TERBARU

Politik

Praktisi Intelijen Sebut Ada Skenario Prabowo Mundur setelah Agustus 2026, Gibran Jadi Presiden?

ORINEWS.id – Praktisi intelijen Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra menyampaikan skenario yang menurutnya dapat terjadi terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yakni kemungkinan presiden mengundurkan diri dari jabatannya setelah Agustus 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan Radjasa dalam sebuah wawancara di kanal YouTube 2045 TV yang dikutip pada Selasa (28/7/2026). Ia menyebut kemungkinan itu dipengaruhi oleh dua faktor, yakni desakan publik dan kondisi kesehatan Presiden Prabowo.

“Sesungguhnya gini ya, kita dari kondisi kesehatan Prabowo itu juga enggak baik-baik aja loh. Yang kita khawatirkan nanti ketika terjadi gonjang-ganjing mulai Agustus dan seterusnya ini bisa juga tiba-tiba Presiden mengundurkan diri karena desakan publik,” ujar Radjasa, dikutip dari wartaekonomi, Minggu (2/8).

Menurutnya, apabila presiden mengundurkan diri, maka sesuai ketentuan konstitusi, jabatan presiden akan dilanjutkan oleh wakil presiden.

“Kalau presiden mengundurkan diri itu beda dengan pemakzulan,” katanya.

Radjasa kembali menegaskan bahwa skenario tersebut didasarkan pada pandangannya mengenai kondisi kesehatan Prabowo dan potensi tekanan publik.

“Ya itu tadi karena desakan publik yang begitu kuat kemudian kesehatan, ya kan dia mundur,” ujarnya.

Muncul Lagi Klaim Lama Connie Rahakundini

Pernyataan Radjasa kembali mengingatkan pada klaim yang pernah disampaikan pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie pada awal 2024.

Saat itu, Connie mengaku pernah mendengar penjelasan dari Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani, mengenai skenario Prabowo hanya menjabat selama dua tahun apabila memenangkan Pilpres 2024.

“Jadi rencananya dua tahun. Tiga tahun berikutnya diikuti oleh Gibran,” kata Connie saat itu.

Rosan Bantah Tudingan

Rosan Roeslani membantah keras pernyataan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah menyampaikan adanya rencana Prabowo hanya menjabat selama dua tahun.

Menurut Rosan, justru Connie yang lebih dahulu melontarkan skenario tersebut dalam sebuah percakapan.

“Pernyataan yang dua tahun itu bukan datang dari saya. Beliau yang mengatakan, ‘Ini gimana kalau sudah dua tahun, atau kalau tiba-tiba Pak Prabowo, saya ini orang intelijen, bisa saja Pak Prabowo diracun, bisa lebih cepat, itu gimana?’,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Media Center TKN Prabowo-Gibran di Jakarta.

Rosan mengaku saat itu langsung menolak pembahasan tersebut.

“Saya bilang, ‘Bu, udahlah, itu tidak pantas. Kita enggak ada pikiran seperti itu, janganlah’,” katanya.[]

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.