ORINEWS.id, BANDA ACEH — Suasana di stan perlombaan Festival Kuah Beulangong Universitas Syiah Kuala (USK) pecah dengan gelak tawa. Dewan juri tersenyum sambil telaten mengisi lembar penilaian, mewawancarai peserta, hingga mencicipi kuliner khas Aceh tersebut.
“Makin rahasia bumbu, makin kecil peluang menang,” celoteh pembawa acara.
Minggu, 20 September 2026, pelataran Gedung AAC Dayan Dawood sesak oleh pengunjung. Stan masak berjejer rapi. Sejak pagi, delegasi dari seluruh fakultas, lembaga, Unit Pelaksana Teknis, hingga alumni sudah sibuk mempersiapkan Kuah Beulangong terbaik mereka.
Di balik meja-meja penilaian, tampak barisan dewan juri yang terdiri atas pakar kuliner tradisional, akademisi, hingga unsur kebudayaan. Mereka antara lain Cut Jarita Susanti, Teuku Raden Sulaiman, Prof. Dr. Ir. Muhammad Zaki, M.Sc., IPM., Lem Bakri, Laili Suhairi, S.Pd., M.Si., Dr. Faisal Jamin, M.Si., Fachrizal Amba, M.Pd., serta Mashuri, S.T.
Para juri cermat mengamati setiap detail sajian yang dihidangkan peserta.
“Festival Kuah Beulangong menjadi sarana USK untuk memupuk semangat kekeluargaan, bersamaan dengan rangkaian Milad ke-65. Sekaligus ikhtiar kami untuk terus melestarikan kekayaan budaya kuliner khas Aceh,” ungkap Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH.
Pelepah muda kelapa yang dijadikan sebagai centong khas menari bersama potongan daging dalam 42 belanga besar. Selain juru masak khusus, para dekan, dosen, tenaga kependidikan, hingga satuan pengamanan bahu-membahu untuk menciptakan racikan rasa terbaik.
Hal tersebut dinilai penting karena masakan ini nantinya tidak hanya disantap oleh keluarga besar USK, tetapi juga masyarakat sekitar yang hadir mengisi akhir pekan di festival tersebut.
“Hasil penilaian dewan juri nantinya akan diumumkan di malam puncak Milad USK ke-65. Salah satu hadiah paling menarik yang disiapkan adalah satu unit sepeda motor bagi sang juara,” beber Okta selaku panitia pelaksana.
Ia menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat sehingga Festival Kuah Beulangong USK berlangsung meriah. Menurutnya, momen tersebut semakin bermakna ketika hidangan tradisional ini dapat dinikmati bersama oleh masyarakat dan mahasiswa.
Menjelang matahari meninggi, Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A., bersama para pimpinan universitas menyambangi satu per satu stan perlombaan. Ia turut mengajak sivitas akademika yang telah bekerja keras untuk mengabadikan momen kebersamaan tersebut.
“Festival Kuah Beulangong punya makna filosofis, tetap mengakar di tengah akselerasi USK mendunia. Kita ingin kebersamaan yang selama ini sudah terbangun sangat baik terus erat untuk mewujudkan cita-cita bersama, USK yang semakin maju,” tutur Rektor.
Setelah berkutat dengan waktu, akhirnya Kuah Beulangong rampung dimasak. Setiap stan menyajikan makanan dengan konsep prasmanan, membuat antrean mengular. Para pengunjung menikmati makan siang setelah peserta lelah melaksanakan jalan santai mengitari kawasan kampus USK.
Menariknya, selain dapat makan di tempat, panitia juga memperbolehkan pengunjung membawa pulang makanan. Warga, mahasiswa, dosen, maupun tenaga kependidikan diperbolehkan membawa pulang hidangan dengan membawa wadah sendiri dari rumah.
“Festival Kuah Beulangong USK, saya pastikan bebas dari ganja,” kelakar Brigjen Pol Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si.
Sontak, hadirin menyambut pernyataan itu dengan tawa dan tepuk tangan meriah. Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh tersebut turut mengenang masa-masa ketika bertugas di luar daerah, saat ia kerap dipercaya menjadi dewan juri untuk masakan serupa.
“Semoga kegiatan makan-makan Kuah Beulangong begini terus ada setiap tahunnya,” harap salah seorang warga yang turut hadir meramaikan suasana.[]












































































