TERBARU

InternasionalNews

Rusia Sebut Hubungan dengan Iran Bersifat Strategis dan Tak Bisa Dinegosiasikan

ORINEWS.id – Duta Besar Rusia untuk Teheran, Alexey Dedov, menegaskan hubungan antara Moskow dan Teheran bersifat strategis dan tidak dapat dinegosiasikan. Ia menyebut kemitraan dengan Iran sebagai salah satu prioritas utama kebijakan luar negeri Rusia.

Dalam wawancara dengan Kantor Berita Fars Iran, Dedov menolak tekanan asing yang berupaya mengganggu hubungan kedua negara. “Rusia tidak akan tunduk pada tekanan apa pun atau mencari alternatif selain kemitraannya dengan Iran,” ujarnya.

Dedov menegaskan bahwa Moskow tidak mengakui pembatasan yang diakibatkan oleh mekanisme snapback dan tidak akan berpartisipasi dalam pembentukan komite sanksi terhadap Iran.

“Kami tidak melihat mekanisme pemicu itu telah diaktifkan,” katanya, dikutip dari Al Mayadeen, Minggu (2/10/2025).

Ia juga menjelaskan bahwa kerja sama militer antara Rusia dan Iran berjalan sesuai hukum internasional dan tidak menargetkan pihak ketiga mana pun. Di bidang energi, Dedov menyebut kerja sama nuklir kedua negara berlangsung “sangat baik,” termasuk dalam pembangunan unit kedua dan ketiga Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr, meski keduanya tengah menghadapi sanksi internasional.

Mengenai Suriah, Dedov menilai ada peluang realistis untuk memperdalam hubungan antara Damaskus dan Teheran, terutama di sektor ekonomi. Rusia, kata dia, akan mendukung langkah-langkah praktis setelah proyek-proyek bersama mencapai tahap implementasi. Ia mengungkapkan, isu Suriah menjadi fokus pembahasan antara utusan Rusia Alexander Lavrentiev dan pejabat Iran dalam kunjungan terbaru ke Teheran.

Dedov juga menyebut kunjungan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa ke Moskow sebagai sinyal positif yang menunjukkan kesiapan penuh Damaskus memperkuat hubungan dengan Rusia.

Kerja Sama Trilateral yang Kuat

Selain itu, Dedov menegaskan kesiapan Rusia untuk membantu memfasilitasi normalisasi hubungan antara Iran dan Amerika Serikat jika situasi memungkinkan. Namun, ia menekankan bahwa kerja sama trilateral antara Iran, Rusia, dan Tiongkok tetap “sangat kuat dan berkelanjutan.”

Ia menambahkan Moskow dan Teheran memiliki pandangan yang sejalan terhadap situasi regional, terutama di Gaza. “Kedua negara mengutuk keras kekerasan dan pertumpahan darah terhadap rakyat Palestina,” ujar Dedov.

Pernyataan itu muncul setelah berlakunya Comprehensive Strategic Partnership Agreement antara Rusia dan Iran pada 2 Oktober lalu. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut perjanjian tersebut sebagai “tonggak penting” dalam sejarah hubungan kedua negara.

Rusia dan Iran Tegaskan Komitmen

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan utusan khusus Presiden Rusia untuk Suriah, Alexander Lavrentiev. Kedua pihak kembali menegaskan komitmen terhadap persatuan Suriah dan menolak upaya mengeksploitasi perjanjian nuklir untuk memberlakukan kembali sanksi.

Araghchi menyampaikan apresiasinya atas sikap tegas Rusia di Dewan Keamanan PBB, khususnya penolakannya terhadap penggunaan mekanisme penyelesaian sengketa untuk menghidupkan kembali resolusi nuklir lama terhadap Iran.

Lavrentiev pada kesempatan itu menekankan pentingnya kemitraan strategis antara Iran dan Rusia serta perlunya konsultasi berkelanjutan mengenai isu-isu regional dan internasional.

Di tengah meningkatnya tekanan dari negara-negara Barat, Teheran memperkuat hubungan dengan Rusia, Tiongkok, dan anggota Gerakan Non-Blok (GNB). Araghchi menyebut koordinasi ini bertujuan “menetralisir tindakan unilateral Uni Eropa dan mempertahankan multilateralisme sejati.” []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.