ORINEWS.id — Sedikitnya 51 serangan bom dan aksi pembakaran terjadi secara terkoordinasi di sejumlah wilayah Thailand selatan pada Sabtu (22/8/2026) malam hingga Minggu (23/8/2026) dini hari.
Komando Operasi Keamanan Dalam Negeri Thailand (ISOC) mengatakan serangkaian serangan tersebut menargetkan kantor pemerintah daerah, kendaraan, serta sejumlah fasilitas lainnya di provinsi-provinsi perbatasan selatan.
“Sejumlah insiden terkoordinasi yang bertujuan menciptakan keresahan terjadi di berbagai lokasi di provinsi perbatasan selatan,” kata ISOC dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera, Minggu (23/8/2026).
Rangkaian serangan berlangsung dalam rentang waktu sekitar pukul 20.00 hingga tengah malam waktu setempat. Sebagian besar insiden dilaporkan terjadi di Provinsi Narathiwat.
Sebuah ledakan di pinggir jalan menyebabkan tiga warga sipil terluka. Mereka terdiri dari dua perempuan berusia 45 dan 46 tahun serta seorang pria berusia 21 tahun.
Ketiganya telah dievakuasi ke rumah sakit dan dilaporkan dalam kondisi stabil. Setelah serangan terjadi, otoritas setempat juga memberlakukan jam malam di Narathiwat.
Rekaman televisi lokal Thai PBS memperlihatkan petugas pemadam kebakaran menangani sejumlah titik api, termasuk ban yang sengaja dibakar dan diletakkan di tengah jalan serta sebuah gerai 7-Eleven yang terbakar.
Polisi juga melakukan pemeriksaan terhadap pengendara di sejumlah lokasi sebagai bagian dari upaya pengamanan pascaserangan.
Selain Narathiwat, serangan serupa dilaporkan terjadi di Provinsi Yala dan Pattani.
Jalur Kereta Api Rusak
Dampak serangan juga dirasakan pada layanan transportasi. Operator kereta api nasional Thailand menghentikan sementara sebagian perjalanan di Narathiwat setelah menemukan kerusakan pada jalur rel yang diduga akibat ledakan.
Di salah satu lokasi, sebuah kendaraan dilaporkan dicuri dari kantor organisasi administrasi tingkat kecamatan di Narathiwat sebelum kantor tersebut dibakar. Mobil pikap yang telah hangus kemudian ditemukan ditinggalkan di sebuah ruas jalan.
Gubernur Narathiwat Boonchuay Homyamyen mengatakan aparat masih melakukan pemeriksaan di sejumlah lokasi kejadian pada Minggu.
Lokasi yang diperiksa mencakup kantor pemerintahan daerah, menara telekomunikasi, serta tiang listrik yang terdampak serangan.
Komandan militer Thailand untuk wilayah selatan, Norathip Poinok, menduga serangkaian serangan tersebut bertujuan merusak fasilitas pemerintah sekaligus mengikis kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Menurut Norathip, aparat sebenarnya telah menerima informasi intelijen mengenai potensi serangan terhadap kantor pemerintahan daerah selama sekitar dua bulan terakhir.
“Kami menerima laporan intelijen selama sekitar dua bulan bahwa akan terjadi serangan terhadap kantor-kantor lokal,” ujarnya.
Namun, informasi tersebut belum dapat mengungkap secara pasti waktu dan lokasi serangan. Hingga kini belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas rangkaian aksi tersebut.
Konflik Separatis Berkepanjangan
Thailand selatan telah dilanda konflik separatis sejak 2004. Kelompok pemberontak di wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim tersebut selama bertahun-tahun menuntut otonomi yang lebih besar dari pemerintah Thailand.
Konflik di wilayah selatan Thailand telah menewaskan lebih dari 7.000 orang sejak 2004. Serangan terhadap aparat keamanan dan fasilitas pemerintah juga masih terjadi secara berkala.
Pada bulan lalu, lima tentara Thailand tewas dalam serangan penembakan dan bom yang menyasar sebuah pos pemeriksaan di Narathiwat.
Di tengah meningkatnya kekerasan, pemerintah Thailand dan Barisan Revolusi Nasional (BRN), kelompok separatis utama di kawasan tersebut, berupaya menghidupkan kembali proses perdamaian.
Perundingan yang sempat dijadwalkan kembali pada Juni masih menghadapi sejumlah persoalan, termasuk terkait pemerintahan sendiri, mekanisme keamanan, dan keterwakilan politik.
Pekan ini, Kepala Badan Intelijen Nasional Thailand Thanut Suvarnananda menyatakan perlunya perubahan pendekatan dalam proses perdamaian. Ia menilai pemerintah tidak seharusnya hanya melihat BRN sebagai lawan, tetapi juga sebagai calon mitra untuk menyelesaikan berbagai tuntutan masyarakat di wilayah selatan, terutama Pattani, Yala, dan Narathiwat.
Sementara itu, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul bersama sejumlah anggota kabinet dijadwalkan mengunjungi Hat Yai, Provinsi Songkhla, pekan depan.
Kunjungan tersebut akan membahas sejumlah persoalan, mulai dari investasi dan pencegahan banjir hingga isu keamanan di kawasan selatan Thailand.[]






































































