ORINEWS.id – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela bertambah menjadi 164 orang, sementara 971 lainnya mengalami luka-luka. Informasi tersebut disampaikan Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez.
Dalam keterangannya yang disiarkan melalui stasiun televisi pemerintah, Venezolana de Televisión, Kamis (25/6/2026), Rodríguez mengatakan sedikitnya telah terjadi 30 gempa susulan setelah dua gempa utama berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara itu.
Rodríguez juga mengungkapkan Dana Moneter Internasional (IMF) telah mengucurkan bantuan sebesar 200 juta dolar AS atau sekitar Rp3,26 triliun untuk mendukung pembangunan kembali infrastruktur dan rumah-rumah warga yang rusak akibat gempa.
Sementara itu, Palang Merah dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai memobilisasi bantuan kemanusiaan ke Venezuela.
Palang Merah menyatakan seluruh jaringannya di Venezuela telah beroperasi untuk memberikan respons darurat.
Dalam pernyataan resminya, Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyebut kebutuhan paling mendesak saat ini meliputi pencarian korban, operasi penyelamatan, penyediaan tempat penampungan darurat, serta layanan kesehatan.
Selain itu, penyediaan air bersih, sanitasi, dan kebutuhan pokok rumah tangga diperkirakan menjadi prioritas utama dalam beberapa hari ke depan.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan sekaligus Koordinator Bantuan Darurat, Tom Fletcher, mengatakan tim tanggap cepat sedang dipersiapkan untuk memperkuat tim PBB yang telah berada di Venezuela.
Ia mengingatkan bahwa bencana tersebut berpotensi memperparah kondisi kemanusiaan yang sudah terjadi sebelumnya.
Menurut Fletcher, sekitar delapan juta warga Venezuela telah membutuhkan bantuan kemanusiaan bahkan sebelum gempa terjadi. Karena itu, ia mendesak adanya “upaya kolektif yang masif” untuk mendukung penanganan bencana yang dipimpin pemerintah Venezuela.
Gempa Berkekuatan Magnitudo 7,2 dan 7,5
Sebelumnya, dua gempa besar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela, menurut Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
Gempa pertama terjadi pada pukul 18.04 waktu setempat dengan pusat gempa berada di dekat Kota San Felipe, sekitar 280 kilometer di barat Ibu Kota Caracas.
Tak lama kemudian, terjadi gempa susulan yang lebih kuat dengan magnitudo 7,5. Pusat gempa kedua berada di dekat kawasan Yumare, sedikit lebih ke utara dari lokasi gempa pertama.
USGS memperkirakan terdapat peluang sebesar 44 persen bahwa jumlah korban jiwa dapat melebihi 10.000 orang.
“Bencana ini kemungkinan meluas,” kata USGS seraya memperingatkan bahwa gempa susulan dengan guncangan kuat masih mungkin terjadi.
Selain itu, lembaga tersebut juga memperingatkan adanya potensi tanah longsor dan likuefaksi di sejumlah wilayah terdampak.
Bantuan Internasional Mulai Berdatangan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan belasungkawa melalui akun Truth Social dan menyatakan negaranya siap membantu Venezuela.
“Dua gempa besar yang baru saja melanda masyarakat Venezuela berskala sangat besar dan telah menyebabkan jumlah korban tewas yang menghancurkan,” tulis Trump.
“Amerika Serikat siap, bersedia, dan mampu membantu!”
Trump mengatakan telah menginstruksikan seluruh lembaga pemerintah AS agar bersiap bergerak cepat.
“Kami akan ada untuk sahabat baru dan hebat kami. Laporan awal tidak baik!!!” tulisnya.
Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat untuk Bantuan Luar Negeri, Jeremy Lewin, mengatakan AS akan mengirim tim pencarian dan penyelamatan (SAR), pasokan medis, serta bantuan kemanusiaan.
Menurut Lewin, Departemen Luar Negeri AS telah berkoordinasi dengan pemerintahan sementara Venezuela untuk menyalurkan bantuan.
Sejumlah negara Amerika Latin juga menyatakan kesiapan membantu.
Presiden El Salvador Nayib Bukele mengatakan negaranya telah menyiapkan 50 ton peralatan dan logistik, serta 300 personel SAR yang siap diberangkatkan ke Caracas.
