ORINEWS.id, BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) secara resmi menutup rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (Pakarmaru) Tahun 2026 di Stadion Mini USK, Darussalam, Banda Aceh, Kamis (13/8/2026).
Penutupan kegiatan orientasi mahasiswa baru tersebut berlangsung meriah. Salah satunya ditandai dengan atraksi formasi paper mop kolosal yang dibentuk ribuan mahasiswa baru di tengah lapangan hijau.
Upacara penutupan dihadiri jajaran pimpinan universitas, termasuk Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) USK Dr. Safrizal Z.A., M.Si. dan Rektor USK Prof. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A.
Kehadiran para pimpinan universitas memberikan motivasi kepada mahasiswa baru untuk memulai kehidupan akademik dengan penuh kesungguhan.
Dalam arahannya, Safrizal mengingatkan mahasiswa baru agar segera meninggalkan budaya masa SMA dan bersiap menghadapi dinamika pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.
Menurut dia, awal perkuliahan merupakan titik tolak bagi mahasiswa untuk membangun masa depan di tengah era disrupsi teknologi.
“Sebagian pekerjaan masa depan akan diambil alih oleh AI. Mahasiswa tidak perlu pencet sendiri, yang digerakkan oleh kemauan, keseriusan, dan kerja keras. Indonesia Emas ada di 2045, pada saat itu 64 juta akan mengisi pembangunan dan sebagian besar adalah adik-adik sekalian,” ujar Safrizal.
Keterampilan kerja berubah
Safrizal juga menyoroti perubahan lanskap dunia kerja. Ia memaparkan data World Economic Forum melalui Future of Jobs Report yang menyebutkan akan ada 170 juta pekerjaan baru, sementara 92 juta pekerjaan akan bergeser atau tergantikan.
Selain itu, hampir 40 persen keterampilan kerja diperkirakan berubah hingga 2030.
Merujuk penelitian David Deming, Safrizal mengatakan pasar kerja semakin menghargai social skills, seperti kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berkoordinasi, dan bekerja dalam tim.
Karena itu, menurut dia, pertanyaan utama mahasiswa bukan sekadar apakah mereka akan mendapatkan pekerjaan, tetapi apakah kemampuan yang dimiliki tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
“Teknologi boleh semakin pintar dan AI hanya akan menjadi co-pilot, tetapi manusia harus semakin bijaksana,” katanya.
Safrizal menegaskan, pencapaian akademik di perguruan tinggi saja tidak cukup untuk menghadapi persaingan global. Mahasiswa perlu aktif berorganisasi, membangun jejaring, serta menempa karakter yang jujur dan berintegritas.
“Pertanyaannya, apa yang kalian bangun selama beberapa tahun kuliah? Mencari ijazah? Prestasi? Itu penting. Tapi itu semua tidak cukup. Maka gelar akan membawa kalian ke pintu pertama, seterusnya adalah karakter dan kompetensi yang akan membawa Anda ke tahap sukses berikutnya,” tegasnya.
Lima pesan untuk mahasiswa baru
Sebelum mengakhiri arahannya, Safrizal menitipkan lima pesan kepada mahasiswa baru.
Pertama, mahasiswa diminta tidak hanya menjadi pribadi yang pintar, tetapi juga dapat dipercaya. Kedua, tidak hanya mengejar gelar, tetapi membangun kemampuan.
Ketiga, mahasiswa diminta tidak takut terhadap AI, melainkan menguasai teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir. Keempat, mahasiswa diminta tidak melihat Aceh hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai daerah yang membutuhkan karya mereka.
Kelima, mahasiswa diminta tidak kehilangan hati karena pendidikan yang tinggi seharusnya membuat seseorang menjadi lebih manusiawi, peduli, dan bermanfaat.
Safrizal juga mendorong mahasiswa untuk berani bersaing dan tidak hanya menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi juga pencipta lapangan kerja (job creator).
Mahasiswa, kata dia, perlu membangun hobi yang mendukung target, sekaligus menjaga portofolio dan rekam jejak yang bersih.
Ia juga mengajak mahasiswa baru untuk bangga mengenakan almamater hijau USK.
“Banggalah berbaju almamater hijau USK. Dari mana pun Anda berasal, baik Aceh atau luar Aceh yang memilih kampus ini, jadikan USK sebagai kebanggaan. Kejar prestasi setinggi-tingginya, berani bersaing dengan kampus yang ada di seluruh Nusantara ini,” pesan Safrizal.
USK siapkan mahasiswa berdaya saing
Sementara itu, Rektor USK Prof. Mirza Tabrani mengatakan USK berkomitmen mendampingi mahasiswa baru dalam bertransformasi menjadi insan akademik yang adaptif, inovatif, dan berakhlak mulia.
“USK bukan sekadar tempat menimba ilmu teori di ruang kelas, melainkan kawah candradimuka tempat menguji ketahanan mental, membangun jejaring, dan mengasah kepekaan sosial. Manfaatkan setiap fasilitas dan kesempatan yang ada di kampus ini untuk menempa diri menjadi generasi yang unggul dan berdaya saing global,” ujar Mirza.
Penutupan Pakarmaru 2026 yang diwarnai atraksi paper mop menjadi simbol solidaritas dan semangat kebersamaan mahasiswa baru.
Dengan berakhirnya rangkaian Pakarmaru, ribuan mahasiswa baru USK kini siap memasuki ruang perkuliahan dan memulai perjalanan akademik di kampus yang dikenal sebagai jantung hati rakyat Aceh.[]













































































