TERBARU

Lingkungan

Kepiting Tapal Kuda, Fosil Hidup Berdarah Biru yang Terancam di Perairan Indonesia

ORINEWS.id — Namanya kepiting tapal kuda, namun hewan purba ini sebenarnya bukan bagian dari keluarga kepiting. Spesies laut yang dikenal luas dengan sebutan belangkas itu justru memiliki kekerabatan lebih dekat dengan laba-laba dan kalajengking.

Mengutip Mongabay, Jum’at (22/5/2026), kepiting tapal kuda termasuk dalam Ordo Xiphosura dan merupakan salah satu fosil hidup tertua di dunia. Hewan ini diyakini telah ada sejak periode Ordovisium, sekitar 485 juta hingga 443 juta tahun lalu.

Di Indonesia, kepiting tapal kuda memiliki banyak nama daerah, seperti mimi, blangkas, kepiting lada, mintua, hingga pari kepiting.

Dalam buku Bioekologi Kepiting Tapal Kuda terbitan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) tahun 2025 disebutkan, terdapat tiga spesies kepiting tapal kuda di Indonesia, yakni Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus, dan Carcinoscorpius rotundicauda.

Sementara satu spesies lain, Limulus polyphemus, hanya ditemukan di kawasan Atlantik Amerika Utara.

Tersebar di Banyak Wilayah Indonesia

Kepiting tapal kuda tersebar di sejumlah wilayah pesisir Indonesia, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Jambi, Bangka, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.

Hewan ini umumnya hidup di kawasan muara sungai dan pesisir berlumpur sambil mencari makanan berupa alga, cacing laut, kerang, moluska, hingga ikan mati.

Secara morfologi, tubuh kepiting tapal kuda terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni cephalothorax berbentuk tapal kuda, abdomen bersegmen, dan ekor panjang tajam yang disebut telson.

Darah Biru untuk Dunia Medis

Salah satu keunikan kepiting tapal kuda adalah warna darahnya yang biru. Warna tersebut berasal dari kandungan tembaga di dalam darahnya, berbeda dengan manusia yang memiliki zat besi sehingga darah berwarna merah.

Darah biru kepiting tapal kuda memiliki nilai tinggi dalam dunia medis dan farmasi. Cairan dalam darah hewan ini digunakan untuk mendeteksi endotoksin bakteri berbahaya pada vaksin, obat intravena, dan berbagai produk kesehatan sebelum digunakan manusia.

Teknologi tersebut dikenal sebagai Limulus amoebocyte lysate (LAL) yang mulai digunakan secara resmi di Amerika Serikat sejak 1977 melalui persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA).

Selain bermanfaat bagi bidang kesehatan, kepiting tapal kuda juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.

Telurnya menjadi sumber makanan utama bagi burung pantai migrasi, sementara hewan dewasa berfungsi sebagai predator pengurai di kawasan pesisir.

Dilindungi, tetapi Masih Terancam

Meski memiliki nilai ekologis dan ilmiah yang tinggi, populasi kepiting tapal kuda terus menghadapi ancaman serius.

Di Indonesia, ketiga spesies tersebut telah mendapat perlindungan penuh melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 12/Kpts-II/1987 dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

Secara internasional, spesies Tachypleus tridentatus masuk kategori terancam punah (Endangered) berdasarkan daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN), sementara dua spesies lainnya masih berstatus Data Deficient atau minim data.

Ancaman terbesar terhadap kepiting tapal kuda berasal dari reklamasi pantai, polusi industri, konversi lahan pesisir, perdagangan ilegal, sampah laut, hingga penangkapan tidak sengaja oleh nelayan.

Padahal, hewan yang telah bertahan ratusan juta tahun itu kini justru menghadapi ancaman besar akibat aktivitas manusia modern. []

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.