TERBARU

Internasional

Sanksi AS terhadap Iran Dinilai Kian Kehilangan Daya Tekan

ORINEWS.id, TEHERAN – Putaran terbaru sanksi ekonomi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran dinilai semakin kehilangan daya tekan. Profesor Iran Mohammad Marandi dan analis Larry Johnson menilai langkah tersebut tidak memiliki substansi berarti serta tidak memperhitungkan perubahan kemitraan ekonomi Iran yang semakin menjauh dari sistem berbasis dolar.

Dalam program The Great Standoff: Iran and the World yang disiarkan Al Mayadeen, Larry Johnson, mantan analis CIA, mengatakan pengumuman sanksi yang sebelumnya dinanti-nantikan justru menghasilkan ancaman yang dinilainya lemah.

Johnson menyebut kebijakan tersebut masih didasarkan pada asumsi lama, termasuk anggapan bahwa Iran tetap bergantung pada sistem petrodolar dan sistem perbankan Amerika Serikat.

Menurutnya, pemberitaan dan ekspektasi menjelang pengumuman sanksi telah dibangun secara berlebihan.

Sanksi “Tekanan Maksimum” Dinilai Tak Lagi Efektif

Marandi sependapat dengan Johnson. Ia mengatakan pengumuman terbaru Washington tidak memuat hal yang signifikan dan pada dasarnya merupakan pengulangan dari tekanan yang telah dialami Iran selama bertahun-tahun.

Ia menilai sanksi dengan pendekatan “tekanan maksimum” telah diterapkan selama bertahun-tahun sehingga tidak ada tingkat tekanan yang lebih tinggi dari kebijakan tersebut.

“Ini sama sekali tidak seperti yang diiklankan. Ini seharusnya menjatuhkan Iran, melemahkan Republik Islam Iran, dan membuat negara itu runtuh,” kata Marandi.

Ia membandingkan pengumuman sanksi tersebut dengan perang selama 40 hari. Menurutnya, dalam kedua situasi tersebut, ekspektasi yang dibangun jauh lebih besar dibandingkan substansi kebijakan yang akhirnya diterapkan.

Iran Mulai Tinggalkan Ketergantungan pada Dolar

Johnson mengatakan posisi Iran dalam BRICS semakin berkembang, sementara China telah membangun sistem keuangan alternatif yang memungkinkan Iran melakukan transaksi perdagangan internasional menggunakan yuan, bukan dolar AS.

Transaksi tersebut, kata dia, dilakukan melalui bank-bank China, bukan sistem perbankan Amerika Serikat.

Johnson mengakui asumsi bahwa Iran masih bergantung pada sistem perbankan AS mungkin benar dua tahun lalu, bahkan lebih jelas satu dekade lalu. Namun, menurutnya, kondisi tersebut tidak lagi mencerminkan realitas saat ini.

“Iran tidak lagi berada dalam posisi untuk dijadikan sandera ekonomi oleh Barat,” ujar Johnson.

Ia mencontohkan Pakistan sebagai salah satu negara yang mulai mengambil kebijakan berbeda. Ketika AS mengumumkan blokade pertama terhadap Iran, Pakistan dalam waktu dua hari justru mengumumkan pembukaan enam jalur darat untuk perdagangan dengan Iran.

Johnson menilai langkah tersebut saat itu merupakan bentuk penolakan langsung terhadap kebijakan Washington. Ia mengatakan Iran kini menjalin hubungan langsung dengan Rusia, China, dan Pakistan.

Menurutnya, Pakistan juga menunjukkan bahwa negara tersebut tidak ingin lagi bergantung sepenuhnya kepada Amerika Serikat.

Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup

Marandi mengatakan Iran tidak terpengaruh oleh ancaman terbaru Washington. Menurutnya, posisi Teheran telah disampaikan secara jelas dalam pertemuan dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan.

Ia mengatakan pelaksanaan efektif Memorandum of Understanding (MoU) menjadi salah satu poin utama yang harus dipenuhi.

“Komitmen dalam memorandum yang ditandatangani Amerika Serikat harus dilaksanakan,” ujar Marandi.

Menurut dia, Amerika Serikat terus menyampaikan pesan melalui Pakistan, sementara pada saat yang sama menjalankan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Marandi menegaskan Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz atau kembali ke situasi normal apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi.

Ia menyebut sejumlah prasyarat, antara lain penarikan penuh pasukan Israel dari Lebanon, penghentian perang, serta berakhirnya apa yang disebutnya sebagai genosida di Gaza.

Menurut Marandi, seluruh tuntutan tersebut telah disampaikan secara jelas kepada pihak Pakistan untuk diteruskan kepada Amerika Serikat dalam pertemuan di Teheran.

AS Hadapi Tekanan Ekonomi dan Krisis Pasokan Minyak

Johnson menilai posisi ekonomi Amerika Serikat saat ini lebih lemah dibandingkan kapan pun dalam 18 bulan terakhir sejak Donald Trump menjabat sebagai presiden.

Ia menyebut utang nasional AS telah melampaui US$40 triliun dan berpotensi mencapai US$41 triliun pada akhir Oktober atau pertengahan November.

Johnson juga menilai Washington justru menjauhkan negara-negara yang sebelumnya merupakan sekutunya dengan terus memberikan tekanan kepada berbagai negara.

Terkait pasokan minyak global, Johnson mengatakan berkurangnya pasokan minyak mentah jenis sour crude dari kawasan Teluk Persia mulai berdampak terhadap produksi diesel dan bahan bakar penerbangan.

