ORINEWS.id – Seorang tentara penjajah Israel dari Brigade Nahal dilaporkan tewas setelah ditembak penembak jitu Palestina dalam pertempuran di Jalur Gaza. Kabar itu disampaikan sejumlah media Israel pada Rabu malam, yang menggambarkan insiden tersebut sebagai peristiwa keamanan serius.
Media setempat menambahkan, peristiwa itu terjadi di tengah baku tembak kompleks pada Rabu sore, yang berakhir dengan situasi sulit bagi pasukan penjajah Israel.
Sebelumnya pada hari yang sama, sayap militer Hamas, Brigade al-Qassam, mengumumkan berhasil menargetkan dua tank Merkava Israel menggunakan rudal balistik Yassin-105 di wilayah Tel al-Hawa, selatan Kota Gaza. Serangan itu disebut menewaskan atau melukai sejumlah tentara penjajah di dalamnya.
Insiden tersebut berlangsung hanya sehari setelah militer Israel mengakui kematian dua tentaranya di Gaza.
Selain itu, seorang prajurit lain juga dilaporkan meninggal akibat luka parah setelah terkena serangan penyergapan pejuang Palestina di Kota Gaza. Kematian ini menambah daftar panjang korban di pihak Israel.
Kritik dari dalam Israel
Perdebatan mengenai jalannya operasi militer penjajah Israel di Gaza terus berlanjut. Mantan anggota kabinet keamanan Israel, Gadi Eizenkot, menyebut rencana invasi ke Kota Gaza sebagai “kebodohan strategis.”
“Penyerbuan Kota Gaza tidak akan menghasilkan kemenangan atas Hamas,” kata Eizenkot, seperti dikutip Israel Hayom.
Ia menilai tentara Israel saat ini berada di bawah kepemimpinan yang tidak tepat.
Pernyataan itu sejalan dengan pengakuan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel, Eyal Zamir. Dalam wawancara dengan Saluran 12, Zamir mengatakan Hamas “tidak dapat dikalahkan secara militer maupun politik, bahkan setelah operasi pendudukan Kota Gaza.”
Respons Hamas
Di sisi lain, Hamas mengecam langkah penjajah Israel memperluas operasi di Gaza. Dalam pernyataan resminya pada Selasa, Hamas menyebut tindakan itu sebagai “babak baru dalam perang genosida dan pembersihan etnis sistematis” terhadap warga Palestina.
“Kejahatan-kejahatan ini, yang telah melampaui semua norma dan hukum internasional, dilakukan dengan dukungan politik dan militer dari pemerintahan Amerika,” tulis Hamas dalam keterangan persnya.
Mereka menyerukan masyarakat internasional, termasuk negara-negara Arab dan Islam, untuk mengambil sikap tegas menghentikan agresi penjajah Israel. Hamas juga menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertanggung jawab atas keselamatan tawanan yang masih berada di Gaza. []















































































