TERBARU

InternasionalNews

Dua Tahun Genosida Gaza, UNRWA: 66 Ribu Tewas, Kelaparan hingga Pengungsian Massal

ORINEWS.id – Dua tahun genosida di Jalur Gaza yang digencarkan penjajah Israel telah meninggalkan kehancuran besar dan penderitaan kemanusiaan yang mendalam. Dalam laporan terbarunya, Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menggambarkan kondisi yang “mengerikan” setelah lebih dari 66 ribu orang tewas dan hampir seluruh penduduk Gaza terpaksa mengungsi.

Mengutip Al Mayadeen, Senin (6/10/2025), UNRWA mencatat sedikitnya 66.100 korban jiwa, termasuk 18.430 anak-anak, akibat agresi militer Israel yang terus berlangsung sejak 2023. Hampir seluruh penduduk Gaza kini hidup berpindah-pindah, banyak di antaranya kehilangan tempat tinggal berkali-kali.

Infrastruktur Hancur dan Krisis Kesehatan

Sekitar 80 persen bangunan di Gaza rusak atau hancur total, termasuk fasilitas UNRWA yang selama ini menjadi tempat berlindung bagi ribuan warga sipil. Setidaknya 845 pengungsi tewas di fasilitas badan tersebut, sementara lebih dari 370 staf UNRWA turut menjadi korban. Pada puncak perang, hingga satu juta orang mencari perlindungan di pusat-pusat penampungan UNRWA.

Sistem kesehatan Gaza nyaris kolaps. Kurang dari 40 persen rumah sakit masih beroperasi—itu pun hanya sebagian. Dari 22 pusat kesehatan UNRWA, kini hanya empat yang masih berfungsi. Laporan juga mencatat lebih dari 790 serangan terhadap tenaga medis, pasien, dan fasilitas kesehatan.

Meski di tengah keterbatasan, UNRWA tetap menyediakan lebih dari 10 juta konsultasi layanan kesehatan primer, termasuk vaksinasi bagi 300 ribu anak-anak. Namun, penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan, diare akut, kudis, dugaan meningitis, tuberkulosis, dan sindrom langka Guillain-Barré dilaporkan meningkat tajam.

Gaza Dilanda Kelaparan

UNRWA mengonfirmasi terjadinya kelaparan di wilayah kegubernuran Gaza, dengan situasi diprediksi memburuk di Deir el-Balah dan Khan Younis. Badan tersebut kehilangan pasokan makanan pada April 2025, setelah otoritas Israel memblokir masuknya bantuan kemanusiaan sejak 2 Maret 2025.

Lebih dari 98 persen lahan pertanian Gaza telah rusak atau tidak dapat diakses. Akibatnya, 455 orang meninggal akibat kelaparan, termasuk 150 anak-anak. Selama periode gencatan senjata singkat, sekitar dua juta warga menerima bantuan pangan darurat.

Selain itu, hampir 90 persen infrastruktur air dan sanitasi hancur. Sekitar 500 ribu perempuan dan anak perempuan tidak memiliki perlengkapan kebersihan menstruasi yang layak, sementara 60 persen rumah tangga tidak memiliki sabun. Lebih dari 40 persen penduduk hidup di sekitar tempat pembuangan sampah yang tidak dikelola.

Pendidikan Terganggu Tiga Tahun Berturut-turut

Sektor pendidikan juga mengalami keruntuhan. Hampir 660 ribu anak kehilangan akses belajar selama tiga tahun terakhir, setengahnya merupakan siswa sekolah-sekolah UNRWA. Sekitar 92 persen gedung sekolah kini memerlukan rekonstruksi penuh atau rehabilitasi besar.

Sebagai alternatif, UNRWA menjalankan program pembelajaran jarak jauh yang menjangkau 290 ribu anak, serta kegiatan pendidikan di tempat penampungan bagi 59 ribu anak. Program dukungan psikososial juga diberikan kepada lebih dari 500 ribu anak yang terdampak perang.

Seruan UNRWA

Meski terus beroperasi di tengah ancaman dan kekurangan, UNRWA tetap menyediakan layanan vital: pemeriksaan malnutrisi bagi 277 ribu balita, distribusi makanan darurat, vaksinasi, perlengkapan kebersihan hingga dukungan psikososial bagi kelompok rentan.

Namun, badan tersebut memperingatkan bahwa blokade Israel yang berkelanjutan dan serangan terhadap fasilitas kesehatan serta pendidikan telah sangat menghambat upaya kemanusiaan.

“Tanpa pencabutan blokade dan dukungan internasional yang segera, bencana kemanusiaan di Gaza akan terus memburuk — terutama bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang paling rentan,” ujar Pejabat UNRWA dalam laporannya. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.