TERBARU

Pendidikan

Lima Hari Tempuh Jalur Darat, Relawan MDMC Jawa Barat Cerita Misi Kemanusiaan di Aceh

ORINEWS.id — Pengalaman kemanusiaan relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Barat, Ade Irvan Nugraha, menjadi sorotan dalam podcast Dispor Muhammadiyah: Dari Jawa Barat ke Aceh – “Perjalanan Kemanusiaan” yang disiarkan melalui kanal media sosial MDMC Aceh.

Dalam podcast tersebut, Ade yang juga menjabat sebagai Sekretaris MDMC Jawa Barat membagikan kisah perjalanannya menuju Aceh melalui jalur darat yang ditempuh selama lima hari. Ia tiba di Posko Muhammadiyah Aceh di Banda Aceh sebelum melanjutkan misi kemanusiaan ke sejumlah wilayah terdampak banjir bandang, seperti Bireuen, Lhokseumawe, dan Takengon.

Ade mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Aceh kali ini bukanlah yang pertama. Ia pernah menjadi relawan saat bencana Tsunami Aceh, sehingga memiliki perbandingan langsung antara dampak tsunami dan banjir bandang yang terjadi saat ini. Dalam ceritanya, Ade menuturkan bahwa saat mengunjungi kawasan sekitar posko Muhammadiyah, ia mendapati perubahan kondisi geografis yang menunjukkan betapa besarnya kekuatan air pada dua peristiwa tersebut.

“Dulu masjidnya berada di bawah, sekarang posisinya di atas. Dari situ bisa dibayangkan bagaimana ketinggian air saat tsunami,” ungkap Ade dalam podcast tersebut.

Ia juga menggambarkan kondisi banjir bandang yang ditandai dengan tumpukan kayu berukuran besar, lumpur tebal, serta hilangnya sejumlah permukiman warga. Menurutnya, persoalan lanjutan yang paling dirasakan masyarakat adalah kelangkaan BBM, sulitnya akses air bersih, serta kebutuhan hidup yang tidak segera terpenuhi.

Dalam podcast itu, Ade menjelaskan bahwa di Bireuen, sejumlah sekolah Muhammadiyah dan sekolah lainnya sudah memasuki tahap pembersihan pascabencana. Relawan MDMC Jawa Barat kemudian memfokuskan bantuan pada pembuatan sumur air bersih, pemasangan panel penerangan, serta membantu warga membersihkan kayu-kayu besar dengan alat potong yang dibawa dari Jawa Barat.

Meski dihadapkan pada situasi sulit, Ade mengaku sangat terkesan dengan kekeluargaan dan sambutan hangat masyarakat Aceh terhadap para relawan. Ia menilai nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas tetap hidup di tengah musibah.

“Kami disambut dengan baik, padahal mereka sedang dalam kondisi kehilangan dan berduka,” tuturnya.

Dalam refleksinya, Ade menekankan bahwa menjadi relawan bukan hanya soal keberanian dan empati, tetapi juga membutuhkan pengetahuan dan kesiapan teknis agar bantuan yang diberikan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat terdampak.

Podcast tersebut dipandu oleh Naila Zasmin Tinambunan, relawan MDMC Aceh yang juga mahasiswa KKN Ilmu Ekonomi UIN Ar-Raniry. Dalam kesempatan itu disampaikan pula bahwa keterlibatan Naila sebagai relawan di Posko Muhammadiyah Aceh diakui sebagai konversi program KKN, sehingga aktivitas kemanusiaannya menjadi bagian dari pengabdian akademik.

Menutup ceritanya, Ade berharap agar kondisi Aceh segera pulih dan kebutuhan dasar masyarakat kembali normal. Ia juga menyampaikan harapan pribadi agar kunjungannya ke Aceh di masa mendatang bukan lagi dalam suasana bencana.

“Semoga saya datang ke Aceh berikutnya dalam keadaan yang lebih baik, bukan karena musibah,” ujarnya. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.