ORINEWS.id – Iran mengusulkan pembentukan aliansi keamanan kawasan yang melibatkan sejumlah negara Muslim, termasuk Pakistan, Turkiye, Arab Saudi, Mesir, dan negara-negara Islam lainnya. Usulan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dengan tujuan memperkuat stabilitas kawasan melalui kerja sama antarnegara regional.
Mengutip laporan Pakobserver, Selasa (4/8/2026), Penjabat Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Seyed Majid Ibn Reza menyampaikan gagasan pembentukan mekanisme keamanan kolektif yang memungkinkan negara-negara di kawasan menjaga stabilitas tanpa bergantung pada kekuatan militer dari luar.
Usulan tersebut disampaikan dalam pembahasan bersama Menteri Pertahanan Turkiye Yasar Guler pada Ahad (2/8/2026). Menurut Ibn Reza, konflik yang terus terjadi di Timur Tengah menunjukkan pentingnya penguatan kerja sama pertahanan antarnegeri bertetangga.
Ia menilai keberadaan kekuatan asing di kawasan selama ini justru berkontribusi terhadap meningkatnya instabilitas. Karena itu, Iran mendorong terbentuknya sistem keamanan regional yang mampu melindungi kepentingan negara-negara Timur Tengah sekaligus mengurangi potensi intervensi eksternal.
Dalam kesempatan itu, Ibn Reza juga menyinggung sejumlah konflik yang masih berlangsung di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran. Ia mengkritik dukungan Amerika Serikat terhadap kebijakan Israel serta memperingatkan bahwa pembukaan front baru terhadap Hizbullah berpotensi memperluas krisis keamanan di kawasan.
Selain itu, Iran menilai usulan pembentukan zona keamanan Israel di wilayah Suriah dan Lebanon berisiko memicu ketegangan baru.
Qatar Dorong Jalur Diplomasi
Di tengah meningkatnya eskalasi, Qatar menyerukan koordinasi yang lebih erat di antara negara-negara Teluk untuk menjaga stabilitas kawasan.
Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani melakukan pembicaraan terpisah dengan para pejabat dari Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Kuwait, Oman, dan Bahrain pada Senin (3/8/2026).
Menurut Kementerian Luar Negeri Qatar, pertemuan tersebut membahas perkembangan situasi regional, termasuk upaya diplomatik guna meredakan ketegangan dan memperkuat kerja sama keamanan kawasan.
Al Thani menekankan pentingnya seluruh pihak tetap mengedepankan dialog serta melaksanakan ketentuan dalam nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran, termasuk menjamin kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Ia menyatakan langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas kawasan dan mendukung terciptanya perdamaian jangka panjang.
Jusuf Kalla Minta Negara Islam Perkuat Dialog
Sementara itu, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) meminta negara-negara Islam mengutamakan dialog dan diplomasi agar konflik di Timur Tengah tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Saat menghadiri Kongres Umat Islam ke-VIII di Jakarta, JK mengaku prihatin karena harapan terciptanya perdamaian setelah adanya kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat kembali pupus akibat meningkatnya ketegangan.
“Kita sangat sayangkan apa yang terjadi makin meluas. Semula kita bergembira bahwa sudah ada kesepakatan antara Iran dengan Amerika, tapi buyar lagi, malah makin meluas,” kata JK.
Menurut JK, negara-negara Arab dan dunia Islam perlu mengambil peran lebih besar dalam mendorong penyelesaian konflik secara damai.
Ia juga mengingatkan agar seluruh pihak menahan diri serta mengedepankan penyelesaian politik dibandingkan pendekatan militer.
Selain menyoroti konflik Iran dan Amerika Serikat, JK juga menyinggung situasi di Yaman serta berbagai konflik lain di Timur Tengah. Ia berharap organisasi internasional seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dapat memainkan peran lebih aktif dalam memperkuat persatuan negara-negara Islam.
“Indonesia tentu mendukung perdamaian, sangat mendukung perdamaian. Apa yang terjadi di Palestina, apa yang terjadi di Timur Tengah merupakan suatu musibah,” ujar JK.
Kategori: Internasional
Tag: Iran, Timur Tengah, Pakistan, Qatar, Jusuf Kalla
















































































