TERBARU

InternasionalNews

Houthi Yaman Serang Israel, Eskalasi Konflik Timur Tengah Kian Meluas

ORINEWS.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin meningkat setelah kelompok Houthi dari Yaman yang bersekutu dengan Iran resmi terlibat dalam perang dengan melancarkan serangan ke Israel.

Aksi tersebut terjadi sekitar satu bulan setelah dimulainya operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang memicu ketegangan baru di kawasan.

Israel menyatakan berhasil mencegat serangan pertama pada dini hari berupa rudal balistik yang memicu sirene pertahanan udara di Beersheva dan wilayah sekitarnya di selatan negara itu.

Beberapa jam kemudian, Houthi kembali meluncurkan rudal jelajah yang juga berhasil dicegat sebelum memasuki wilayah Israel. Selain itu, serangan drone ke kota resor Eilat di Laut Merah dilaporkan turut berhasil ditembak jatuh oleh militer Israel.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan serangan tersebut merupakan operasi militer pertama kelompoknya terhadap Israel dalam konflik yang sedang berlangsung.

“Angkatan Bersenjata Yaman melakukan operasi militer pertama, yaitu rentetan rudal balistik, yang menargetkan sasaran militer sensitif musuh Israel di selatan Palestina yang diduduki,” ujarnya, seperti dikutip dari Reuters, Minggu, 29 Maret 2026.

Menurut Saree, serangan itu merupakan bentuk dukungan terhadap Iran dan sekutunya di kawasan.

“Sebagai bentuk dukungan dan bantuan kepada Republik Islam Iran dan front perlawanan di Lebanon, Irak, dan Palestina, dan mengingat berlanjutnya eskalasi militer, penargetan infrastruktur, serta dilakukannya kejahatan dan pembantaian terhadap saudara-saudara kita di Lebanon, Iran, Irak, dan Palestina,” kata dia.

Ia menegaskan operasi militer tersebut akan terus berlanjut hingga tujuan yang ditetapkan tercapai.

Di saat yang sama, Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya di kawasan dengan mengirim ribuan marinir menggunakan kapal serbu amfibi. Laporan juga menyebut Pentagon tengah menyiapkan opsi operasi darat di Iran, menunggu keputusan Presiden Donald Trump.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan Washington pada dasarnya dapat mencapai tujuannya tanpa pengerahan pasukan darat. Namun, pengiriman pasukan tambahan tetap dilakukan guna memberikan fleksibilitas maksimal bagi presiden dalam menentukan strategi.

Keterlibatan Houthi juga memunculkan ancaman baru terhadap jalur pelayaran global. Kelompok tersebut dikenal memiliki kemampuan menyerang target jarak jauh serta mengganggu lalu lintas kapal di Laut Merah dan sekitar Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi energi dunia. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.