ORINEWS.id, JAKARTA — Kebiasaan mengorok pada orang dengan obesitas perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan obstructive sleep apnea (OSA) atau henti napas saat tidur. Kondisi tersebut juga dapat menjadi salah satu faktor risiko tersembunyi yang berkaitan dengan fibrilasi atrium atau gangguan irama jantung.
“Jadi, mengorok ini yang sangat-sangat under-diagnosed, yang sangat jauh dari terapi, bahwa pasien-pasien yang obesitas dan terkait dengan fibrilasi atrial atau AF, itu banyak yang mengorok,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia lulusan Universitas Indonesia, dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K), dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (28/9/2026).
Rizky menjelaskan, kebiasaan mengorok tidak selalu dapat dianggap sebagai bagian biasa dari tidur, terlebih apabila mengorok disertai OSA yang ditandai dengan berhentinya napas selama beberapa detik saat seseorang tertidur.
Kondisi tersebut dapat terjadi berulang kali selama tidur. Kekurangan oksigen yang berlangsung berulang disebut dapat memicu inflamasi dan dalam jangka panjang mempercepat proses aterosklerosis pada dinding pembuluh darah sehingga dapat mempermudah terjadinya fibrilasi atrium.
“Jadi, mengorok ini harus diintervensi. Diintervensi bisa dengan konsultasi dengan dokter,” ujarnya.
Penanganan Disesuaikan dengan Penyebab
Menurut Rizky, penanganan kebiasaan mengorok perlu disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Apabila berkaitan dengan lemak darah, kondisi tersebut perlu ditangani, sedangkan gangguan yang dipicu alergi dapat dikonsultasikan kepada dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).
Rizky juga menjelaskan bahwa gangguan irama jantung atau aritmia tidak selalu muncul pada orang yang mengalami gangguan pembuluh darah koroner. Karena itu, kualitas dan durasi tidur menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
“Tidurnya harus berkualitas, harus cukup, dan pastikan selama tidurnya yang cukup tadi, jumlahnya cukup, kualitasnya baik, harus ada screening mengorok,” ujar Rizky.
Menurut dia, pemeriksaan awal terhadap kebiasaan mengorok dapat dilakukan dengan menanyakan kondisi tersebut kepada pasangan atau orang yang biasa tidur bersama. Teknologi seperti jam pintar juga dapat membantu memantau kualitas tidur serta mendeteksi episode gangguan atau kehilangan tidur.
Obesitas dan Risiko Aritmia
Sementara itu, pada orang dengan obesitas, penurunan berat badan dan pengendalian resistensi insulin disebut dapat membantu mengontrol aritmia. Namun, Rizky menekankan bahwa aritmia terdiri atas berbagai jenis dengan penanganan yang berbeda.
Ia menyebut orang dengan obesitas, termasuk obesitas morbid, memiliki risiko fibrilasi atrium yang lebih tinggi. Salah satu penanganan untuk kondisi tersebut dapat dilakukan melalui tindakan ablasi.[]















































































