TERBARU

Ekonomi

Meski Ekonomi Aceh Tumbuh, 157 Ribu Warga Masih Menganggur

ORINEWS.id, BANDA ACEH – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat perekonomian Aceh pada Triwulan II 2026 tumbuh 4,86 persen secara tahunan (year on year/y-on-y). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 4,09 persen.

Kepala BPS Aceh Agus Andria menyampaikan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh atas dasar harga berlaku pada Triwulan II 2026 mencapai Rp69,69 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp41,46 triliun.

“Secara triwulanan (quarter to quarter/q-to-q), ekonomi Aceh juga kembali tumbuh positif sebesar 3,77 persen setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi,” ujar Agus saat menyampaikan rilis resmi BPS Aceh di Banda Aceh, Rabu (5/8/2026).

Menurut Agus, pertumbuhan ekonomi tersebut didorong meningkatnya aktivitas di sejumlah sektor produksi dan konsumsi.

Dari sisi produksi, peningkatan terjadi pada hasil peternakan sapi dan kerbau menjelang Iduladha, penjualan semen untuk sektor konstruksi, produksi batu bara, hingga industri pengolahan migas di PAG.

Selain itu, aktivitas perdagangan, transportasi, dan akomodasi turut meningkat seiring momentum libur nasional serta bertambahnya pasokan barang domestik maupun impor.

Sementara dari sisi pengeluaran, peningkatan daya beli masyarakat dipicu oleh momentum hari besar keagamaan, pencairan tunjangan hari raya (THR), gaji ke-13 aparatur sipil negara (ASN), serta meningkatnya belanja pendidikan menjelang tahun ajaran baru.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penyaluran bantuan pascabanjir, dan meningkatnya ekspor batu bara juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh.

Pertanian Masih Dominasi Struktur Ekonomi

BPS mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penopang utama perekonomian Aceh dengan kontribusi sebesar 31,16 persen terhadap total PDRB.

Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 15,35 persen, administrasi pemerintahan 9,18 persen, konstruksi 8,88 persen, serta transportasi dan pergudangan 7,12 persen.

Adapun dari sisi pertumbuhan, sektor konstruksi menjadi yang tertinggi dengan laju 13,36 persen, disusul jasa keuangan dan asuransi sebesar 12,32 persen.

Di tingkat regional, Aceh memberikan kontribusi sekitar 4,78 persen terhadap total perekonomian Pulau Sumatera.

Penduduk Miskin Bertambah

Agus juga mengungkapkan, di balik pertumbuhan ekonomi tersebut, jumlah penduduk miskin di Aceh masih mengalami peningkatan.

Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026, persentase penduduk miskin naik dari 12,22 persen pada September 2025 menjadi 12,34 persen pada Maret 2026.

Jumlah tersebut setara dengan 713,78 ribu jiwa, atau bertambah sekitar 10,40 ribu orang dibandingkan September 2025 yang tercatat sebanyak 703,33 ribu jiwa.

Kenaikan angka kemiskinan terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.

Di daerah perdesaan, persentase penduduk miskin meningkat dari 14,51 persen menjadi 14,66 persen. Sementara di wilayah perkotaan naik dari 8,15 persen menjadi 8,27 persen.

BPS juga mencatat garis kemiskinan pada Maret 2026 naik menjadi Rp742.464 per kapita per bulan, meningkat 3,83 persen dibandingkan September 2025.

Meski demikian, indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan justru mengalami perbaikan.

Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun dari 2,055 menjadi 1,961, sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menurun dari 0,523 menjadi 0,460.

Sementara itu, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk yang diukur melalui Gini Ratio tercatat sebesar 0,275, naik tipis dibandingkan September 2025 yang berada di angka 0,274.

Tingkat Pengangguran Terbuka Naik Menjadi 5,89 Persen

Selain merilis pertumbuhan ekonomi, Agus juga memaparkan kondisi ketenagakerjaan Aceh berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026.

Jumlah penduduk usia kerja di Aceh mencapai 4,20 juta orang. Dari jumlah tersebut, 2,67 juta orang merupakan angkatan kerja, sedangkan 1,53 juta orang masuk kategori bukan angkatan kerja.

Penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 2,52 juta orang, sementara jumlah pengangguran mencapai 157,48 ribu orang.

Dibandingkan Februari 2026, jumlah penduduk bekerja bertambah sekitar 15 ribu orang, sedangkan jumlah pengangguran meningkat sekitar 1.000 orang.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Aceh pada Mei 2026 mencapai 63,59 persen, dengan TPAK laki-laki sebesar 80,74 persen dan perempuan 46,50 persen.

Adapun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Aceh tercatat sebesar 5,89 persen, yang berarti terdapat sekitar lima hingga enam orang menganggur dari setiap 100 angkatan kerja.

TPT laki-laki mencapai 6,17 persen, lebih tinggi dibanding perempuan sebesar 5,41 persen, sedangkan tingkat pengangguran di kawasan perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan.

Agus menyebutkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan porsi 39,31 persen, disusul perdagangan besar dan eceran 14,77 persen, serta industri pengolahan 7,12 persen.

Mayoritas penduduk bekerja berstatus buruh, karyawan, atau pegawai dengan persentase 33,07 persen. Berdasarkan status pekerjaan utama, sebanyak 62,12 persen bekerja di sektor informal, sedangkan pekerja formal mencapai 37,88 persen. Penduduk bekerja masih didominasi lulusan SMA dengan proporsi 36,76 persen.[]

Apa reaksi Anda?

Komentari!

Artikel Terkait

Load More Posts Loading...No more posts.