ORINEWS.id – Turki dan Irak resmi memperpanjang perjanjian operasional pipa minyak mentah yang menghubungkan kedua negara selama satu tahun. Kesepakatan ini memastikan jalur ekspor minyak utama Irak tetap beroperasi sembari kedua negara menyusun kerja sama jangka panjang.
Dikutip dari Al Mayadeen, Minggu (2/7), Menteri Energi Turki, Alparslan Bayraktar, mengumumkan kesepakatan tersebut pada Sabtu (2/8/2026). Perjanjian baru itu memperpanjang kerja sama bilateral yang sebelumnya berakhir pada Senin lalu.
Dengan perpanjangan tersebut, Iraq-Turkey Pipeline (ITP) tetap menjadi satu-satunya jalur aktif ekspor minyak mentah Irak menuju pasar internasional.
“Selagi upaya menuju perjanjian jangka panjang baru untuk pipa ini terus berlangsung, kami telah menerapkan pengaturan transit dengan kapasitas hingga 750.000 barel per hari,” ujar Bayraktar melalui akun media sosial X.
Beri Waktu untuk Kesepakatan Baru
Bayraktar menjelaskan, kesepakatan itu dicapai setelah menggelar pertemuan dengan Menteri Perminyakan Irak beserta delegasinya di Ankara.
Dalam pertemuan tersebut, perusahaan energi milik negara Turki BOTAS bersama perusahaan minyak milik pemerintah Irak SOMO dan NOC menandatangani perjanjian perpanjangan operasional pipa selama satu tahun.
Menurut Bayraktar, perpanjangan sementara itu memberikan ruang bagi kedua negara untuk merundingkan skema kerja sama jangka panjang yang lebih komprehensif terkait pengelolaan dan pemanfaatan pipa minyak tersebut.
Turki Ingin Maksimalkan Kapasitas Pipa
Pemerintah Turki juga berupaya mengoptimalkan pemanfaatan pipa yang memiliki kapasitas hingga 1,5 juta barel minyak per hari.
Selain itu, Ankara tengah mengkaji rencana memperpanjang jaringan pipa menuju ladang-ladang minyak di wilayah selatan Irak guna meningkatkan kapasitas distribusi minyak di masa mendatang.
Berdasarkan data pemerintah Turki, saat ini pipa tersebut mengalirkan sekitar 170.000 barel minyak mentah per hari menuju Pelabuhan Ceyhan, yang menjadi salah satu terminal ekspor minyak utama Turki.
Perpanjangan kerja sama ini dinilai penting untuk menjaga kelancaran ekspor minyak Irak sekaligus memperkuat hubungan energi antara kedua negara di tengah upaya menyusun kesepakatan jangka panjang yang lebih strategis.[]















































































