TERBARU

Sejarah

Jejak Kuburan Massal Korban Peristiwa G30S PKI di Hutan Plumbon Semarang

ORINEWS.id, SEMARANG — Sebuah jalan tanah di tengah rimbunnya deretan pohon jati Hutan Plumbon, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, menjadi rute sunyi menuju salah satu jejak kelam sejarah 1965.

Di balik rindangnya dedaunan dengan latar bentang jembatan Jalan Tol Semarang-Batang, tergeletak sebuah prasasti nisan semen bercat kusam bertuliskan “DI DIDUGA…” yang memuat deretan nama korban seperti Moetiah, Soesatjo, Darsono, Sachroni, Joesoef, Soekandar, Doelkhamid, Soerono, hingga tulisan “…Dan Lain-Lain”.

Meski tersembunyi di balik rimbun ilalang dan pepohonan Hutan Plumbon, lokasi yang disebut sebagai kuburan massal korban G30S/PKI tersebut kerap didatangi orang-orang untuk berziarah, bahkan hingga larut malam.

Di sekitar nisan tersebut, kerap ditemukan bekas gelas kopi hitam, rokok basah, hingga botol air mineral yang ditinggalkan peziarah.

Banyak Peziarah dari Luar Daerah

Sumiyati (46), warga setempat yang rumahnya paling dekat dengan lokasi kuburan massal tersebut, mengaku sering melihat kedatangan peziarah dari luar daerah.

“Kalau orang sini tak ada yang ziarah ke situ,” kata Sumiyati saat ditemui di rumahnya, Senin (30/9/2026).

Menurutnya, warga yang datang memiliki latar belakang daerah yang beragam, mulai dari Kendal hingga Jawa Timur.

Ada yang datang pada siang hari, namun tidak sedikit pula yang membelah kegelapan hutan pada malam hari dengan penerangan seadanya.

“Kemarin ada yang datang dua orang malam hari tanya lokasi kuburan itu,” ujarnya.

Sumiyati mengaku telah tinggal di lokasi tersebut sejak lahir. Menurut dia, orang tuanya merupakan saksi mata yang mengetahui langsung peristiwa pembantaian pada masa lalu tersebut.

“Ibuk saya yang tau. Tetangga saya juga ada yang jadi tukang jagal tapi sudah meninggal,” ungkapnya.

Berdasarkan penuturan orang tuanya, dua unit truk mengangkut rombongan korban masuk ke dalam hutan menjelang malam sebelum mereka dieksekusi.

“Tak ada satu malam (pembantaian),” ucap Sumiyati, mengenang cerita orang tuanya.

Disebut Menampung 24 Jenazah

Aktivis kemanusiaan dan pegiat hak asasi manusia (HAM), Yunantyo Adi, membenarkan keberadaan kuburan massal di Hutan Plumbon tersebut.

Ia menjelaskan, lokasi itu memiliki dua lubang berukuran sekitar 1,5 meter yang menyerupai sumur dan disebut menampung 24 jenazah.

Sebelum terjadi perluasan wilayah Kota Semarang, kawasan Hutan Plumbon secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Kendal. Seluruh korban yang dieksekusi di lokasi tersebut diketahui merupakan warga Kendal.

“Memang ada delapan nama tapi yang paling populer hanya dua nama. Yang lainnya bisa dibilang pengurus ranting atau pengurus desa,” jelas Yunantyo kepada Kompas.com.

Dua nama yang terpahat pada nisan dan kerap disebut adalah Moetiah dan Soesetyo.

Moetiah diketahui merupakan bangsawan Syar’i yang aktif di organisasi Gerwani. Ia juga berprofesi sebagai guru dan pendiri Taman Anak-anak Melati di Kabupaten Kendal.

“Dia (Moetiah) guru di situ,” ujar Yunantyo.

Berdasarkan kesaksian warga yang terlibat dalam proses eksekusi malam itu, Moetiah sempat mengajukan permintaan terakhir sebelum ditembak di tengah hutan.

“Berdasarkan cerita warga yang ikut eksekusi memang korban meminta qiroah dulu,” ucapnya.

Sementara itu, Soesetyo diduga merupakan mantan Wakil Bupati Kendal.

Eksekusi terhadap puluhan korban tersebut diperkirakan terjadi setelah bulan Ramadhan pada akhir 1965.

“Mereka dieksekusi setelah Bulan Ramadhan. Jika dilihat Peristiwa 1965 terjadi pada Desember,” kata Yunantyo.

“Semua jenazah yang dikubur di Hutan Plumbon semuanya orang Kendal,” imbuhnya.

Pada Januari 2020, CIPDH UNESCO disebut secara resmi memasukkan kuburan massal Hutan Plumbon di Semarang ke dalam pendaftaran situs ingatan pelanggaran HAM berat masa lalu.

Sumber: Kompas.com

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.