TERBARU

InternasionalKesehatan

WHO Ajak Dunia Perkuat Komitmen Eliminasi Tuberkulosis

ORINEWS.id – Penyakit tuberkulosis (TB) hingga kini masih menempati posisi sebagai salah satu infeksi menular dengan angka kematian tertinggi di dunia. Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (World TB Day) yang jatuh setiap tanggal 24 Maret menjadi momen penting guna mengikis ancaman global tersebut.

Dikutip dari Kiaton, Minggu (17/5/2026), momentum tahun 2026 ini dimanfaatkan untuk memperkokoh kesepakatan global dalam menghentikan penyebaran bakteri tersebut. Langkah penanggulangan ini berjalan selaras dengan target kesehatan jangka panjang yang telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan tema resmi peringatan tahun ini, yaitu: “Yes! We Can End TB: Commit, Invest, Deliver”. Slogan tersebut membawa pesan optimisme bahwa komunitas internasional memiliki kemampuan menyembuhkan dunia dari TB melalui pemenuhan tiga pilar utama.

Pilar pertama adalah Commit (Berkomitmen), yang berfokus pada dorongan bagi pemerintah, praktisi kesehatan, dan publik untuk melahirkan kebijakan yang berpihak pada penuntasan TB. Dukungan regulasi dinilai menjadi fondasi utama dalam menggerakkan program eliminasi.

Pilar kedua yaitu Invest (Berinvestasi), menyasar pada pemenuhan anggaran yang memadai dalam sektor medis. Pendanaan ini dialokasikan khusus untuk mempercepat riset vaksin, menciptakan alat deteksi yang akurat, serta menyediakan obat-obatan esensial yang terjangkau.

Pilar ketiga berupa Deliver (Mewujudkan), yang menuntut implementasi nyata di lapangan dari komitmen dan investasi yang telah dihimpun. Bentuk tindakannya meliputi perluasan akses fasilitas kesehatan, jangkauan bagi kelompok rentan, serta pengawasan ketat agar pasien minum obat hingga sembuh total.

Tantangan Eliminasi dan Gejala Medis

Penyakit menular ini dipicu oleh serangan bakteri Mycobacterium tuberculosis yang merusak jaringan paru-paru manusia. Penularan antarmanusia terjadi secara cepat melalui percikan udara saat penderita batuk atau bersin tanpa masker.

Upaya pemutusan rantai penularan kerap terhambat akibat banyaknya kasus aktif yang belum terdeteksi di lingkungan masyarakat. Selain itu, durasi pengobatan yang memakan waktu minimal 6 bulan memicu risiko drop-out, yang memicu munculnya varian baru bernama TB resistan obat (TB-RO).

Indonesia sendiri tercatat masuk ke dalam daftar negara dengan beban kasus TB tertinggi di tingkat global. Kondisi ini menuntut pemahaman publik terhadap gejala awal infeksi seperti batuk berkepanjangan selama lebih dari 2 minggu, demam, dan penurunan berat badan secara drastis.

Masyarakat dapat berkontribusi langsung dengan cara memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala, mendampingi pasien selama masa pengobatan, serta menghapus stigma negatif terhadap penderita. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.