ORINEWS.id, KATHMANDU — Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang yang menerjang wilayah utara Nepal terus bertambah. Dikutip dari kathmandu post, hingga Jumat (28/8/2026) sore, korban tewas dilaporkan mencapai 538 orang, sementara 977 lainnya masih dinyatakan hilang.
Banjir dahsyat terjadi pada Rabu pagi di sepanjang Sungai Bhotekoshi, Distrik Rasuwa, dekat perbatasan Nepal dan China. Arus air yang sangat kuat membawa material puing, kendaraan, bangunan, serta warga hingga ke wilayah hilir.
Kawasan Timure dan Syaphrubesi menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Banjir merusak jalan, jembatan, bangunan, dan berbagai infrastruktur sebelum alirannya masuk ke sistem Sungai Trishuli.
Menurut Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal, angka 538 korban tewas mencakup korban yang ditemukan di Rasuwa maupun jenazah yang ditemukan di sejumlah distrik di wilayah hilir.
Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan. Pihak berwenang juga masih mencocokkan data korban dari berbagai distrik.
Jenazah Ditemukan hingga Puluhan Kilometer dari Lokasi Banjir
Karena Sungai Bhotekoshi merupakan bagian dari sistem Sungai Trishuli, derasnya arus membawa korban dan material puing hingga jauh ke wilayah hilir.
Jenazah dan bagian tubuh manusia ditemukan di sejumlah wilayah, antara lain Nuwakot, Dhading, Gorkha, Tanahun, Chitwan, dan Nawalparasi.
Kondisi tersebut membuat operasi penanganan bencana semakin kompleks. Pemerintah tidak hanya harus mencari korban yang masih hidup, tetapi juga mengidentifikasi, menyimpan, dan memakamkan jenazah yang ditemukan.
Di Chitwan, sebanyak 186 jenazah telah ditemukan hingga Jumat sore. Namun, rumah sakit di distrik tersebut hanya memiliki kapasitas kamar jenazah sekitar 30 hingga 50 orang.
Pemerintah kemudian mengubah sebuah bangunan yang tidak digunakan milik Industrial Enterprise Development Institute di Bharatpur menjadi fasilitas penyimpanan jenazah sementara. Tempat tersebut diperkirakan mampu menampung sekitar 250 jenazah.
Pemerintah Kota Metropolitan Bharatpur memperbaiki dan melengkapi fasilitas itu. Organisasi bisnis setempat juga membantu menyediakan es kering.
Krematorium listrik di Devghat turut disiapkan sebagai alternatif apabila fasilitas penyimpanan sementara tersebut mencapai kapasitas maksimal.
Jenazah Dipindahkan ke Sejumlah Kota
Situasi serupa terjadi di Nawalparasi Timur. Sejumlah jenazah harus dipindahkan ke Pokhara, Butwal, Bhairahawa, dan Palpa karena rumah sakit serta fasilitas kesehatan setempat tidak lagi mampu menampungnya.
Sebuah aula hutan komunitas di Kawasoti juga dialihfungsikan menjadi kamar jenazah sementara.
Sementara itu, Pokhara menjadi salah satu lokasi utama penyimpanan jenazah yang ditemukan di wilayah hilir.
Sebanyak 93 jenazah telah dibawa ke Pokhara dari Tanahun, Gorkha, Nawalparasi Timur, dan Dhading.
Rumah sakit di Kaski memiliki kapasitas kamar jenazah sebanyak 88 orang. Dengan demikian, kapasitas penyimpanan yang tersedia telah terlampaui.
Jenazah saat ini disimpan pada suhu antara 2 hingga 6 derajat Celsius. Suhu tersebut dinilai cukup untuk mempertahankan kondisi jenazah selama sekitar 10 hari hingga dua minggu.
Setelah itu, diperlukan suhu yang jauh lebih rendah. Namun, Pokhara belum memiliki fasilitas yang mampu mempertahankan suhu di bawah titik beku untuk menyimpan jenazah dalam jumlah besar.
Identifikasi Korban Menjadi Tantangan
Proses identifikasi korban kini menjadi salah satu tantangan utama.
Polisi Nepal mengambil foto jenazah, sidik jari, melakukan pemeriksaan forensik, serta mengambil sampel DNA jika diperlukan.
Foto jenazah juga digunakan untuk membantu keluarga memastikan apakah kerabat mereka yang hilang telah ditemukan.
Sampel DNA kemudian dikirim ke Kathmandu untuk diperiksa di Nepal Academy of Science and Technology dan Central Forensic Science Laboratory milik Kepolisian Nepal.
Pemerintah juga bersiap menghadapi kemungkinan ditemukannya jenazah yang tidak dapat segera diidentifikasi.
Berdasarkan pedoman pengelolaan jenazah yang tidak teridentifikasi dan tidak diklaim, pemerintah daerah akan berkoordinasi untuk menetapkan lokasi pemakaman yang aman.
Setiap jenazah akan diberikan nomor identifikasi dan data pemakamannya dicatat. Sistem tersebut memungkinkan jenazah dilacak kembali jika identitasnya kemudian diketahui melalui pemeriksaan DNA atau bukti lainnya.
