TERBARU

InternasionalNews

Komandan CENTCOM Klaim 90 Persen Industri Pertahanan Iran Telah Hancur

ORINEWS.id – Komandan United States Central Command atau CENTCOM, Brad Cooper, mengeklaim militer Amerika Serikat telah mencapai seluruh tujuan perang terhadap Iran dalam waktu kurang dari 40 hari.

Pernyataan itu disampaikan Cooper saat memberikan keterangan dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat Amerika Serikat atau Senate Armed Services Committee (SASC), Jumat (15/5/2026).

Namun, Cooper tidak menjelaskan secara rinci tujuan utama operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang disebut dimulai sejak 28 Februari 2026.

Presiden Donald Trump juga disebut beberapa kali menyampaikan pernyataan berbeda terkait tujuan perang tersebut.

“Saat ini, Iran tidak lagi dapat menyerang dengan kekuatan dan skala seperti sebelumnya,” ujar Cooper.

Ia menambahkan, sekitar 90 persen basis industri pertahanan Iran disebut telah hancur sehingga Teheran diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan kemampuan militernya.

Selain itu, Cooper menilai kelompok-kelompok yang selama ini menjadi proksi regional Iran, seperti Hamas, Hezbollah, dan Houthi, kini telah terputus dari pasokan serta dukungan persenjataan Iran.

Dalam keterangannya, Cooper juga memuji dukungan sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Yordania, dan Israel.

Menurut dia, negara-negara tersebut membantu operasi militer serta memperkuat pertahanan masing-masing selama konflik berlangsung.

“Namun ada beberapa negara di kawasan itu yang kinerjanya kurang baik,” kata Cooper tanpa menyebut negara yang dimaksud.

Ia juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat mengadopsi sejumlah taktik, teknik, dan prosedur militer yang digunakan Ukraina untuk menghadapi serangan drone Iran.

Menurut Cooper, penggunaan drone murah namun efektif oleh Iran mendorong Washington meminta bantuan pengalaman tempur dari Ukraina.

“Militer AS mengadopsi sejumlah besar taktik, teknik, dan prosedur yang digunakan Ukraina untuk membantu pertahanan terhadap serangan Iran tersebut,” ujarnya.

Cooper mengatakan Amerika Serikat mulai melihat peningkatan kemampuan Iran dalam memproduksi rudal balistik sejak November hingga Desember tahun lalu. Kondisi itu, menurut dia, menimbulkan ancaman serius bagi kepentingan Amerika Serikat dan negara-negara mitranya di kawasan.

Ia juga menyinggung rekam jejak Iran terhadap kepentingan Amerika Serikat.

“Dalam 30 bulan sebelum Operasi Epic Fury, kelompok teror yang didukung Iran menyerang pasukan dan diplomat AS lebih dari 350 kali,” katanya.

Ketika ditanya mengenai laporan yang menyebut Iran masih memiliki sekitar 70 hingga 75 persen rudal dan peluncur yang siap digunakan, Cooper membantah angka tersebut tanpa memberikan rincian lebih lanjut. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.