ORINEWS.id – Konflik di Iran mengancam rantai pasokan mineral penting bagi industri semikonduktor global. Kondisi ini mendorong kenaikan harga aluminium dan helium, serta menciptakan risiko signifikan bagi perusahaan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi.
Industri teknologi global berpotensi menjadi korban berikutnya dari konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Tekanan terhadap rantai pasokan semikonduktor dikhawatirkan akan menghambat perkembangan pesat AI. Konflik ini juga menyoroti peran penting kawasan tersebut sebagai pemasok mineral vital untuk pembuatan mikrochip.
Neil Shearing, kepala ekonom di Capital Economics, mengatakan semakin lama konflik berlangsung, semakin besar risiko terganggunya pasokan bahan penting, termasuk helium yang digunakan dalam industri semikonduktor.
Seorang anggota parlemen Korea Selatan juga memperingatkan bahwa perang dengan Iran dapat mengganggu pasokan bahan baku mikrochip dan mengancam industri semikonduktor negara tersebut. Kekhawatiran ini turut menekan saham perusahaan teknologi besar seperti Samsung dan SK Hynix, yang dilaporkan mengalami penurunan signifikan di indeks KOSPI.
Kedua perusahaan tersebut, bersama Micron Technology, merupakan pemasok utama chip memori dunia untuk pusat data dan AI. Produk mereka digunakan oleh perusahaan teknologi besar seperti Nvidia, Microsoft, dan Apple.
Pasokan bahan baku menjadi sorotan utama. Qatar diketahui menyumbang lebih dari sepertiga pasokan helium global, yang penting dalam proses manufaktur semikonduktor. Namun, penutupan Kawasan Industri Ras Laffan milik QatarEnergy akibat serangan drone telah menghentikan produksi helium.
Selain itu, Israel dan Yordania berkontribusi besar terhadap produksi bromin global, bahan penting lain dalam industri semikonduktor. Sementara itu, Timur Tengah menyumbang sekitar 8 persen produksi aluminium dunia dan sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk distribusi.
Sejumlah produsen di kawasan tersebut bahkan telah menyatakan keadaan kahar (force majeure), yang berarti tidak dapat memenuhi kontrak. Harga aluminium pun melonjak hingga mencapai level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Ewa Manthey, ahli strategi komoditas di ING, menyebut gangguan rantai pasokan sudah terlihat melalui penundaan dan pengalihan pengiriman. Kondisi ini terjadi di tengah lonjakan permintaan chip yang didorong oleh pengembangan infrastruktur AI.
Direktur riset teknologi global di Wedbush Securities, Dan Ives, mengatakan konflik berkepanjangan akan menjadi kekhawatiran besar bagi investor teknologi, terutama jika berlanjut hingga beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, sebagian produsen chip disebut masih memiliki cadangan bahan baku. Perusahaan seperti GlobalFoundries dan TSMC menyatakan terus memantau situasi serta menyiapkan langkah mitigasi.
Ekonom Capital Economics, David Oxley, memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz atau kerusakan fasilitas LNG di Qatar dapat berdampak besar pada rantai pasokan global.
Presiden Quantum Strategy, David Roche, menambahkan bahwa pemulihan rantai pasokan dapat memakan waktu hingga enam bulan meskipun produksi kembali normal. Ia menyebut krisis ini sebagai gangguan bahan baku kritis yang berdampak luas pada sektor teknologi, kesehatan, dan sains.
Selain itu, laporan juga menyebut Iran mulai menargetkan perusahaan teknologi Amerika di kawasan Timur Tengah melalui serangan drone dan siber, yang dilaporkan berdampak pada operasional perusahaan seperti Amazon dan Stryker. []














































































