ORINEWS.id — Dua survei terbaru di Amerika Serikat (AS) menunjukkan mulai munculnya perpecahan di internal Partai Republik terkait dukungan terhadap Israel dan pendekatan Presiden Donald Trump dalam isu Timur Tengah.
Laporan yang dikutip dari Forward menyebutkan, isu Israel kini tidak lagi hanya menjadi perdebatan antara Partai Demokrat dan Republik, tetapi juga mulai memecah basis pemilih Partai Republik sendiri.
Survei New York Times/Siena menemukan sebanyak 38 persen calon pemilih Republik menginginkan kandidat presiden Partai Republik berikutnya mengambil “arah baru” terkait Israel, bukan melanjutkan pendekatan Donald Trump.
Survei terhadap 1.500 pemilih Amerika Serikat itu juga menunjukkan hampir sepertiga pemilih Republik menilai Trump terlalu mendukung Israel. Margin kesalahan survei tercatat sebesar 2,8 poin persentase.
Temuan tersebut memperlihatkan semakin menguatnya perdebatan internal di kalangan pemilih Republik terkait prioritas kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Perpecahan Pemilih MAGA dan Non-MAGA
Survei lain yang dilakukan Politico bersama Public First menemukan perbedaan pandangan yang cukup tajam antara pendukung gerakan MAGA dan pemilih Republik non-MAGA.
Dalam survei terhadap 2.035 warga dewasa AS yang dilakukan secara daring pada 11–14 April, lebih dari separuh pemilih Trump mengidentifikasi diri sebagai bagian dari gerakan MAGA.
Hasil survei menunjukkan hampir 50 persen pemilih MAGA mendukung penuh Israel dan menyetujui tindakan pemerintah Israel. Sementara itu, dukungan serupa hanya disampaikan 29 persen pemilih Trump non-MAGA.
Sebanyak 41 persen pemilih MAGA juga menilai Israel dibenarkan dalam perang Gaza, dibandingkan 31 persen pemilih non-MAGA.
Perbedaan pendapat turut terlihat dalam isu pengaruh Israel terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat serta peran kelompok lobi AIPAC dalam pemilu AS.
Survei tersebut dinilai memperlihatkan jurang ideologis yang semakin lebar di basis pendukung Trump.
Survei New York Times/Siena juga mencatat tingkat kepuasan publik terhadap Trump berada di angka 37 persen.
Dalam isu kebijakan luar negeri, sebanyak 64 persen warga AS menilai Trump keliru mengambil keputusan dengan terlibat dalam perang Iran. Namun, 70 persen pemilih Republik justru mendukung langkah tersebut.
Dukungan terhadap Israel Menurun
Survei yang sama memperlihatkan perubahan sentimen publik Amerika Serikat terkait perang Gaza dan dukungan terhadap Israel.
Sebanyak 37 persen warga Amerika mengaku lebih bersimpati kepada Palestina, sedangkan 35 persen menyatakan lebih bersimpati kepada Israel.
Terkait bantuan ekonomi dan militer AS untuk Israel:
- Sebanyak 57 persen pemilih AS menolak tambahan bantuan;
- Sebanyak 37 persen mendukung tambahan bantuan.
Di kalangan Partai Republik:
- Sebanyak 66 persen mendukung tambahan bantuan untuk Israel;
- Sebanyak 30 persen menolak.
Sementara itu, di kalangan Demokrat, hanya 24 persen yang mendukung tambahan bantuan militer dan ekonomi bagi Israel, sedangkan 68 persen menolaknya.
Persentase penolakan yang sama juga muncul di kalangan pemilih independen.
Demokrat Semakin Kritis terhadap Israel
Survei New York Times–Siena juga menemukan sebanyak 57 persen pemilih Demokrat kini lebih bersimpati kepada Palestina dibanding Israel. Hanya 19 persen yang menyatakan lebih bersimpati kepada Israel.
Data tersebut menunjukkan perubahan signifikan dibanding survei Pew Research Center tahun 2015, ketika hanya 26 persen Demokrat menilai AS terlalu mendukung Israel.
Survei Pew Research Center pada Maret lalu juga mencatat 80 persen Demokrat dan pemilih independen yang condong ke Demokrat memiliki pandangan negatif terhadap Israel.
Perpecahan di Kongres AS
Perubahan sikap itu juga mulai terlihat di Kongres Amerika Serikat.
Axios sebelumnya melaporkan dukungan terhadap Israel di kalangan anggota Kongres dari Partai Demokrat terus melemah. Semakin banyak legislator yang terbuka menolak bantuan militer tambahan, termasuk pendanaan sistem pertahanan udara Iron Dome.
Anggota DPR dari Partai Demokrat Jim McGovern mengatakan dirinya tidak lagi mendukung bantuan militer tambahan untuk Israel meski sebelumnya mendukung pendanaan Iron Dome.
Sementara Jared Huffman menyebut penolakan terhadap bantuan militer untuk Israel kini bukan lagi pandangan pinggiran di Partai Demokrat, melainkan mulai menjadi arus utama. []











































































