ORINEWS.id, JAKARTA — Kemenangan Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 tidak semata-mata dikaitkan dengan dukungan Joko Widodo (Jokowi) dan putranya, Gibran Rakabuming Raka.
Pegiat politik, sosial, dan ekonomi, Arif Wicaksono, justru melihat persaingan antara Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo ikut membentuk peta suara yang menguntungkan Prabowo pada Pilpres 2024.
Anies dan Ganjar saat itu sama-sama menjadi pesaing Prabowo. Anies berpasangan dengan Muhaimin Iskandar, sedangkan Ganjar Pranowo berpasangan dengan Mahfud MD.
Menurut Arif, keberadaan dua pasangan pesaing tersebut membuat suara pemilih yang berseberangan dengan Prabowo tidak terkonsentrasi pada satu pasangan calon.
Selain faktor tersebut, Arif menilai Prabowo juga memiliki dukungan politik yang cukup besar melalui partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM), termasuk Partai Gerindra dan Partai Golkar.
Arif membandingkan kondisi tersebut dengan Pilpres 2019. Saat itu, Prabowo yang berpasangan dengan Sandiaga Uno mampu memperoleh sekitar 44 persen suara nasional meski berhadapan dengan Jokowi yang berstatus sebagai petahana.
“Bukan Gibran, bukan Jokowi. 2019 Prabowo sudah 44% lawan petahana. 2024 lawan terbelah Anies-Ganjar, koalisi gendut, mesin Gerindra-Golkar jalan,” tulis Arif melalui akun X pribadinya, dikutip Senin (28/9).
Berdasarkan penilaian tersebut, Arif tidak menempatkan Gibran maupun Jokowi sebagai faktor utama kemenangan Prabowo. Ia justru menyoroti konfigurasi persaingan dan kekuatan mesin politik partai dalam Pilpres 2024.
Arif juga menyinggung perubahan peta politik di Jawa Tengah dan Bali yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan basis dukungan kuat PDI Perjuangan.
Menurut dia, perubahan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh pengaruh Jokowi dan Gibran. Arif menilai kerja mesin partai di wilayah tersebut turut berpengaruh terhadap hasil pemilu.
“Jateng-Bali pecah karena mesin PDIP di Jateng-Bali tidak bekerja optimal, bukan karena anak-bapak sakti. Fakta paling jujur: PSI tetap 2,8% nol kursi. Yang menang peta, bukan dinasti,” tandasnya.
Pernyataan Arif tersebut merupakan analisisnya terhadap konfigurasi politik dan peta dukungan pada Pilpres 2024. Sementara itu, berdasarkan hasil resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka memperoleh suara terbanyak dalam Pilpres 2024.
Dalam konteks tersebut, Arif melihat kemenangan Prabowo sebagai hasil dari kombinasi sejumlah faktor, mulai dari basis suara yang telah terbentuk sejak Pilpres 2019, terpecahnya suara antarpesaing, hingga dukungan mesin politik partai.[]















































































