ORINEWS.id – Korban jiwa akibat gempa bumi kembar yang mengguncang Venezuela terus bertambah. Hingga Minggu, 28 Juni 2026, sedikitnya 920 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 50 ribu orang masih dinyatakan hilang di berbagai wilayah terdampak.
Kawasan pesisir La Guaira, yang berada tidak jauh dari ibu kota Caracas, menjadi daerah yang mengalami kerusakan paling parah. Gempa menyebabkan bangunan apartemen, permukiman warga, hingga berbagai fasilitas publik runtuh dan menyisakan puing-puing dalam skala luas.
Tim penyelamat dari berbagai negara masih melakukan operasi pencarian terhadap korban yang diduga tertimbun reruntuhan. Proses evakuasi berlangsung sulit karena kondisi lapangan yang berbahaya serta masih terjadinya gempa susulan.
Kepala Bantuan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Tom Fletcher, mengatakan operasi penyelamatan merupakan salah satu misi kemanusiaan paling rumit yang sedang dihadapi.
“Ini adalah respons darurat yang sangat, sangat kompleks,” kata Fletcher, dikutip pada Minggu, 28 Juni 2026.
Menurut Fletcher, luasnya wilayah terdampak, bangunan yang tidak stabil, serta ancaman gempa susulan menjadi tantangan utama bagi tim penyelamat dalam menjangkau para korban.
Di sejumlah lokasi, keterbatasan alat berat membuat keluarga korban dan relawan terpaksa menggali reruntuhan secara manual. Salah seorang warga, Marjosly Salazar, mengaku masih mencari putrinya yang berusia 16 tahun, seorang bayi berusia lima bulan, serta kerabatnya yang belum ditemukan.
“Tolong, kami butuh bantuan di sini. Kami butuh mesin untuk mulai mengangkat tiang-tiang itu. Kami belum melihat pejabat pemerintah di sini, sama sekali tidak ada,” kata Salazar.
Di tengah proses pencarian, kritik terhadap respons pemerintah juga mengemuka. Pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, mendapat protes dari warga saat mengunjungi salah satu kawasan terdampak di Caracas. Sejumlah warga yang berkumpul di sekitar bangunan yang runtuh meneriakkan kekecewaan mereka.
“Pemerintah tidak melakukan apa pun untuk rakyat,” seru warga dari balik garis pengamanan.
Sementara itu, harapan menemukan korban selamat di beberapa titik mulai memudar. Pemimpin tim penyelamat asal Chile, Nadiomar Polanco, menyebut sebuah kompleks apartemen di La Guaira telah hancur hampir sepenuhnya.
“Sayangnya, bangunan tersebut runtuh total, dan kecil kemungkinan menemukan korban selamat. Upaya kini difokuskan pada evakuasi jenazah para korban meninggal,” ujar Polanco.
Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan sedikitnya 17 negara telah mengirimkan tim pencarian dan penyelamatan ke Venezuela. Bantuan internasional tersebut berasal dari berbagai negara, termasuk Spanyol, Swiss, Kolombia, Meksiko, dan Amerika Serikat, untuk mempercepat proses evakuasi serta penanganan korban bencana. []
















































