Presiden Ekuador Daniel Noboa Azin juga memastikan bantuan segera dikirim ke Venezuela.
Sementara itu, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva mengatakan pemerintahnya akan mengevaluasi bentuk bantuan yang dapat diberikan kepada “negara saudara” tersebut.
Menteri Luar Negeri Meksiko Roberto Velasco Álvarez turut menawarkan seluruh bentuk solidaritas dan dukungan yang dibutuhkan Venezuela.
Seluruh WNI Dipastikan Selamat
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, mengonfirmasi sejumlah rumah dan gedung runtuh akibat gempa.
Ia mengatakan seluruh unsur keamanan, perlindungan sipil, relawan, pemadam kebakaran, dan kepolisian telah dikerahkan untuk menangani situasi darurat.
Cabello juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak segera meninggalkan bangunan demi menghindari risiko gempa susulan.
Sebagai langkah antisipasi, layanan gas alam yang memasok ribuan rumah dihentikan sementara guna mencegah kecelakaan.
Di sejumlah wilayah, pasokan listrik dan jaringan internet juga dilaporkan terputus.
Gempa terjadi saat Venezuela sedang memperingati hari libur nasional untuk mengenang Pertempuran Carabobo pada 24 Juni 1821, sehingga banyak warga berada di rumah.
Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepanikan di Bandara Internasional Maiquetía ketika gempa menyebabkan kerusakan signifikan.
Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Caracas memastikan seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Venezuela, sebanyak tiga orang, dalam kondisi aman.
“Gedung Kantor KBRI Caracas beserta Wisma Duta tidak mengalami kerusakan struktural yang berarti dan seluruh staf dalam keadaan selamat,” kata Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah.
Menurut Heni, KBRI Caracas telah melakukan koordinasi dan membuka jalur komunikasi darurat untuk memantau perkembangan situasi serta memastikan kondisi WNI secara berkala.
“Gempa Terkuat Seumur Hidup”
Jurnalis BBC Mundo, Nicole Koster, mengaku merasakan guncangan hebat saat berada di lantai tujuh apartemennya di pusat Caracas.
“Ini adalah gempa terkuat yang pernah saya rasakan seumur hidup,” katanya.
“Saya melihat jendela-jendela besar bergerak. Yang terpikir oleh saya adalah berdiri di antara pintu masuk dan dinding batu yang menurut saya cukup kuat untuk melindungi diri.”
“Guncangannya begitu kuat hingga saya pikir bangunan itu akan runtuh menimpa saya,” ujarnya.
Nicole mengaku mendengar suara warga meminta pertolongan dari balik reruntuhan bangunan.
“‘Tolong, kami di sini.’ Itu yang saya dengar,” katanya.
Ia menambahkan, setelah gempa, warga diminta tetap berada di luar bangunan sebagai langkah antisipasi terhadap gempa susulan.
Warga Caracas lainnya, Maria Elise, mengatakan dinding apartemennya mengalami retak-retak.
“Beberapa dinding apartemen kami retak. Ada tiang listrik yang tumbang, kami tidak memiliki listrik, tidak ada sinyal,” ujarnya.
Seorang perempuan berusia 80 tahun di selatan Caracas mengatakan kepada Reuters bahwa polisi membantunya turun dari apartemen karena bangunannya bergoyang hebat.
Penyebab Gempa
Venezuela berada di kawasan aktif seismik, tepat di pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan.
Menurut USGS, gempa kedua yang lebih besar dipicu oleh pergeseran patahan mendatar dangkal (shallow strike-slip fault) di dekat batas kedua lempeng tersebut.
Pergerakan horizontal pada patahan itu melepaskan energi dalam jumlah besar sehingga memicu gempa bumi.
USGS menjelaskan bahwa gempa sebesar ini tidak hanya terjadi pada satu titik, melainkan melibatkan pergeseran area patahan yang luas.
Lembaga tersebut juga menyebut dua gempa besar yang terjadi hampir bersamaan kemungkinan menunjukkan adanya proses interaksi patahan yang kompleks.
USGS kembali mengingatkan bahwa gempa susulan, termasuk yang berpotensi menimbulkan guncangan kuat, masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan. []















































































