ORINEWS.id — Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah pejabat tinggi Teheran, Mohsen Rezaee, melontarkan ancaman keras terkait situasi di Selat Hormuz.
Sekretaris Dewan Kebijaksanaan Iran itu menyatakan negaranya siap mengubah jalur pelayaran strategis tersebut menjadi “kuburan” bagi kapal induk dan pasukan Amerika Serikat. Pernyataan itu ia sampaikan melalui platform X, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Minggu, 3 Mei 2026.
“AS adalah satu-satunya bajak laut di dunia yang memiliki kapal induk,” kata Rezaee.
Ia menegaskan bahwa Iran memiliki kemampuan untuk menghadapi kekuatan militer Amerika. “Kemampuan kita untuk menghadapi bajak laut tidak kalah dengan kemampuan kita untuk menenggelamkan kapal perang,” ujarnya.
Rezaee juga menyinggung insiden penembakan jatuh pesawat tempur AS jenis F-15E Strike Eagle yang terjadi bulan lalu. Ia memperingatkan bahwa nasib serupa bisa menimpa armada laut Amerika.
“Bersiaplah untuk menghadapi kuburan kapal induk dan pasukan Anda, seperti puing-puing pesawat Anda yang tertinggal di Isfahan,” kata dia.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga melontarkan pernyataan kontroversial terkait operasi militer negaranya di kawasan tersebut. Dalam sebuah kampanye di Florida pada Jumat, 1 Mei 2026, Trump membandingkan aksi Angkatan Laut AS dengan praktik pembajakan.
“Kami… mendarat di atasnya dan kami mengambil alih kapal itu. Kami mengambil alih kargo, merebut minyak. Ini bisnis yang sangat menguntungkan,” ujar Trump, seperti dilansir Kompas.com pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia bahkan secara terbuka menyebut pendekatan tersebut menyerupai tindakan bajak laut. “Kami seperti bajak laut,” katanya, yang disambut sorak pendukungnya. “Kami agak seperti bajak laut, tetapi kami tidak bermain-main.”
Pernyataan dari kedua pihak muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, khususnya terkait blokade di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas dunia. Sejumlah ahli hukum internasional sebelumnya telah menyuarakan kekhawatiran atas langkah Iran menutup jalur tersebut.
Penutupan Selat Hormuz dilakukan Teheran setelah dimulainya serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Di sisi lain, Washington merespons dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran setelah pembicaraan damai di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.
Situasi ini menandai eskalasi baru dalam konflik yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan pasokan energi global. []














































































