TERBARU

EkonomiInternasional

Akses Dolar Tertekan, UEA Lirik Yuan untuk Transaksi Minyak

ORINEWS.id – Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mempertimbangkan penggunaan yuan sebagai alternatif di tengah tekanan akses dolar Amerika Serikat (AS) akibat dampak perang terhadap Iran. Langkah ini muncul seiring kekhawatiran meningkatnya gangguan ekonomi di kawasan, seperti dilaporkan The Wall Street Journal.

Kekhawatiran tersebut mencuat ketika ekonomi negara-negara Teluk terdampak efek konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, termasuk konsekuensi dari keberadaan pangkalan militer AS yang menjadi target serangan balasan Iran.

Menurut laporan tersebut, pejabat UEA khawatir konflik ini dapat menggerus posisi negara itu sebagai pusat keuangan global, menguras cadangan devisa, meningkatkan volatilitas pasar, serta mengurangi minat investor yang selama ini memandang UEA sebagai tujuan investasi yang stabil.

Meski sejauh ini UEA dinilai masih mampu menghindari dampak ekonomi terburuk, pejabat setempat mengakui kondisi dapat memburuk sehingga membutuhkan dukungan keuangan eksternal.

UEA Ajukan Akses Likuiditas Dolar

Dalam pertemuan di Washington pekan lalu, Gubernur Bank Sentral UEA Khaled Mohamed Balama mengusulkan pembentukan jalur pertukaran mata uang (currency swap) kepada Menteri Keuangan AS Scott Bessent serta pejabat Departemen Keuangan dan Federal Reserve. Skema ini memungkinkan UEA memperoleh likuiditas dolar saat terjadi tekanan keuangan.

Pejabat UEA juga memperingatkan bahwa jika akses terhadap dolar semakin terbatas, negara itu dapat beralih menggunakan mata uang lain, termasuk yuan China, dalam transaksi minyak dan keuangan.

UEA turut mengaitkan kekhawatiran tersebut dengan keputusan Presiden AS Donald Trump menyerang Iran, yang dinilai telah “menjerat kawasan dalam konflik destruktif dengan dampak yang belum berakhir.”

Namun, laporan itu menyebut peluang persetujuan jalur swap tersebut relatif kecil karena biasanya hanya diberikan kepada negara dengan integrasi keuangan yang lebih dalam dengan pasar AS. Keputusan tersebut juga harus mendapat persetujuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), yang dinilai masih skeptis.

Tekanan Ekonomi Kawasan Teluk Meningkat

Meskipun dirham UEA tetap dipatok terhadap dolar AS dan didukung cadangan devisa sekitar 270 miliar dolar AS, analis memperingatkan bahwa ketidakstabilan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko arus keluar modal dan gangguan ekonomi.

S&P Global menilai bantalan fiskal UEA mampu meredam guncangan jangka pendek, namun gangguan berkepanjangan terhadap ekspor minyak atau kerusakan infrastruktur dapat menimbulkan risiko besar.

Secara regional, tekanan juga meningkat. Iran dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 2.800 drone dan rudal ke aset AS dan Israel di negara-negara Teluk, termasuk UEA, meskipun sebagian besar berhasil dicegat.

Di saat yang sama, pemerintah negara Teluk mulai meningkatkan penerbitan utang untuk memperkuat likuiditas, di tengah kondisi yang oleh Badan Energi Internasional disebut sebagai “guncangan pasokan minyak paling parah dalam sejarah.”

Pemulihan Belum Pasti

Pejabat AS menyatakan kesiapan untuk berdialog dengan negara-negara Teluk terkait kebutuhan pemulihan dan infrastruktur dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia di Washington. Namun, para menteri keuangan dan bank sentral memperingatkan bahwa pemulihan cepat sulit terjadi.

Menteri Keuangan Arab Saudi Mohammed al-Jadaan menyebut pemulihan logistik minyak kemungkinan baru tercapai pada akhir Juni, sekaligus mengingatkan agar tidak berharap pemulihan berlangsung cepat.

Krisis ini juga mengubah dinamika kawasan, mendorong UEA semakin dekat dengan Amerika Serikat sekaligus menjauh dari upaya sebelumnya untuk menjaga hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Iran sebagai strategi menghadapi ketidakstabilan. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.