ORINEWS.id, JAKARTA — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa internasional Universitas Syiah Kuala (USK). Abotle Ralekwalo, mahasiswa asal Botswana, berhasil meraih Juara I Lomba Berpuisi dalam ajang Festival Handai Indonesia (FHI) 2026 yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Jakarta.
Perjalanan Abotle menuju podium juara tidaklah mudah. Ia harus bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai negara.
Dari sekitar 542 peserta yang berasal dari 79 negara, Abotle terpilih menjadi salah satu dari 25 finalis terbaik. Ia kemudian berhasil masuk lima besar sebelum akhirnya dinobatkan sebagai Juara I kategori Lomba Berpuisi.
Pada babak final, Abotle bersaing ketat dengan peserta dari Kanada, Thailand, Australia, dan Uzbekistan.
Prestasi tersebut semakin istimewa karena kemampuan berbahasa Indonesia Abotle berawal dari keikutsertaannya dalam Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di USK selama kurang lebih 10 bulan.
Abotle merupakan penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) tahun 2025. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan magister pada Program Studi Magister Pengelolaan Lingkungan USK.
Kepala Global Engagement Office (GEO) USK, Prof. Dr. Syamsidik, S.T., M.Sc., menyampaikan apresiasi atas pencapaian yang diraih mahasiswanya tersebut.
“Kami sangat bangga dan mengapresiasi pencapaian Abotle. Keberhasilannya meraih Juara I dalam Festival Handai Indonesia 2026 merupakan prestasi yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa internasional USK tidak hanya datang untuk menempuh pendidikan, tetapi juga aktif belajar, mengenal, dan mengapresiasi bahasa serta budaya Indonesia,” ujarnya.
Prof. Syamsidik berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa internasional lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri dan berani mengambil berbagai kesempatan selama menempuh pendidikan di Indonesia.
Ungkapan syukur juga disampaikan Abotle Ralekwalo atas pengalaman berharga yang diperolehnya selama menimba ilmu di USK dan mengikuti kompetisi tingkat nasional tersebut.
“Belajar bahasa Indonesia di USK bukan hanya sekadar persiapan akademik bagi saya, tetapi juga pintu masuk untuk memahami kekayaan sastra dan budaya Indonesia. Melalui kompetisi ini, saya belajar bahwa bahasa dapat menjadi ruang pertemuan yang indah antara berbagai latar belakang budaya yang berbeda,” ungkap Abotle.
Melalui Global Engagement Office (GEO), USK terus berkomitmen memberikan dukungan kepada mahasiswa internasional agar tidak hanya memperoleh pengalaman akademik yang berkualitas, tetapi juga memiliki ruang untuk berkembang melalui kegiatan bahasa, budaya, dan pengenalan kearifan lokal.[]



































