Menurutnya, ketika Selat Hormuz ditutup, minyak yang sebelumnya telah dimuat ke kapal tanker masih dapat mencapai sejumlah tujuan dalam periode awal. Setelah itu, sejumlah negara mulai menggunakan cadangan minyak mereka.

Johnson mengibaratkan kondisi tersebut seperti mengambil uang dari tabungan. Namun, menurutnya, cadangan tersebut kini mulai habis.

“Tabungannya sudah habis. Minyak sekarang mengalami kelangkaan, dan ini menjadi kelangkaan global yang terutama berdampak pada produksi diesel dan bahan bakar penerbangan,” katanya.

Ia mengatakan AS selama ini mengandalkan Kanada, Meksiko, dan Venezuela untuk memperoleh minyak mentah jenis sour crude. Namun, Washington kini justru menghadapi ketegangan dengan Kanada.

Johnson bahkan memperkirakan Kanada dapat mengalihkan lebih banyak ekspor minyaknya ke China.

Tatanan Keamanan Baru di Asia Barat

Johnson mengatakan China jelas berada di pihak Iran dan tidak akan tunduk pada tekanan maupun sanksi Amerika Serikat.

Ia merujuk pada pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi yang sama-sama menyerukan perlunya arsitektur keamanan baru di Teluk Persia dan Asia Barat.

Menurut Johnson, pertemuan yang melibatkan perwakilan Iran, Turki, Arab Saudi, Pakistan, dan Mesir turut membahas apa yang kemudian dikenal sebagai kesepakatan Mekkah yang ditandatangani Pakistan, Arab Saudi, dan Turki.

Johnson menilai kesepakatan tersebut dapat menjadi awal terbentuknya arsitektur keamanan baru di Teluk dan Asia Barat yang secara bertahap mengurangi peran Amerika Serikat.

Ia mengatakan kebijakan sanksi berbasis dolar Washington muncul ketika Iran justru semakin meningkatkan transaksi menggunakan yuan.

Johnson juga memperingatkan negara-negara Arab Teluk agar mempertimbangkan konsekuensi apabila ikut dalam tekanan ekonomi terhadap Iran.

Menurutnya, sejumlah negara seperti Bahrain dan Kuwait bahkan mulai mencari kerja sama keamanan dengan Pakistan, bukan lagi hanya mengandalkan Amerika Serikat.

“Mereka tidak lagi memandang Amerika Serikat sebagai mitra yang dapat diandalkan,” ujarnya.

Iran Masih Mempelajari Kesepakatan Mekkah

Sementara itu, Marandi mengatakan Iran masih berhati-hati dalam menyikapi kesepakatan antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan.

Menurutnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran telah menyatakan bahwa tujuan kesepakatan tersebut belum sepenuhnya jelas bagi Teheran.

Marandi mengatakan Iran belum memahami secara utuh latar belakang dan tujuan pembentukan kesepakatan tersebut.

Ia mempertanyakan mengapa kesepakatan itu baru muncul setelah Arab Saudi menyerang Yaman dan membombardir Bandara Internasional Sana’a, yang kemudian memicu serangan balasan dari Yaman.

Menurut Marandi, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan memiliki kepentingan yang berbeda. Karena itu, Iran masih menunggu penjelasan mengenai tujuan, kepentingan, dan komitmen yang terkandung dalam kesepakatan tersebut.

Jika tujuan kesepakatan tersebut terbukti sesuai dengan kepentingan kawasan, kata dia, Iran tentu akan memberikan pandangan positif.

Analis Prediksi Iran Akan Bertahan

Johnson menilai upaya terbaru Amerika Serikat untuk mengajak negara lain memberikan tekanan terhadap Iran kemungkinan besar tidak akan mendapatkan respons signifikan.

Ia menekankan bahwa Iran tidak berdiri sendiri karena merupakan bagian dari BRICS dan memiliki hubungan erat dengan Rusia, China, Pakistan, serta negara-negara lain di kawasan Global South.

Menurut Johnson, negara-negara BRICS secara keseluruhan memiliki produk domestik bruto (PDB) yang lebih besar dibandingkan kelompok G7.

Ia menilai dunia kini sedang memasuki pembentukan tatanan internasional baru di bidang ekonomi, politik, keuangan, hingga militer.

“Saya pikir ketika semuanya selesai, Iran akan bertahan dan menjadi pihak yang unggul,” kata Johnson.

Marandi juga mengatakan mata uang Iran tidak mengalami keruntuhan setelah pengumuman sanksi terbaru. Menurutnya, nilai mata uang tersebut hanya melemah beberapa persen.

Ia mengakui enam bulan terakhir bukan periode yang mudah bagi Iran. Namun, menurutnya, ketahanan Iran terlihat jelas.

Marandi mengatakan negara lain seperti Turki, Jerman, Brasil, Mesir, Arab Saudi, Pakistan, maupun India kemungkinan akan menghadapi tekanan berat jika berada dalam kondisi serupa.

Ia menambahkan bahwa Angkatan Darat Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menyatakan kesediaannya membantu pemerintah menghadapi perang ekonomi.

Menurut Marandi, kedua institusi tersebut juga terlibat dalam pembangunan dan sejumlah proyek besar di Iran sehingga siap meningkatkan perannya dalam menghadapi tekanan ekonomi yang sedang berlangsung.[]

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.