi yang dikutip dari Phys.org, seperti dilansir Rabu (12/8/2026), mengungkapkan bahwa nasib Bumi ketika Matahari memasuki fase raksasa merah bergantung pada keseimbangan dua proses utama, yakni tarikan gravitasi Matahari dan kehilangan massa bintang.
“Nasib Bumi bergantung pada keseimbangan yang sangat halus,” tulis para peneliti, dikutip dari detiknet, Kamis (13/8/2026).
Matahari akan menjadi raksasa merah
Sekitar 5 miliar tahun lagi, Matahari diperkirakan kehabisan bahan bakar hidrogen di intinya. Kondisi tersebut akan membuat Matahari mengalami perubahan besar dan mengembang menjadi raksasa merah.
Pada fase ini, ukuran Matahari dapat membesar hingga ratusan kali lipat dibandingkan ukurannya saat ini. Perubahan tersebut akan berdampak besar terhadap planet-planet di sekitarnya, termasuk Bumi.
Namun, nasib Bumi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar Matahari mengembang.
Saat memasuki fase akhir kehidupannya, Matahari juga akan kehilangan sebagian massanya. Berkurangnya massa tersebut membuat tarikan gravitasi Matahari melemah sehingga orbit planet dapat terdorong semakin jauh.
Di sisi lain, interaksi gravitasi dan gaya pasang surut dapat menarik Bumi ke arah Matahari.
Dengan demikian, terdapat dua kemungkinan yang saling berlawanan. Jika kehilangan massa Matahari lebih dominan, orbit Bumi dapat melebar sehingga planet ini berpotensi menghindari kemungkinan ditelan Matahari.
Bumi mungkin selamat secara fisik
Model terbaru menunjukkan Bumi berpotensi lolos dari kemungkinan ditelan Matahari. Temuan tersebut berbeda dari anggapan sebelumnya yang menyebut Bumi hampir pasti akan musnah ketika Matahari mengembang menjadi raksasa merah.
Namun, lolos dari kehancuran secara fisik tidak berarti Bumi masih dapat dihuni.
Jauh sebelum Matahari mencapai tahap akhir kehidupannya, peningkatan energi yang dipancarkan Matahari akan membuat suhu Bumi terus meningkat.
Para ilmuwan memperkirakan kondisi tersebut dapat membuat lautan menguap dalam sekitar 1 miliar tahun. Efek rumah kaca yang semakin tak terkendali kemudian dapat mengubah Bumi menjadi planet yang kondisinya menyerupai Venus.
Artinya, kehidupan di Bumi kemungkinan besar telah punah miliaran tahun sebelum Matahari benar-benar mencapai fase akhir kehidupannya.
Nasib planet bergantung pada interaksi fisika
Penelitian ini memperbarui pemahaman mengenai evolusi bintang dan nasib planet yang mengorbitnya. Ketika sebuah bintang memasuki tahap akhir kehidupannya, tidak semua planet di sekitarnya otomatis mengalami kehancuran.
Nasib setiap planet bergantung pada interaksi kompleks antara kehilangan massa bintang, perubahan gravitasi, gaya pasang surut, serta perubahan orbit.
Dalam kasus Bumi, “keselamatan” yang mungkin terjadi hanya bersifat fisik, bukan biologis.
Dengan kata lain, Bumi mungkin masih tetap menjadi sebuah planet ketika Matahari mati. Namun, pada saat itu, Bumi kemungkinan sudah menjadi dunia yang tandus dan tidak lagi mampu menopang kehidupan.[]
















































































