ORINEWS.id – Frustrasi atas hubungan bisnis raksasa teknologi Amerika Serikat (AS) dengan Israel di tengah perang Gaza kembali mencuat. The Washington Post melaporkan, ketegangan memuncak di internal Amazon pekan ini setelah seorang staf teknologi menentang kontrak perusahaan dengan Israel.
Ahmed Shahrour, insinyur perangkat lunak asal Palestina, mengunggah surat di puluhan kanal pesan internal Amazon yang mendesak perusahaan memutuskan hubungan bisnis dengan Israel.
“Saya ingin menekan Amazon untuk memutuskan hubungan dengan Israel sepenuhnya,” ujar Shahrour kepada The Washington Post dikutip, Minggu (14/9/2025).
Tak lama setelah surat itu beredar, Amazon dilaporkan menangguhkan Shahrour dengan tetap membayar gaji dan menonaktifkan akun kerjanya. Amazon menolak mengonfirmasi detail kasus tersebut.
Ketegangan Meluas di Silicon Valley
Insiden di Amazon ini disebut menjadi bagian dari konflik yang lebih luas di Silicon Valley. Di Microsoft dan Google, sejumlah kecil karyawan juga mengorganisir diri untuk menolak kerja sama perusahaan dengan Israel.
Para karyawan tersebut menilai kontrak dengan Israel membuat mereka ikut terlibat dalam genosida di Gaza. Namun, perusahaan-perusahaan itu justru mempertahankan kontrak, bahkan melakukan langkah disiplin dengan memecat pekerja, membubarkan aksi protes dengan polisi, hingga penangkapan karyawan.
Amazon tercatat memiliki lebih dari 1,5 juta tenaga kerja global. Google mempekerjakan 183 ribu orang, sementara Microsoft 228 ribu orang. Meski penentang kontrak dengan Israel hanya minoritas, laporan menyebut suara mereka cukup mengguncang internal perusahaan.
Dukungan Liga Anti-Pencemaran Nama Baik
Liga Anti-Pencemaran Nama Baik (ADL) membela sikap Amazon terhadap Shahrour.
“Tindakan yang jelas ini membantu melindungi semua karyawan, pelanggan, dan pemegang saham, serta mengirimkan pesan bahwa perilaku semacam itu tidak dapat diterima,” bunyi pernyataan ADL.
Awal tahun ini, The Washington Post juga mengungkap laporan bahwa para insinyur Google terlibat menyediakan perangkat kecerdasan buatan (AI) untuk militer Israel setelah serangan 7 Oktober 2023. Pada Juni lalu, Israel disebut menghabiskan US$45 juta untuk iklan Google, meski perusahaan membantah adanya perjanjian resmi.
Tekanan dari Aktivis
Kelompok aktivis No Tech for Apartheid—yang beranggotakan karyawan Amazon dan Google, baik yang masih aktif maupun sudah berhenti—menuduh perusahaan teknologi besar terlibat dalam genosida di Gaza. Mereka kembali menyerukan agar seluruh kontrak dengan Israel dihentikan.
Tahun lalu, Google memberhentikan lebih dari 50 karyawan yang ikut serta dalam aksi protes kelompok tersebut. []















































































