ORINEWS.id, JAKARTA — Pemilik mobil terkadang harus mengganti jenis bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan karena faktor ketersediaan maupun kebutuhan. Misalnya, kendaraan yang biasanya menggunakan BBM dengan RON 92, tetapi pada kondisi tertentu hanya tersedia BBM dengan RON lebih rendah.
Selain mengganti jenis BBM, sebagian pengendara juga mencampurkan dua jenis BBM berbeda dalam satu tangki.
Meski sama-sama membuat bahan bakar dengan spesifikasi berbeda berada di dalam tangki, mengganti-ganti BBM dan mencampurkan BBM sebenarnya merupakan dua kondisi yang berbeda.
Lung Lung, pemilik Dokter Mobil, mengatakan mengganti jenis BBM tidak menjadi masalah selama bahan bakar yang digunakan memiliki kualitas dan kondisi yang baik.
“Ganti-ganti jenis BBM enggak ada masalah, yang penting sama-sama bersih,” katanya kepada Kompas.com, Selasa (15/9/2026).
Menurut Lung Lung, mencampurkan dua jenis BBM juga tidak menjadi persoalan selama dilakukan dengan bahan bakar yang baik.
“Mencampur jenis BBM juga enggak ada masalah sebenarnya. Cuma, memang enggak akan ada efek buruk, juga enggak akan ada efek bagusnya,” katanya.
Ia menjelaskan, pencampuran BBM dengan nilai oktan berbeda akan menghasilkan nilai oktan yang berada di antara kedua bahan bakar tersebut.
“Jadi, namanya bensin tetap bensin, berbeda RON ya, rata-rata. Jadinya, misalkan yang dimasukkan RON 92 dan 88, ya dapatnya RON 90-an, gitu saja,” ujarnya.
Campur BBM
Pakar konversi energi sekaligus Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri mengatakan, mencampurkan BBM pada dasarnya tidak menjadi masalah selama nilai oktan akhirnya masih memenuhi kebutuhan mesin.
“Secara prinsip tidak masalah, karena nilai oktannya akan berada di antara keduanya. Tapi kalau hasil campurannya turun di bawah yang disyaratkan pabrikan, di situlah mulai berisiko,” kata Tri kepada Kompas.com.
Setiap mesin dirancang dengan kebutuhan oktan tertentu. Angka tersebut berkaitan dengan kemampuan bahan bakar dalam menahan tekanan dan suhu tinggi di ruang bakar sebelum terbakar.
Jika RON yang digunakan lebih rendah dari spesifikasi mesin, risiko terjadinya knocking atau detonasi menjadi lebih besar.
“Kalau RON turun di bawah spesifikasi, mesin jadi rentan knocking. Dalam jangka panjang, jelas berbahaya,” ujar Tri.
RON Lebih Tinggi
Sebaliknya, penggunaan BBM dengan RON lebih tinggi dari rekomendasi pabrikan umumnya tidak langsung menyebabkan kerusakan pada mesin.
Tri menjelaskan, mesin telah dirancang dengan karakteristik pembakaran tertentu. Sistem pengapian dan pengaturan mesin juga disesuaikan dengan kebutuhan tersebut.
“Kalau lebih tinggi dari kebutuhan mesin, aman saja, tapi tidak selalu ada peningkatan performa yang signifikan,” kata Tri.
Karena itu, pemilik kendaraan sebaiknya tidak hanya melihat angka RON ketika memilih BBM. Hal yang paling penting adalah mengikuti rekomendasi yang telah ditetapkan oleh pabrikan.
Sumber: kompas.com
















































































