ORINEWS.id – Partai Demokrat Aceh dinilai berada pada fase paling krusial sepanjang kiprah politiknya di Tanah Rencong. Pemilihan Ketua DPD Demokrat Aceh tidak lagi sekadar agenda rutin organisasi, melainkan penentu arah hidup-mati partai di tengah kuatnya dominasi partai lokal dan ketatnya kompetisi politik daerah.
Peneliti e-TRUST, Indra Azwal, menilai Demokrat Aceh berisiko kehilangan relevansi jika kembali mengulang pola kepemimpinan lama yang dinilai gagal beradaptasi dengan perubahan lanskap politik Aceh.
“Demokrat Aceh hari ini tidak sedang baik-baik saja. Salah memilih ketua berarti menyerahkan partai ini pada kemunduran permanen,” kata Indra, Senin (2/2/2026).
Menurut Indra, ketergantungan pada figur lama justru berpotensi menjadi jebakan. Ia menyinggung nama Nova Iriansyah yang meski memiliki pengalaman panjang, disebut masih membawa beban politik yang belum tuntas. Fakta bahwa Nova tidak memperoleh dukungan mayoritas DPC pada Musda Demokrat Aceh 2021, ketika masih menjabat Gubernur Aceh, dinilai sebagai indikator lemahnya kepercayaan internal.
“Jika saat berada di puncak kekuasaan saja tidak dipercaya kader, bagaimana mungkin Demokrat berharap bangkit dengan mengulang resep lama yang sudah gagal?” ujarnya.
Selain itu, Indra juga mengingatkan risiko masuknya figur eksternal ke dalam struktur partai. Ia menyebut kemunculan nama Illiza Sa’aduddin Djamal membuka peluang terjadinya pembajakan organisasi secara struktural.
“Ini bukan soal figur perempuan atau elektabilitas. Ini soal risiko Demokrat Aceh dijadikan kendaraan politik pribadi. Jika gerbong eksternal menguasai struktur, kader lama akan tersingkir, konflik internal tak terhindarkan,” kata Indra.
Sementara HT Ibrahim atau Bram dinilai merepresentasikan loyalitas kader, namun belum memiliki daya dorong politik yang memadai di tingkat lintas partai.
“Loyalitas yang tidak diiringi kemampuan komunikasi lintas partai hanya akan mengurung Demokrat dalam isolasi politik,” ujar Indra, seraya menyinggung kegagalan Bram menembus posisi pimpinan DPRA meski telah diusulkan secara resmi oleh partai.
Di tengah kondisi tersebut, Indra menyebut Nurdiansyah Alasta sebagai opsi yang paling rasional. Politisi muda yang kini menjabat Ketua Komisi IV DPRA itu dinilai memiliki modal yang selama ini hilang dari Demokrat Aceh, yakni diterima lintas fraksi, mampu membangun dialog dengan partai lokal, serta tidak terikat kepentingan lama.
“Kritik bahwa ia terlalu muda hanyalah dalih untuk mempertahankan status quo. Justru Demokrat Aceh terlalu lama dipimpin oleh wajah lama yang gagal membaca perubahan,” tegasnya.
Indra menutup pernyataannya dengan peringatan bahwa kegagalan melakukan regenerasi akan berdampak serius bagi masa depan Demokrat Aceh.
“Jika Demokrat Aceh kembali memilih nostalgia atau membiarkan partai ini dibajak kepentingan eksternal, maka jangan salahkan siapa pun ketika Demokrat berubah menjadi partai papan bawah di Aceh. Regenerasi bukan lagi pilihan—ini adalah jalan terakhir.” []













































































