TERBARU

Opini

Di Antara Kekeringan dan Kelimpahan: Membaca Dampak El Nino di Aceh

Oleh: Yohandes Rabiqy

Aceh hari ini tidak hanya menghadapi perubahan cuaca, tetapi sedang berada di tengah benturan fenomena iklim global yang dampaknya nyata hingga ke tingkat lokal. Ketika El Niño menguat dan diperkuat oleh Indian Ocean Dipole positif, curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Aceh, mengalami penurunan signifikan. Kondisi ini berdampak langsung pada sektor pertanian yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.

Di Aceh, dampak ini tidak bisa dianggap ringan. Banyak petani mulai merasakan penurunan produktivitas akibat kekurangan air, terganggunya pola tanam, hingga meningkatnya risiko gagal panen. Dalam skala nasional, produksi beras memang sudah menunjukkan penurunan dalam dua tahun terakhir, dan tren ini berpotensi berlanjut jika kondisi iklim ekstrem terus terjadi. Bagi Aceh yang masih memiliki basis ekonomi agraris yang kuat, tekanan ini berarti bukan hanya penurunan hasil, tetapi juga penurunan pendapatan masyarakat secara luas.

Namun, di sisi lain, terdapat dinamika berbeda yang terjadi di laut. Penguatan angin timur selama El Niño mendorong terjadinya upwelling, yaitu naiknya air laut dalam yang kaya nutrisi ke permukaan. Fenomena ini meningkatkan produktivitas laut, terutama di wilayah perairan yang memiliki karakteristik oseanografi tertentu. Bagi nelayan, kondisi ini dapat meningkatkan hasil tangkapan, khususnya untuk jenis ikan pelagis seperti tongkol dan tuna yang menjadi komoditas penting di Aceh.

Di sinilah muncul paradoks yang jarang dibahas. Ketika sektor pertanian di darat mengalami tekanan, sektor perikanan di laut justru memiliki potensi peningkatan. Namun, kedua efek ini tidak seimbang. Pertanian di Aceh menyerap tenaga kerja yang jauh lebih besar dibandingkan sektor perikanan. Selain itu, peningkatan hasil laut tidak secara otomatis meningkatkan kesejahteraan jika tidak didukung oleh infrastruktur seperti rantai dingin, akses pasar, dan stabilitas harga.

Akibatnya, keuntungan yang muncul di sektor perikanan belum tentu mampu mengimbangi kerugian di sektor pertanian. Hal ini menciptakan kondisi di mana sebagian masyarakat pesisir mungkin merasakan peluang, sementara masyarakat pedalaman menghadapi tekanan ekonomi yang lebih berat. Dengan kata lain, dampak perubahan iklim di Aceh tidak hanya menurunkan kesejahteraan, tetapi juga berpotensi memperlebar ketimpangan antarwilayah.

Respons kebijakan selama ini cenderung berfokus pada stabilisasi harga pangan melalui pasokan tambahan, termasuk dari luar daerah atau impor. Pendekatan ini memang penting untuk menjaga daya beli masyarakat, tetapi belum cukup untuk menjawab persoalan struktural yang terjadi. Aceh memiliki potensi besar di sektor kelautan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai penyangga ekonomi, terutama dalam situasi ketika sektor pertanian sedang melemah.

Ke depan, diperlukan pendekatan yang lebih terintegrasi. Di satu sisi, petani perlu mendapatkan dukungan dalam bentuk akses air, teknologi adaptasi, dan perlindungan harga. Di sisi lain, sektor perikanan perlu diperkuat melalui investasi pada infrastruktur, distribusi, dan akses pasar agar potensi peningkatan hasil tangkapan benar-benar dapat diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan.

Fenomena ini memberikan pelajaran penting bagi Aceh. Perubahan iklim tidak selalu membawa dampak yang seragam. Ia menciptakan tantangan sekaligus peluang, tergantung pada bagaimana daerah meresponsnya. Jika tidak dikelola dengan baik, Aceh akan menghadapi tekanan ganda: penurunan produksi di darat dan peluang yang tidak termanfaatkan di laut. Namun, jika mampu membaca dinamika ini dengan tepat, Aceh justru dapat membangun ketahanan ekonomi yang lebih kuat dengan memanfaatkan kedua sektor secara seimbang.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah perubahan iklim itu sendiri, melainkan bagaimana kita meresponsnya. Aceh memiliki semua prasyarat—sumber daya alam, posisi geografis, dan kekuatan komunitas—untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga beradaptasi dan mengambil peluang dari perubahan yang sedang terjadi.

Penulis adalah Kandidat Doktor di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.