ORINEWS.id, LABUAN BAJO — Langkah cepat ditunjukkan Tim Relawan Kesehatan Universitas Syiah Kuala (USK) dalam misi kemanusiaan untuk menangani dampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tujuh relawan kesehatan yang dikirimkan USK langsung menjalankan tugas setibanya di lokasi penugasan.
Tiba di Labuan Bajo pada hari pertama, Senin (24/8/2026) sekitar pukul 18.00 WITA, tim yang dipimpin Ketua Tim Penanggulangan Pascabencana NTT dari Fakultas Kedokteran USK, T. Maulana, S.K.M., M.Kes., Ph.D., langsung berkoordinasi dengan otoritas kesehatan setempat.
Misi kemanusiaan tersebut diperkuat tujuh personel yang tercantum dalam surat tugas resmi. Mereka terdiri atas T. Maulana, S.K.M., M.Kes., Ph.D., selaku dosen Fakultas Kedokteran sekaligus ketua tim; Dr. dr. T. Nanta Aulia, M.Kes., Sp.OT., Subsp. O.T.B. (K), sebagai tenaga pengajar Fakultas Kedokteran; serta Prof. Dr. Ners. Marlina, S.Kep., M.Kep., Sp.MB., selaku Guru Besar Fakultas Keperawatan.
Selain itu, turut bergabung Ns. Abul A’la Tarigan, S.Kep., M.Kep., dosen Fakultas Keperawatan; dr. Ikhsanuddin Basili dan dr. Alfisyahrin Kamil dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), masing-masing di bidang Bedah serta Ortopedi dan Traumatologi; serta Shahibul Mighvar, S.T., sebagai tenaga teknisi laboratorium.
Pada malam harinya, tim langsung mengikuti koordinasi strategis di Health Emergency Operations Center (HEOC) atau Pusat Operasi Kedaruratan Kesehatan yang dipimpin Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat.
“Begitu tiba di Labuan Bajo pada pukul 18.00 waktu setempat, kami langsung bergerak menuju HEOC untuk berkoordinasi langsung dengan Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat. Langkah awal ini krusial agar seluruh dukungan medis dan surveilans yang kami bawa benar-benar tepat sasaran dan selaras dengan prioritas penanganan di lapangan,” ujar T. Maulana.
Koordinasi intensif di pusat darurat kesehatan tersebut menjadi landasan untuk memetakan kondisi riil serta kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak secara terpadu dan terarah.
Dalam arahannya, Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, rumah sakit, puskesmas, serta tim kesehatan dari luar daerah. Seluruh bantuan kesehatan diharapkan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan melalui satu pintu koordinasi agar intervensi berjalan efektif dan tidak tumpang tindih.
“Penguatan layanan pascabencana ini juga difokuskan pada pemulihan fasilitas kesehatan yang terdampak, ketersediaan tenaga medis, sarana prasarana, serta pemenuhan obat-obatan dan Bahan Medis Habis Pakai (BMHP) sesuai kebutuhan aktual,” ujarnya.
Selain pelayanan kuratif atau pengobatan, aspek kesehatan masyarakat dan pencegahan penyakit menjadi perhatian utama menyusul perubahan lingkungan, keterbatasan air bersih, dan kondisi pengungsian.
Karena itu, Tim Kesehatan USK bersama Dinas Kesehatan setempat memperkuat kegiatan surveilans epidemiologi, pemantauan faktor risiko penyakit menular, serta deteksi dini untuk mengantisipasi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB).
Melalui gerak cepat dan hasil koordinasi di HEOC, dukungan Tim Kesehatan USK diarahkan untuk memperkuat kapasitas tenaga medis dan keperawatan, pelaksanaan surveilans, hingga dukungan teknis lainnya di RSUD Komodo sesuai dengan prioritas daerah.
Rangkaian kegiatan operasional selanjutnya akan terus mengedepankan efektivitas, keselamatan pasien dan petugas, serta pelaporan berkala guna memastikan masyarakat terdampak memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, dan tuntas.
Sebelumnya, Universitas Syiah Kuala (USK) telah memberangkatkan tujuh relawan kesehatan ke Kabupaten Manggarai Barat, NTT, untuk membantu penanganan korban gempa. Berdasarkan jadwal penugasan, tim tersebut akan bertugas selama 14 hari untuk memperkuat pelayanan medis di RSUD Komodo, Labuan Bajo.[]


































































