BANDA ACEH – Provinsi Aceh, khususnya melalui infrastruktur pelabuhan di Lhokseumawe, kini memegang peranan strategis sebagai pusat distribusi (hub) energi nasional. Kawasan ini menjadi gerbang utama lalu lintas impor komoditas propana dan butana oleh PT Pertamina Patra Niaga guna menjamin ketahanan pasokan gas elpiji (LPG) untuk wilayah Sumatera Bagian Utara.
Cakupan distribusi dari hub Aceh ini melayani kebutuhan energi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, hingga Kepulauan Riau.
Posisi strategis tersebut turut berdampak pada struktur neraca perdagangan daerah. Berdasarkan data kepabeanan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh, nilai devisa impor komoditas energi yang didominasi negara asal Amerika Serikat tercatat cukup tinggi.
Sepanjang 2025, impor propana dan butana mencapai USD 528 juta atau sekitar 92 persen dari total devisa impor Provinsi Aceh. Sementara itu, pada periode Januari hingga Mei 2026, nilai impor tercatat sebesar USD 231 juta atau 83 persen dari total impor daerah.
Kepala Kantor Wilayah DJBC Aceh menyampaikan bahwa transparansi data kepabeanan penting untuk memotret dinamika riil perekonomian daerah.
“Menjadi hub jalur distribusi logistik regional adalah sebuah keunggulan infrastruktur. Namun, hal ini tidak bisa dihindari membawa tantangan tersendiri bagi Aceh untuk menciptakan dan mempertahankan neraca perdagangan yang surplus,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (23/6).
Ia menambahkan, tingginya impor energi tersebut menuntut strategi khusus untuk mendorong kinerja ekspor agar tetap lebih tinggi dibanding impor.
“Hal ini menuntut kita untuk memiliki strategi khusus guna mengakselerasi kinerja ekspor, sehingga devisa yang masuk tetap lebih tinggi daripada devisa yang keluar,” katanya.
Di sisi lain, struktur ekspor Aceh masih didominasi komoditas ekstraktif dan agrikultur primer. Sepanjang 2025, batubara menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 67 persen, disusul kopi 11 persen, crude palm oil (CPO) dan turunannya 10 persen, rempah dan produk tanaman 5 persen, serta produk kimia 2,6 persen.
Sebagian besar komoditas tersebut masih berupa bahan mentah (raw material).
Kondisi ini dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Aceh untuk mendorong hilirisasi industri. Transformasi dari ekspor bahan mentah ke produk olahan bernilai tambah diharapkan tidak hanya meningkatkan devisa, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) melalui pertumbuhan industri pengolahan dan perluasan lapangan kerja di daerah. []












































































