ORINEWS.id – Harga minyak dunia kembali melemah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai yang disebut akan mengakhiri konflik yang melibatkan kedua negara. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Penurunan harga minyak terjadi seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai akan memperlancar distribusi minyak dan gas yang selama ini terganggu akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan telah menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang antara AS dan Israel dengan Iran. Pernyataan tersebut disambut positif oleh pelaku pasar yang menilai risiko gangguan pasokan energi mulai berkurang.
Pada pukul 06.31 GMT, harga minyak mentah Brent tercatat turun 45 sen atau 0,5 persen menjadi US$ 80,51 per barel. Sehari sebelumnya, harga Brent juga merosot hampir 5 persen dan ditutup pada level terendah sejak 4 Maret 2026.
Meski demikian, para analis menilai pasokan minyak global tidak akan langsung pulih sepenuhnya setelah tercapainya kesepakatan tersebut. Dibutuhkan waktu untuk menormalkan kembali arus distribusi energi yang sempat terganggu.
“Dari sini, kemungkinan akan memakan waktu beberapa minggu untuk memulihkan arus kapal tanker. Kami memperkirakan 50% produksi akan kembali pada bulan September, dan 80% pada bulan Desember, sedikit lebih cepat dari sebelumnya,” kata analis Morgan Stanley, seperti dikutip Reuters, Selasa (16/6/2026).
Menurut para analis, pemulihan pasokan tidak hanya bergantung pada situasi keamanan di kawasan, tetapi juga kesiapan infrastruktur dan rantai distribusi yang terdampak selama masa konflik.
Hingga kini, Pemerintah AS belum mempublikasikan secara rinci isi kesepakatan yang dicapai dengan Iran. Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menyatakan bahwa kesepakatan tersebut memang ditujukan untuk mengakhiri pertempuran antara kedua pihak.
Meski demikian, sejumlah pengamat masih menunggu perkembangan lebih lanjut untuk memastikan apakah kesepakatan tersebut benar-benar mampu mengakhiri konflik secara permanen dan memulihkan stabilitas kawasan dalam jangka panjang. []
















































































