ORINEWS.id – Pabrik gas terbesar di Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan belum akan pulih sepenuhnya dari kerusakan yang dialami selama perang AS-Israel melawan Iran bulan lalu hingga tahun depan, menurut laporan Financial Times.
ADNOC Gas, operator fasilitas pemrosesan gas Habshan, dalam pernyataannya pada Selasa mengungkapkan pihaknya sedang berupaya memulihkan kapasitas pemrosesan kompleks tersebut hingga 80 persen pada akhir 2026. Sementara pemulihan penuh diperkirakan baru tercapai pada 2027.
Fasilitas itu mengalami kerusakan dua kali pada awal April ketika Iran meningkatkan serangan balasannya terhadap infrastruktur energi milik sekutu AS di kawasan. Operasional pabrik sempat dihentikan dalam kedua insiden tersebut akibat puing-puing dari operasi pencegatan drone yang memicu beberapa kebakaran.
ADNOC Gas melaporkan laba bersih sebesar 1,079 miliar dolar AS pada kuartal pertama tahun ini, turun 15 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Perusahaan juga kehilangan peluang meraih keuntungan dari kenaikan harga minyak rata-rata karena tidak mampu mengirim gas alam cair (LNG) selama Maret.
Kerusakan yang Dialami UEA dalam Perang AS-Israel Melawan Iran
Pada periode 31 Maret hingga 3 April, Uni Emirat Arab mengalami eskalasi tajam serangan Iran sebagai balasan atas perang AS-Israel melawan Iran. Teheran menuduh Abu Dhabi mengizinkan wilayah udara dan daratnya digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran, yang sekaligus memperlihatkan kerentanan infrastruktur energi Teluk meski dilindungi sistem pertahanan udara canggih.
Pada 3 April, fasilitas pemrosesan gas Habshan di Abu Dhabi mengalami kerusakan besar setelah dihantam serangan drone Iran yang memicu kebakaran di lokasi tersebut. Otoritas setempat mengonfirmasi sebagian operasional pabrik terpaksa dihentikan dan dilakukan evakuasi darurat.
Fasilitas itu merupakan salah satu tulang punggung jaringan gas UEA sehingga memerlukan penghentian operasi sebagian secara langsung.
Kerusakan industri lainnya dilaporkan terjadi pada 5 April ketika kebakaran melanda infrastruktur petrokimia di kawasan industri Ruwais akibat operasi serupa yang diluncurkan Iran. Kompleks Borouge juga menghentikan sementara operasionalnya sambil melakukan penilaian kerusakan, sehingga menambah tekanan pada rantai produksi energi UEA.
Pada 16 April, gangguan terhadap pasokan energi mulai terlihat semakin nyata. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mengganggu jalur pelayaran regional, termasuk ekspor dan pengiriman LNG. Operasi yang terkait ADNOC juga dilaporkan mengalami keterlambatan dalam memulihkan kapasitas penuh setelah penghentian sebelumnya.
Pada 11 dan 12 Mei, evaluasi lebih luas terhadap dampak ekonomi konflik menunjukkan tekanan yang masih berlanjut, termasuk penurunan produksi dan tertundanya jadwal pemulihan fasilitas yang rusak. Meski sebagian infrastruktur telah kembali beroperasi sebagian, pemulihan penuh sejumlah fasilitas utama diproyeksikan baru selesai pada 2027.
UEA Disebut Diam-diam Menyerang Iran
Belakangan terungkap bahwa Uni Emirat Arab secara diam-diam melakukan serangan pemboman terhadap Iran selama perang AS-Israel melawan Republik Islam tersebut, menurut laporan The Wall Street Journal.
Mengutip sumber yang mengetahui persoalan itu, laporan tersebut menyebut salah satu serangan menghantam kilang minyak di Pulau Lavan, Iran, pada awal April. Serangan itu memicu kebakaran besar dan melumpuhkan sebagian kapasitas produksi kilang.
UEA hingga kini belum mengakui secara terbuka operasi tersebut.
Serangan itu terjadi bertepatan dengan pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump setelah agresi yang berlangsung selama lima pekan. Iran menyatakan kilang minyaknya diserang pihak musuh dan kemudian membalas dengan serangan rudal serta drone yang menyasar wilayah UEA dan Kuwait.
Para analis menilai serangan tersebut mencerminkan perubahan kebijakan UEA menuju keterlibatan militer yang lebih langsung, terutama setelah Iran meluncurkan ribuan rudal balasan ke wilayah Emirat.
Menurut sejumlah pejabat Teluk, serangan-serangan itu juga berdampak pada ekonomi UEA, termasuk gangguan terhadap sektor pariwisata, penerbangan, dan pasar properti. []
















































































