ORINEWS.id – Pemerintah Iran menyatakan tidak takut dengan pengerahan militer Amerika Serikat (AS), termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menegaskan Teheran tidak akan menghentikan pengayaan uranium meski menghadapi ancaman perang dari Washington.
“Pengerahan militer mereka di kawasan ini tidak membuat kami takut,” kata Araghchi dalam forum di Teheran yang dihadiri AFP, dikutip Senin (9/2/2026).
Ia menambahkan, “Mengapa kami bersikeras pada pengayaan dan menolak menghentikannya bahkan jika perang dipaksakan kepada kami? Karena tidak ada yang berhak mendikte perilaku kami.”
Araghchi juga menyatakan Iran kurang percaya pada niat AS dan meragukan keseriusan Washington dalam menanggapi negosiasi yang diperbarui. Iran sedang berkonsultasi dengan mitra strategisnya, China dan Rusia, terkait perundingan nuklir tersebut.
Negosiasi antara AS dan Iran kembali digelar di Oman pada Jumat lalu, untuk pertama kalinya sejak perang 12 hari Israel dengan Teheran pada Juni tahun lalu. Iran berupaya agar sanksi ekonomi AS dicabut, sebagai imbalan atas “langkah-langkah membangun kepercayaan terkait program nuklir,” kata Araghchi.
“Negara-negara Barat dan Israel takut akan bom atom kami, sementara kami tidak mencarinya. Bom atom kami adalah kekuatan untuk mengatakan ‘tidak’ kepada kekuatan-kekuatan besar,” ujar Araghchi.
Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mengecam apa yang ia sebut sebagai “upaya rezim paling ekstrem di dunia untuk memperoleh senjata paling berbahaya di dunia,” dan menegaskan hal itu merupakan “ancaman nyata bagi perdamaian.”
AS dan Israel mendorong agar negosiasi mencakup isu rudal balistik Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok bersenjata di kawasan, yang ditolak Iran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump pada Rabu ini untuk menekankan hal tersebut.
Komentar Araghchi muncul setelah negosiator utama AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengunjungi USS Abraham Lincoln pada Sabtu lalu. Witkoff menyatakan melalui media sosial, “Kapal induk dan kelompok serangnya menjaga kita tetap aman dan menjunjung tinggi pesan Presiden Trump tentang perdamaian melalui kekuatan.”
Meskipun ancaman perang masih membayangi, Trump menilai pembicaraan tersebut “sangat baik,” dan Presiden Iran Masoud PezeshKian menyebutnya sebagai “langkah maju.” Namun, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk memberlakukan tarif terhadap negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran, dan AS mengumumkan sanksi baru terhadap sejumlah entitas dan kapal pengiriman, untuk membatasi ekspor minyak Iran.
“Kelanjutan sanksi dan tindakan militer tertentu menimbulkan keraguan tentang keseriusan pihak lain dalam negosiasi,” kata Araghchi. “Kami memantau situasi dengan cermat, menilai semua sinyal, dan akan memutuskan kelanjutan negosiasi.” []
















































































