ORINEWS.id – Pemimpin senior Hamas, Khaled Meshaal, menegaskan bahwa kelompoknya menolak usulan perlucutan senjata dalam rencana perdamaian Gaza yang diajukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Namun, ia menyebut Hamas bersedia mempertimbangkan opsi “pembekuan” senjata para pejuangnya.
Pernyataan itu disampaikan Meshaal dalam wawancara dengan media Qatar, Al Jazeera, yang ditayangkan pada Rabu, 10 Desember 2025, seperti dilaporkan AFP pada Kamis, 11 Desember 2025.
“Gagasan perlucutan senjata total tidak dapat diterima oleh perlawanan (Hamas). Yang diusulkan adalah pembekuan, atau penyimpanan (senjata)… untuk memberikan jaminan agar tidak ada eskalasi militer apa pun dari Gaza dengan pendudukan Israel,” kata Meshaal dalam wawancara tersebut.
Menurut Meshaal, gagasan itu tengah dibahas dengan para mediator internasional. “Ini adalah gagasan yang sedang kami diskusikan dengan para mediator, dan saya meyakini bahwa dengan pemikiran pragmatis Amerika… visi seperti itu dapat disepakati dengan pemerintahan AS,” ujarnya.
Gencatan Senjata Gaza Masuki Fase Baru
Gencatan senjata Gaza yang berlangsung sejak 10 Oktober menghentikan perang yang meletus setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Namun, kesepakatan itu masih rapuh karena kedua pihak saling menuduh melakukan pelanggaran hampir setiap hari.
Kesepakatan tersebut terdiri atas tiga fase. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini menyatakan bahwa gencatan senjata akan segera memasuki fase kedua.
Pada fase kedua, pasukan Israel akan mundur lebih jauh dari posisi mereka di Jalur Gaza dan digantikan oleh pasukan stabilisasi internasional (ISF). Hamas, sesuai ketentuan, akan meletakkan senjatanya.
Netanyahu dijadwalkan kembali bertemu Presiden Trump dalam lawatannya ke Amerika Serikat pada akhir bulan ini untuk membahas langkah lanjutan.
Namun Hamas menegaskan tidak akan menyerahkan senjatanya. “Perlucutan senjata bagi seorang Palestina berarti merampas jiwanya sendiri. Mari kita capai tujuan itu dengan cara lainnya,” kata Meshaal.
Pertukaran Sandera dan Tahanan
Dalam fase pertama gencatan senjata, Hamas berkomitmen membebaskan 48 sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Semua sandera kini telah dibebaskan, kecuali satu jenazah yang belum diserahkan.
Sebagai imbalannya, Israel telah membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina dan memulangkan ratusan jenazah warga Palestina yang meninggal.
Sikap Hamas terhadap Pasukan Internasional
Meshaal juga menyinggung kehadiran pasukan internasional. Ia menegaskan Hamas terbuka terhadap penempatan pasukan internasional di sepanjang perbatasan Gaza dengan Israel, namun menolak kehadiran mereka di dalam wilayah Palestina.
Menurutnya, penempatan pasukan asing di wilayah Palestina sama saja dengan “pendudukan”. []















































































