TERBARU

InternasionalNews

Iran: Israel Bebas Perluas Persenjataan Militer, Tapi Paksa Negara Lain Melepas Senjata

ORINEWS.id – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkritik keras apa yang ia sebut sebagai “doktrin dominasi” yang, menurutnya, memberi ruang bagi Israel untuk memperluas persenjataan militernya tanpa batas, sementara negara-negara lain di Timur Tengah justru ditekan untuk melucuti diri.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam sebuah konferensi di Qatar pada Sabtu, sehari setelah perundingan nuklir terbaru antara Iran dan Amerika Serikat berlangsung. Namun, Araghchi tidak membeberkan secara rinci hasil pembicaraan dengan Washington tersebut.

“Proyek ekspansionis Israel mengharuskan negara-negara tetangganya dilemahkan—baik secara militer, teknologi, ekonomi, maupun sosial,” kata Araghchi. Ia menambahkan, di bawah kerangka tersebut Israel bebas mengembangkan kemampuan militernya, sementara negara lain dituntut untuk mengurangi kapasitas pertahanan dan bahkan dihukum atas kemajuan ilmiah yang mereka capai.

“Inilah yang kami sebut sebagai doktrin dominasi,” ujar Araghchi, seperti dikutip dari AFP, Minggu, 8 Februari 2026.

Kritik itu muncul dalam konteks meningkatnya ketegangan regional pascaperang 12 hari yang pecah pada Juni lalu. Konflik tersebut dipicu oleh serangan besar-besaran Israel ke Iran yang menargetkan pejabat militer senior, ilmuwan nuklir, fasilitas strategis, serta kawasan permukiman. Amerika Serikat kemudian ikut melancarkan serangan terhadap fasilitas nuklir utama Iran.

Iran merespons dengan serangan drone dan rudal ke wilayah Israel, serta menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat terbesar di Timur Tengah yang berada di Qatar.

Pada Jumat lalu, Araghchi memimpin delegasi Iran dalam perundingan nuklir tidak langsung dengan utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, di Muscat, Oman. Araghchi menggambarkan suasana pertemuan itu sebagai “sangat positif”. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyebut pembicaraan tersebut “sangat baik”, dengan kedua pihak sepakat melanjutkan negosiasi.

Perundingan ini berlangsung di tengah tekanan Washington terhadap Teheran, termasuk pengerahan kelompok tempur kapal induk ke kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat mendorong agar isu program rudal balistik Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan turut dibahas—agenda yang selama ini didorong Israel.

Namun Iran berulang kali menegaskan penolakannya untuk memperluas cakupan perundingan di luar isu nuklir. Teheran menyatakan, pembahasan mengenai kemampuan pertahanan dan kebijakan regionalnya tidak akan menjadi bagian dari negosiasi dengan Amerika Serikat. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.