TERBARU

Pendidikan

Alumni Teknik Elektro USK Buleun Waladah Publikasikan Riset AI untuk Identifikasi Autisme Berbasis EEG

ORINEWS.id, BANDA ACEH — Alumni Program Studi Teknik Elektro dan Magister Teknik Elektro Universitas Syiah Kuala (USK), Buleun Waladah, S.T., M.T., berhasil mempublikasikan penelitian mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu identifikasi Autism Spectrum Disorder (ASD) melalui analisis sinyal aktivitas listrik otak atau Electroencephalography (EEG).

Penelitian tersebut dipublikasikan pada September 2026 dalam IIUM Engineering Journal (IIUMEJ), jurnal yang terindeks Scopus dan berada pada kuartil Q2. Riset ini berada pada irisan bidang Electrical Engineering, Biomedical Engineering, Signal Processing, serta Artificial Intelligence/Machine Learning.

Putri Pidie tersebut mengembangkan metode berbasis AI untuk mengklasifikasikan sinyal EEG dari individu dengan ASD dan individu neurotipikal. Metode yang digunakan mengombinasikan Blackman–Harris Finite Impulse Response (FIR) filtering, ekstraksi dan seleksi fitur, serta algoritma machine learning CatBoost.

Berdasarkan hasil penelitian, algoritma CatBoost memberikan performa terbaik dengan akurasi mencapai 99,58 persen pada tingkat epoch. Penelitian tersebut menggunakan data EEG dari 16 peserta dan membandingkan beberapa algoritma klasifikasi.

Hasil penelitian menunjukkan potensi penggunaan metode berbasis AI dalam membantu proses identifikasi awal ASD. Meski demikian, Buleun menegaskan bahwa hasil penelitian tersebut masih bersifat preliminary dan belum ditujukan sebagai alat diagnosis klinis.

“Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan sistem berbasis AI sebagai alat bantu identifikasi awal ASD. Namun, hasil penelitian ini masih bersifat preliminary dan belum ditujukan sebagai alat diagnosis klinis,” ujarnya.

Ketertarikan Buleun terhadap AI, pengolahan sinyal, dan teknologi kesehatan telah dibangun sejak menempuh pendidikan sarjana. Ia aktif menghasilkan karya ilmiah yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, pengolahan sinyal EEG, dan ASD.

Salah satu publikasinya yang menjadi bagian dari persyaratan penyelesaian studi S1 diterbitkan pada jurnal terakreditasi SINTA 1. Publikasi tersebut membahas penerapan teknologi dan metode komputasi untuk mendukung identifikasi atau klasifikasi ASD.

Luaran akademik tersebut menjadi salah satu bentuk capaian yang memungkinkan Buleun menyelesaikan studi S1 tanpa melalui sidang akhir skripsi, sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.

Ia juga terlibat dalam publikasi pada forum atau konferensi internasional yang terhubung dengan Springer Lecture Notes in Electrical Engineering (LNEE) melalui penelitian berjudul “Comparative Analysis of EEG Pre-Processing in ASD Using Butterworth Band Pass and Blackman-Harris Filter.”

Penelitian tersebut membandingkan metode filtering untuk meningkatkan kualitas sinyal EEG sebelum digunakan dalam analisis ASD dan telah dipresentasikan dalam GEn-CITy 2025.

Riset terkait pengolahan sinyal EEG juga berlanjut melalui penelitian mengenai perbandingan filter Hanning dan Blackman-Harris untuk pre-processing sinyal EEG pada individu dengan ASD dan neurotipikal. Penelitian tersebut kemudian diterbitkan dalam SINERGI, jurnal terakreditasi SINTA 1.

“Secara umum, fokus riset saya berada pada irisan Electrical Engineering – Biomedical Engineering – Signal Processing – Artificial Intelligence/Machine Learning, dengan ASD sebagai salah satu objek utama penelitian,” kata Buleun.

Selain aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah, Buleun juga terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya melalui program “Revitalisasi Penulisan Artikel Ilmiah Berbasis Mendeley bagi Guru SMK Negeri 1 Darul Kamal Aceh Besar.”

Program tersebut berfokus pada peningkatan kemampuan guru dalam menyusun artikel ilmiah serta memanfaatkan aplikasi Mendeley untuk pengelolaan referensi dan penulisan akademik. Kegiatan tersebut dipublikasikan dalam Jurnal Pengabdian Rekayasa dan Wirausaha pada 2024.

Buleun juga tercatat sebagai salah satu inventor dalam Hak Cipta berupa program komputer untuk pre-processing sinyal EEG menggunakan metode Butterworth BandPass Filter.

Karya tersebut dikembangkan sebagai bagian dari penelitian pengolahan sinyal EEG, khususnya untuk membantu membersihkan dan mempersiapkan sinyal sebelum memasuki tahap analisis lebih lanjut.

Dengan demikian, kiprahnya tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mencakup pengembangan perangkat lunak yang mendukung penelitian di bidang signal processing dan biomedical engineering.

Di luar kegiatan akademik dan penelitian, Buleun juga aktif dalam kegiatan kepemudaan dan internasional. Pada 24–27 Juni 2024, ia mendapat kesempatan menjadi perwakilan Indonesia dalam Asia-Pacific Regional Youth Leadership Training Course (APR-YLTC) di Bangladesh.

Selama empat hari kegiatan, Buleun mengikuti berbagai agenda seperti pelatihan kepemimpinan, teamwork, diskusi, simulasi, serta bertukar pengalaman dengan peserta Pramuka muda dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan sekaligus membangun jejaring internasional.

Buleun mengatakan keberhasilannya menjalani berbagai aktivitas di bidang akademik, penelitian, organisasi, kepemudaan, dan pengabdian berawal dari rasa ingin tahu serta kemauan untuk terus belajar.

Baginya, setiap pengalaman memberikan pelajaran yang berbeda dan saling melengkapi. Ia juga menyadari bahwa membagi waktu antara kuliah, penelitian, organisasi, dan berbagai tanggung jawab bukanlah hal yang selalu mudah.

Namun, proses tersebut justru mengajarkannya mengenai disiplin, menentukan prioritas, dan terus berkembang di tengah kesibukan.

“Kita tidak harus menunggu menjadi ‘sempurna’ untuk mulai berkarya. Berani mencoba, konsisten, dan mau belajar dari setiap proses adalah hal yang selama ini membantu saya terus berkembang,” ujarnya.

Ke depan, Buleun ingin terus mengembangkan diri dalam bidang riset dan teknologi, khususnya AI, signal processing, dan biomedical engineering. Ia juga ingin tetap membuka ruang untuk kolaborasi, pengabdian, dan kontribusi bagi masyarakat.

“Lebih dari sekadar mengejar pencapaian, saya ingin setiap ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan memiliki arti bagi orang lain,” katanya.

Bagi Buleun, pencapaian akademik bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan titik awal untuk belajar lebih banyak, menghasilkan karya yang lebih luas, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.[]

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.