ORINEWS.id, SABANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menganalisis gempa bumi bermagnitudo 5,7 yang mengguncang wilayah Sabang, Aceh, pada Minggu (9/8/2026) pukul 10.02 WIB.
BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
“Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” ujar Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam keterangan tertulisnya.
Berdasarkan pemutakhiran data BMKG, gempa terjadi pada kedalaman 40 kilometer. Episenter gempa berada pada koordinat 6,80 derajat Lintang Utara (LU) dan 93,91 derajat Bujur Timur (BT).
Lokasi episenter berada di laut, sekitar 186 kilometer barat laut Kota Sabang, Aceh.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi (dua lempeng saling bertumbukan),” kata Wijayanto.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa tersebut memiliki mekanisme pergerakan geser-naik atau oblique-thrust fault.
Gempa Dirasakan di Sabang dan Aceh Besar
Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan atau shakemap, gempa dirasakan di Kecamatan Sukakarya dan Sukajaya, Kota Sabang, serta Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar.
Wilayah tersebut merasakan gempa dengan skala intensitas III Modified Mercalli Intensity (MMI).
Pada skala tersebut, getaran dirasakan nyata di dalam rumah. Getaran juga dapat terasa seperti ada truk yang sedang melintas.
Hasil monitoring BMKG hingga saat ini menunjukkan belum terdapat aktivitas gempa bumi susulan.
Meski demikian, BMKG akan terus memantau aktivitas kegempaan dan menyampaikan pemutakhiran informasi kepada pemangku kepentingan serta masyarakat apabila terdapat perkembangan terbaru.
BMKG juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Masyarakat diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bahaya.
“Imbauan kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi,” ujar Wijayanto.[]














































