Hampir 1.000 Orang Masih Hilang
Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal mencatat sebanyak 977 orang masih hilang, termasuk 517 warga negara asing.
Kepolisian Nepal juga melaporkan 28 personelnya yang kehilangan kontak selama bencana belum diketahui keberadaannya.
Selain aparat, korban hilang terdiri atas warga sipil, wisatawan, pendaki, dan pelancong yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Pemerintah masih memverifikasi data untuk memastikan apakah sebagian orang yang masuk daftar hilang sebenarnya telah berhasil menyelamatkan diri tetapi belum tercatat.
117 Wisatawan Asing Diselamatkan
Dewan Pariwisata Nepal menyatakan 117 wisatawan asing telah diselamatkan dari sejumlah wilayah Rasuwa yang terdampak banjir.
Mereka terdiri atas 85 warga India, 16 warga China, sembilan warga Korea Selatan, dua warga Amerika Serikat, dan dua warga Italia. Kewarganegaraan tiga wisatawan lainnya masih dalam proses verifikasi.
Helikopter digunakan untuk mengevakuasi warga dari kawasan yang terisolasi akibat kerusakan infrastruktur.
Lebih dari 4.400 personel kepolisian telah dikerahkan dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Angkatan Darat Nepal serta Armed Police Force juga terlibat.
Menurut Kepolisian Nepal, aparat telah menyelamatkan atau memberikan bantuan awal kepada 1.473 orang di Nuwakot, Rasuwa, dan Dhading.
Ancaman Banjir Susulan dari Wilayah China
Di tengah operasi pencarian korban, pemerintah Nepal juga mewaspadai kemungkinan terjadinya banjir susulan dari wilayah China.
Sebuah danau penghalang berukuran besar terbentuk di dekat pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo di sisi China.
Kementerian Sumber Daya Air China memperkirakan volume danau tersebut sekitar 2 juta meter kubik pada Kamis pagi. China juga memperingatkan adanya kemungkinan tambahan sekitar 3 juta meter kubik air masuk ke danau tersebut dalam tiga hari berikutnya.
Pihak berwenang kemudian menerima informasi bahwa danau tersebut telah jebol.
Namun, pemerintah Nepal belum mengonfirmasi adanya keruntuhan danau besar maupun bendungan.
Juru bicara pemerintah sekaligus Menteri Pendidikan Nepal, Sasmit Pokharel, mengatakan Nepal menerima informasi mengenai pecahnya gletser yang menyebabkan air bercampur material puing meluap.
Menurut dia, belum ada informasi mengenai bendungan yang runtuh. China juga menyampaikan bahwa tidak terdapat ancaman besar dalam waktu dekat.
Pemerintah Siapkan Bantuan
Kabinet Nepal memutuskan perdana menteri dan seluruh menteri menyumbangkan satu bulan gaji dan tunjangan mereka ke Dana Bantuan Bencana Alam Perdana Menteri.
Pemerintah juga memerintahkan Kementerian Keuangan menyiapkan paket bantuan dan rehabilitasi bagi masyarakat serta pelaku usaha yang terdampak banjir di sepanjang perbatasan Nepal-China dan wilayah hilir Sungai Bhotekoshi.
India mengirimkan bantuan kemanusiaan tambahan. Pesawat militer ketiga yang membawa 12 ton bantuan dijadwalkan tiba di Nepal. Dua pengiriman sebelumnya telah membawa lebih dari 47 ton bantuan.
Amerika Serikat juga menawarkan bantuan. Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington telah menghubungi Nepal dan siap memberikan bantuan yang diperlukan.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan sedang memantau 90 warga Amerika yang kemungkinan terdampak dan belum diketahui keberadaannya. Tiga warga Amerika lainnya telah berhasil diselamatkan.
Washington juga mengumumkan bantuan sebesar 500.000 dolar AS serta mengirim penasihat respons bencana.
Pencarian Masih Berlangsung
Pada hari ketiga setelah bencana, operasi penanganan banjir Nepal telah berkembang menjadi upaya besar yang mencakup pencarian korban, identifikasi jenazah, evakuasi warga, serta penyediaan fasilitas penyimpanan jenazah di sejumlah distrik.
Kerusakan jalan dan jembatan masih menyulitkan akses ke sejumlah lokasi. Pemerintah juga terus memantau ketinggian air Sungai Bhotekoshi untuk mengantisipasi kemungkinan gelombang banjir berikutnya.
Perkembangan mengenai danau penghalang di wilayah China turut menambah ketidakpastian. Pemerintah Nepal masih berupaya memastikan apakah ada air dalam jumlah besar yang telah dilepaskan ke wilayah hilir.
Masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Bhotekoshi dan Trishuli diminta tetap waspada.
Tiga hari setelah banjir menerjang, skala bencana masih terus terungkap. Sebanyak 538 orang telah meninggal dunia dan 977 orang masih hilang, sementara tim penyelamat terus mencari korban di sepanjang aliran sungai hingga jauh dari lokasi awal bencana.[]


































































