ORINEWS.id, BANDA ACEH – Gerhana Matahari Total (GMT) akan menjadi salah satu fenomena astronomi yang menarik perhatian pada 12 Agustus 2026.
Fenomena ini terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi sehingga piringan Matahari tertutup sepenuhnya dari pandangan pengamat di wilayah tertentu.
Saat totalitas berlangsung, langit yang semula terang dapat berubah menjadi gelap seperti menjelang malam. Fenomena tersebut hanya terjadi ketika posisi Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam konfigurasi yang tepat.
Namun, Gerhana Matahari Total tidak dapat disaksikan dari seluruh wilayah Bumi. Jalur totalitas hanya melewati wilayah tertentu, sementara daerah di luar jalur tersebut berpotensi menyaksikan gerhana sebagian.
Bagaimana Gerhana Matahari Total Terjadi?
Gerhana Matahari dimulai ketika Bulan bergerak ke posisi di antara Bumi dan Matahari. Pada kondisi tertentu, Bulan dapat menutupi seluruh piringan Matahari jika dilihat dari wilayah yang berada di jalur bayangan Bulan.
Peristiwa ini hanya dapat terjadi ketika Bulan berada dalam fase Bulan Baru. Meski demikian, tidak setiap Bulan Baru menghasilkan gerhana Matahari.
Hal itu disebabkan orbit Bulan mengelilingi Bumi memiliki kemiringan sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari.
Akibatnya, pada sebagian besar fase Bulan Baru, posisi Bulan berada sedikit di atas atau di bawah garis pandang Matahari.
Gerhana baru dapat terjadi ketika Bulan melintasi bidang ekliptika pada periode yang dikenal sebagai musim gerhana atau eclipse season. Periode tersebut terjadi sekitar dua kali dalam setahun dan membuka peluang terjadinya gerhana Matahari maupun gerhana Bulan.
Mengapa Bulan Bisa Menutupi Matahari?
Salah satu hal menarik dari Gerhana Matahari Total adalah Bulan yang ukurannya jauh lebih kecil ternyata dapat menutupi Matahari secara keseluruhan.
Hal tersebut berkaitan dengan perbandingan ukuran dan jarak kedua benda langit tersebut terhadap Bumi.
Diameter Matahari sekitar 400 kali lebih besar dibandingkan diameter Bulan. Namun, jarak Matahari dari Bumi juga sekitar 400 kali lebih jauh dibandingkan jarak Bulan dari Bumi.
Perbandingan tersebut membuat ukuran tampak Matahari dan Bulan dari permukaan Bumi terlihat hampir sama. Ketika ketiganya berada dalam posisi yang tepat, Bulan dapat menutupi seluruh piringan Matahari.
Mengenal Umbra dan Penumbra
Bayangan Bulan yang jatuh ke permukaan Bumi terbagi menjadi dua bagian utama, yakni umbra dan penumbra.
Umbra merupakan bagian bayangan inti yang paling gelap. Wilayah yang berada di dalam jalur umbra dapat mengalami Gerhana Matahari Total.
Sementara itu, penumbra merupakan bayangan luar yang lebih samar. Pengamat yang berada di wilayah penumbra hanya akan melihat Gerhana Matahari Sebagian.
Jalur totalitas umumnya relatif sempit jika dibandingkan dengan wilayah yang mengalami gerhana sebagian. Jalur umbra pada permukaan Bumi dapat memiliki lebar kurang dari sekitar 80 kilometer, sedangkan wilayah penumbra dapat membentang hingga ribuan kilometer.
Wilayah yang Bisa Menyaksikan Gerhana Matahari Total
Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 diperkirakan melintasi sejumlah wilayah di belahan Bumi utara.
Jalur totalitas akan melewati wilayah seperti pesisir timur dan utara Greenland, Rusia bagian utara, Spanyol, Samudra Atlantik, serta sebagian kecil Portugal.
Di Spanyol, jalur totalitas diperkirakan melewati sejumlah wilayah, antara lain Galicia, Asturias, Castile, Leon, Aragon, hingga Kepulauan Balearic.
Sejumlah wilayah lain juga berpotensi menyaksikan gerhana, meskipun tidak semuanya berada dalam jalur totalitas. Beberapa di antaranya adalah Prancis, Jerman, Inggris Raya, Italia, Maroko, Aljazair, negara-negara Skandinavia, serta bagian timur laut Amerika Serikat.
Kota seperti New York dan Boston termasuk wilayah yang diperkirakan dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian.
Langit Berubah Gelap dalam Hitungan Menit
Salah satu daya tarik utama Gerhana Matahari Total adalah perubahan kondisi lingkungan ketika Bulan sepenuhnya menutupi Matahari.
Pada saat totalitas, cahaya Matahari berkurang secara drastis sehingga langit dapat terlihat gelap meskipun peristiwa tersebut berlangsung pada siang hari.
Suhu udara di wilayah yang mengalami totalitas juga dapat mengalami penurunan karena radiasi Matahari yang mencapai permukaan Bumi berkurang.
Meski fase totalitas hanya berlangsung dalam waktu singkat, fenomena ini menjadi peristiwa penting bagi penelitian astronomi sekaligus menarik perhatian masyarakat yang ingin menyaksikan salah satu fenomena langit paling spektakuler.[source:oppal]















































































